Enam Macam Pengalaman Batin Sufi Terhadap Tuhannya

0
1339

BincangSyariah.Com – Sufi adalah seseorang yang memiliki tingkatan spiritual yang tinggi, mereka golongan hamba Allah yang berharap bisa mendekat kepada-Nya sedekat-dekatnya. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman bahwa sesungguhnya Dia sangat dekat dengan hamba-Nya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,(QS. Qaf; 16)

Namun pengalaman batin sufi terhadap Tuhannya berbeda-beda. Sebab pengalaman spiritual merupakan sesuatu yang sangat personal. Ketika meniti jalan mendekat kepada Rabb-nya itulah para sufi mengalami pengalaman batin. Beberapa pengalaman batin sufi akan kita bahas satu persatu;

Pertama, Ittihad merupakan pengalaman batin yang dirasakan Abu Yazid al-Bustami. Ittihad sendiri merupakan penyatuan batin dengan Tuhan, ketika sifat kemanusiaannya (hasud, iri, dengki dan lain-lain) hancur dan hanya menyisakan sifat ketuhanan (sisat-sifat baik). Maka pada saat itulah jiwa seorang sufi seakan menyatu menuju Tuhannya.

Kedua, Hulul. Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Sifat ketuhanan tersebut dapat dilihat dari penafsiran Al-Hallaj mengenai kejadian Adam (QS. Al-Baqarah; 24)

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya; “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah; 34)

Ketiga, Insan Kamil.  Ibnu Arabi dan Abdul Karim al-Jili menyebut sufi yang memiliki pengalaman batin dengan Tuhannya sebagai Insan Kamil. Maksudnya penampakan diri Tuhan meliputi nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam diri manusia. Insan Kamil Merujuk pada manusia yang memiliki sifat yang paripurna sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam bentuk ahsani taqwim (ciptaan yang sempurna).

Baca Juga :  Agar Hidup Penuh dengan Kebaikan dan Cinta, Renungi Syair Sufi Ini

Keempat, Ma’rifat. Istilah yang dimunculkan oleh al-Ghazali untuk menggambarkan seseorang yang mampu menyingkap tabir-tabir cahaya Ilahi. Dimana antara sang sufi dan Tuhannya tiada tabir yang menghalangi. Seseorang yang sampai pada tingkat ini, mampu menyingkap tabir rahasia-rahasia Allah dalam kehidupan ini.

Kelima, Mahabbah. Merupakan pengalaman batin yang dirasakan oleh Rabiah Adawiyah, di mana ia merasakan rasa cinta yang luar biasa kepada Allah. Penghambaannya kepada Allah bukan karena berharap surga atau takut neraka, tapi karena hatinya hanya penuh kecintaaan kepada Allah.

Keenam, Wihdatul Wujud. Pencapaian tertinggi yang diidamkan bagi seorang sufi adalah bersatunya sang pecinta dan yang dicinta. Maka konsep penyatuan ini sejatinya bagi Ibnu Arabi menyebutnya dengan istilah Wahdat al-Wujud dan hanya Insan Kamil yang dapat merasakannya.

Terdapat perbedaan besar antara sufi dan orang awam dalam memahami Tuhan. Maka reaksi yang dihasilkan dari pengalaman spiritual tersebut pun berbeda. Al-Ghazali menyebutkannya mumayyizah atau menemukan kesadaran dalam dirinya akan keagungan Tuhannya. Ibnu Arabi menyebut al-Hayah atau muncul kemaluan dalam dirinya ketika ia mulai mengenal Tuhannya. Demikianlah pengalaman setiap orang berbeda-beda tergantung tingkat spiritualitasnya.

*Catatan kuliah Approaches to Islamic Studies di Sps UIN Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here