Empat Tipe Pemerintahan Menurut Al-Ghazali

0
326

BincangSyariah.Com – Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i atau yang biasa dikenal dan disebut sebagai Al-Ghazali saja, memiliki pemikiran tentang pemerintahan. Empat tipe pemerintahan menurut Al-Ghazali tertuang dalam buku Antony Black yang berjudul Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini (2001).

Sistem pemerintahan adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk menjaga suatu kestabilan negara. Sistem pemerintahan mesti memiliki fondasi yang kuat di mana tidak bisa diubah dan menjadi statis.

Apabila sebuah pemerintahan telah berhasil menerapkan sistem yang yang statis dan absolut, maka hal tersebut tidak akan berlangsung selama-lamanya sampai kemudian muncul desakan kaum minoritas untuk memprotes hal tersebut.

Secara luas, sistem pemerintahan mestinya mampu menjaga kestabilan masyarakat, menjaga tingkah laku kaum mayoritas dan minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan politik, pertahanan, ekonomi, keamanan sehingga menjadi sistem pemerintahan yang kontinu.

Secara sempit, sistem pemerintahan hanya berfungsi sebagai sarana sebuah kelompok untuk menjalankan roda pemerintahan. Tujuannya adalah untuk menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif.

Lantas, bagaimana pemerintahan menurut Al-Ghazali di mana pada saat Al-Ghazali hidup, sistem pemerintahan yang berlaku pada saat itu adalah sistem pemerintahan monarki. Antony Black mencatat pemikiran Al-Ghazali dalam bukunya sebagai berikut:

Pemerintahan atau siyasah menurut Al-Ghazali dibedakan menjadi empat jenis atau tipe. Pertama, profetik. Kedua, pemerintahan khalifah, raja dan sultan. Ketiga, pemerintahan ulama. Keempat, pemerintahan pengkhotbah.

Tipe pemerintahan pertama adalah pemerintahan yang mengatur kehidupan internal atau batin dan eksternal yang berhubungan dengan fisik atau lahir, golongan elit yang disebut Al-Ghzali sebagai al-khassah dan rakyat biasa yang disebut sebagai al-ammah.

Tipe pemerintahan yang kedua mengatur kehidupan eksternal kedua golongan. Tipe pemerintahan yang ketiga mengatur kehidupan internal golongan elit dan tipe yang keempat mengatur kehidupan internal rakyat kebanyakan.

Baca Juga :  Imam Al-Ghazali Berpesan Jangan Sampai Lupa Dibaca Seiap Waktu Doa Ini

Empat jenis pemerintahan tersebut, menurut Al-Ghazali, saling melengkapi dan ada bersama. Empat tipe pemerintaha menurut Al-Ghazali tidka hadir sebagai alternative atau saling bertentangan satu sama lain.

Jenis yang paling mulia adalah tipe pemerintahan yang pertama yakni tipe pemerintahan profetik. Pemerintahan tipe ini diikuti oleh siyasah yang berhubungan dengan pengetahuan dan jiwa manusia yakni ta’lim otoratif.

Sementara itu, tipe pemerintahan yang kedua, ketiga, dan keempat sama-sama melibatkan proses ta’lim yang meliputi seruan kepada kebaikan dan larangan dari keburukan. Seruan yang dimaksud bisa dilakukan dengan ajakan atau paksaan. Bagi Al-Ghazali, otoritas tersebut sangat penting untuk berlangsungnya keteraturan politik.

Dalam pembahasan tentang empat tipe pemerintahan menurut Al-Ghazali ini, agama dan otoritas politik adalah dua hal yang saling melekat satu sama lain. Kesepakatan yang dicapai perlu melalui pemahaman yang sama, meskipun berangkat dari tingkat pemahaman yang berbeda-beda terhadap tujuan dan tugas keagamaan.

Al-Ghazali menekankan bahwa Sultan harus menerima nasihat dari para ulama terkemuka di negerinya. Termasuk juga nasihat dari kalangan spiritual, para sufi dan jiwa-jiwa sejati yang mampu mencapai ma’rifat yang mempunyai peran khusus dalam peraturan negara.

Al-Ghazali berpendapat bahwa kehidupan di dunia adalah ladang menanam kebaikan untuk kehidupan di akhirat kelak. Karena landasan pemikiran itulah, menurut Al-Ghazali, negara membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjamin penyelenggaraan berbagai profesi di dalam masyarakat.

Sederhananya, bagi Al-Ghazali, agama dan negara adalah dua anak kembar yang tidak terpisahkan. Agama dipimpin oleh Nabi dan negara dipimpin oleh Sultan. Kedua-duanya merupakan manusia yang dipilih oleh Tuhan. Selain itu, Al-Ghazali juga mencetuskan bahwa Sultan adalah bayangan Allah Swt. di muka bumi.[] (Baca: Sepuluh Nasihat kepada Pemimpin dari Imam al-Ghazali)

Baca Juga :  Sampai Kapanpun, Santri Zaman Now Tetap Harus Mengedepankan Akhlak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here