Enam Penyebab Kekafiran Menurut Syekh as-Sanusi

0
551

BincangSyariah.Com – Darimana kekafiran muncul? Bagaimana bentuk bentuk kekafiran menurut Syaikh as-Sanusi penulis kitab Umm al-Barahin? Menurut Syekh as-Sanusi, kekafiran dapat muncul karena sebab enam hal.

Pertama, menyandarkan adanya sesuatu (Ka’inat) kepada Allah melalui jalur sebab (Ta’lil) dan tabiat tanpa mengaitkan bahwa hal tersebut merupakan ikhtiar/usaha Allah. Pemahaman semacam ini disebut dengan istilah “Ijab Dzati”. Paham ini dipegang oleh kalangan falasifah yang menjadikan setiap dzat merupakan pelaku (dengan sendirinya) sehingga menafikan adanya kekuasaan (sifat Qudrah) dan kehendak (sifat Iradah) Allah. (Kajian Tauhid: Memahami Sifat Qudrah bagi Allah)

Sebagai seorang mukmin seharusnya kita meyakini bahwa api (misalnya) tidak membakar secara natural dengan watak atau kekuatannya sendiri, yang dititipkan oleh Allah pada api, melainkan sifat panas dan membakar yang dimiliki api, murni merupakan hasil kehendak, ciptaan, dan bukti akan kekuasaan Allah. Adanya segala sesuatu (Ka’inat) merupakan hasil dari usaha atau ikhtiar yang dilakukan oleh Allah.

Kedua, keyakinan bahwa perbuatan Allah pasti terikat tujuan menarik kemaslahatan dan menolak keburukan, paham semacam ini disebut sebagai “Tahsin Aqli”. Kaum barahimah meyakini adanya tahsin aqli sehingga mereka menafikan adanya kenabian (Nubuwwah). Tahsin aqli juga menjadi sumber kekafiran golongan muktazilah yang mewajibkan Allah untuk memelihara kebaikan (Muro’ah as-Shalah wa al-Ashlah).

Dalam kepercayaan Sunni (Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah), perbuatan Allah (sebagai Tuhan) sama sekali tidak bertujuan menarik kebaikan atau menolak keburukan. Allah (mengingat kedudukannya sebagai Tuhan) merupakan pelaku yang boleh berbuat apapun sekehendaknya, independen, dan maha kuasa atas segala sesuatu.

Ketiga, mengikuti pandangan orang lain sebab sektarianisme dan fanatisme (Ashabiyah) tanpa disertai usaha mencari tahu kebenaran yang sesunguhnya, atau yang disebut oleh as-Sanusi sebagai Taklid Buta (at-Taqlid ar-Radi). Paham semacam ini (seperti misalnya) dipegang oleh para penyembah berhala, mereka beralasan bahwa para pendahulu, serta nenek moyang mereka melakukan hal tersebut sehingga mereka merasa berkewajiban untuk melestarikan ajaran mereka.

Keempat, tetapnya hubungan antara wujud maupun ketiadaan perkara satu dengan perkara lainya berdasar pengulangan atau yang disebut sebagai hubungan yang bersifat kebiasaan (ar-Rabth al-‘Adi). Paham ini dipegang oleh kalangan pemuja tabiat (Thaba’i’in) yang menghubungkan rasa kenyang dengan makanan, membakar dengan api, dan sebagainya. Mereka berpandangan bahwa hubungan semua hal tersebut terjadi secara natural (tabiat), atau melalui kekuatan atau daya yang Allah letakkan pada benda tersebut.

Kelima, tidak menyadari akan ketidaktahuannya terhadap kebenaran, hal semacam ini lumrah dikenal sebagai Kebodohan Bertingkat (Jahl Murakkab). Kebanyakan manusia mengalami hal ini. Diantaranya seperti keyakinan kalangan falasifah yang meyakini bahwa cakrawala bintang dapat mempengaruhi nasib (semacam ramalan bintang) dan keyakinan mereka bahwa cakrawala alam semesta bersifat qidam (ada tanpa permulaan).

Keenam, berpegang pada lahiriyah al-Kitab dan Sunnah tanpa disertai dengan petunjuk akal dan kaidah kaidah syara’ yang sudah bersifat pasti (Qat’i). Satu contoh dari kalangan ini ialah orang orang Hasywiyah yang berpaham Allah menyerupai makhluk (Tasybih), Allah memiliki jisim atau anggota tubuh (Tajsim), dan menetapkan adanya arah bagi Allah. Mereka memiliki pandangan semacam itu karena semata berpegang pada zahir ayat, tanpa disertai takwil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here