Enam Hal Tidak Disyariatkan Diawali dengan Basmalah

0
1092

BincangSyariah.Com – Saat kita hendak memulai pekerjaan yang mengandung unsur kebaikan, baik berupa perbuatan atau perkataan, maka kita dianjurkan untuk memulainya dengan membaca basmalah. Hal ini agar perbuatan dan perkataan tersebut mendapatkan keberkahan dari Allah. Ini berdasarkah hadis riwayat Imam Ahmad, bahwa Nabi Saw bersabda;

كُلُّ كَلَامٍ أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ – أَوْ قَالَ : أَقْطَعُ

Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan zikir pada Allah, maka terputus berkahnya.

Namun demikian, tidak semua perbuatan dan perkataan disunnahkan memulainya dengan basmalah. Ada sebagian perbuatan dan perkataan yang tidak disunnahkan memulainya dengan bacaan basmalah. Menurut Imam Al-Qarafi dalam kitab Anwarul Buruq fi Anwa’il Furuq, ada enam hal yang tidak disyariatkan memulainya dengan basmalah.

Pertama, berupa ibadah yang sudah ada kalimat pembukanya selain basmalah. Misalnya, adzan dan shalat. Kalimat pembuka dari kedua ibadah ini adalah kalimat takbir. Sehingga jika seseorang hendak mengumandangkan adzan atau melaksanakan shalat, maka dia tidak disyariatkan memulainya dengan membaca basmalah. Mengucapkan takbir sudah cukup menjadi awal dan pembuka dari kedua ibadah ini.

Kedua, zikir murni. Misalnya, kalimat tahlil, tasbih atau shalawat kepada Nabi Saw. Karena itu, jika seseorang hendak berdzikir dengan kalimat tahlil, tasbih atau hendak membaca shalawat kepada Nabi Saw, maka dia tidak mengapa untuk tidak memulainya dengan membaca basmalah.

Ketiga, perbuatan atau perkataan tidak penting. Misalnya, hendak bermain kelereng, maka tidak disyariatkan memualainya dengan basmalah. Atau hendak mengobrol dengan teman, maka juga tidak disyariatkan memulainya dengan basmalah.

Keempat, perbuatan yang diharamkan. Misalnya, zina, minum khamr, atau makan bangkai. Jika seseorang hendak melakukan perbuatan yang diharamkan, maka dia tidak syariatkan memulainya dengan membaca basmalah.

Baca Juga :  Terapi Ulama untuk Menghindar dari Berlebihan dalam Berbicara

Kelima, perbuatan yang makruh dikerjakan. Misalnya, merokok. Jika seseorang hendak merokok, maka dia tidak disyariatkan membaca basmalah. Begitu juga dengan semua perbutakan makruh lainnya.

Keenam, perbuatan mubah yang tidak hina namun juga tidak mengandung nilai baik. Misalnya, duduk atau berdiri. Jika seseorang hendak duduk atau berdiri, maka dia tidak disyariatkan memulainya dengan membaca basmalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here