Empat Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

0
5429

BincangSyariah.Com – Pemahaman akan Tuhan adalah sesuatu yang sentral bagi seorang muslim. Islam, yang membawa doktrin tauhid, dituntut untuk menjelaskan bagaimana maksud ajaran tauhid secara rasio. Pembahasan tentang ini dikenal dengan ilmu kalam. Salah satu aliran terpenting dalam ilmu kalam adalah Mazhab Asy’ariyah. Mazhab ini menjelaskan secara logis (aqli; hal yang ketidakadaannya dianggap mustahil oleh akal) bahwa harus ada Tuhan Yang Esa.

Dr. Abu al-Ala Afifi menerangkan bahwa pembahasan tentang Tuhan pada akhirnya mengantarkan ulama saat itu kepada pemahaman bahwa Tuhan adalah wujud hakiki dan yang lain adalah wujud artifisial karena yang lain itu tidak harus ada (mumkin al-wujud). Konsekuensinya: alam adalah ketiadaan karena yang hakiki hanyalah Allah SWT.

Pemahaman ini secara teoretis pada akhirnya dielaborasi secara ilmiah oleh seorang ahli kalam, ahli tasawuf secara ‘ilmi dan ‘amali, serta ahli fikih (sebuah kombinasi keahlian yang hampir tidak ada saat itu) yakni al-Ghazali dalam karyanya, Ihya’ Ulum al-Din. Beliau mengatakan bahwa tauhid memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertama adalah mengakui keesaan Tuhan dengan lisan tapi tidak dengan hati. Kedua, meyakini keesaan Tuhan dengan hati seperti halnya mayoritas orang awam. Ketiga, menyaksikan keesaan Tuhan dengan cara menyingkapnya melalui cahaya kebenaran. Keempat, tidak melihat eksistensi kecuali keesaan. Beliau berkata:

بمعنى أنه لم يحضر في شهوده غير واحد فلا يرى الكل من حيث إنه كثير بل من حيث إنه واحد وهذه هي الغاية القصوى في التوحيد

“Maksudnya adalah yang hadir dalam penglihatannya hanya ketunggalan. Oleh karena itu ia tidak memandang segala sesuatu sebagai hal yang bermacam-macam, akan tetapi sebagai suatu hal yang tunggal. Keyakinan ini adalah puncak tertinggi dalam tauhid.”

Baca Juga :  Salah Paham Negara Agama atas Pernyataan Al-Ghazali

Menurut beliau derajat ini yang dinamakan dengan fana’. Menurut beliau orang yang sampai pada derajat ini akan melihat Yang Maha Benar (al-Haqq) dalam segala sesuatu. Syekh Ihsan Jampes dalam Siraj al-Thalibin menganalogikan tingkatan ini dengan orang yang silau karena cahaya matahari memenuhi seluruh ufuk. Meskipun orang ini hanya melihat cahaya matahari, namun sah-sah saja jika dia berkata bahwa dia sedang melihat matahari. Karena cahaya yang memancar itu pada hakikatnya adalah matahari. Begitu juga eksistensi (al-wujud), meskipun itu hanya penampakan Allah SWT (anwar al-qudrat al-azaliyah) namun sah-sah saja jika seorang sufi mengatakan bahwa ia sedang menyaksikan-Nya. Pandangan ini biasa disebut wahdat al-wujud atau panteisme.

Pandangan serupa juga diungkapkan Ibn ‘Arabi. Beliau berpandangan bahwa setiap wujud selain Allah SWT adalah wujud khayali (wujud fiktif). Lebih jauh lagi Ibn Arabi mengatakan bahwa semua sesembahan adalah penampakan Tuhan. Meskipun mereka memiliki nama yang berbeda, seperti pohon, batu, atau bintang, namun mereka tetap dinamakan Tuhan (Fushush al-Hikam, hlm 195). Wallahu a’lam.

Mengenai penalaran hal ini beliau menjelaskan dalam al-Futuhat al-Makkiyah:

“Allah tidak menciptakan mereka kecuali agar mereka menyembahnya. Namun Allah juga memberi mereka ikhtiar. Ketika Allah memberi mereka ikhtiar, terkadang hal ini justru membuat mereka melenceng dari tujuan awal mereka diciptakan, yakni ibadah. Ketika Allah Yang Maha Benar mengetahui hal itu, maka Dia menampakkan diri-Nya ke dalam bentuk segala sesuatu. Allah mengabarkan ini kepada hamba-hamba-Nya: kemanapun kamu menghadap maka di situlah ‘wajah’ Allah.”

Karena dengan ikhtiar seseorang justru menyembah yang lain, maka Allah menampakkan dirinya ke dalam segala sesuatu. Maka segala yang manusia sembah pada haikaktnya adalah Dia. Pandangan ini biasa disebut sebagai wahdat al-adyan. Pandangan ini hendak menyatakan bahwa pada hakikatnya seluruh realitas yang kita sembah ini adalah Tuhan yang sama. Di tradisi filsafat Barat pandangan-pandangan semacam ini bisa dengan mudah ditemui dalam literatur-literatur iluminasi Neo-Platonik atau panteisme Baruch Spinoza.

Baca Juga :  Ibnu Taymiyyah dan Soal Diutusnya Buddha Menjadi Nabi

Dalam menjelaskan wahdat al-adyan ini, Ibn Arabi menggubah sebuah syair dalam Dzakhair al-A’laq:

لقد كنت قبل اليوم أنكر صاحبي # إذا لم يكن ديني إلى دينه داني

لقد صارَ قلـبي قابلاً كلَ صُـورةٍ # فـمرعىً لغـــــزلانٍ ودَيرٌ لرُهبـَــــانِ

ِوبيتٌ لأوثــانٍ وكعـــبةُ طـائـــفٍ # وألـواحُ تـوراةٍ ومصـحفُ قــــــرآن

“Aku dulu mengingkari kawanku, karena agamaku dan agamanya tidaklah dekat. Namun kini hatiku bisa menerima segala bentuk. (Hatiku adalah) padang gembala bagi para penggubah ghazal, kuil bagi pendeta, rumah bagi berhala, kakbah bagi ia yang tawaf. (Hatiku juga bisa menjadi) lembaran taurat dan juga mushaf bagi Alquran.”

Tampak sekali bahwa Ibn Arabi dengan lapang dada mengakui keberagaman atau dalam bahasa lain beliau memandang seluruh agama sebagai satu entitas yang sama: menyembah sesembahan yang sama. Paham ini bisa menjadi gurun tanpa ujung bagi mereka yang haus akan fatamorgana monoreligius yang penuh kesemuan.

Abu Sa’id Abu al-Khair mengatakan bahwa pada hakikatnya semua agama langit adalah sama-sama menuju Tuhan, yang membuat terjadinya perbedaan hanyalah sifat-sifat insan. Beliau menganalogikan penganut agama seperti kafilah musafir yang memiliki tujuan sama. “Di tengah perjalanan,” ujar beliau dalam Asrar al-Tauhid, “terkadang muncul perubahan di antara mereka dan terkadang pula kondisi mereka menjadi tidak menentu.” Namun hal ini, menurut beliau, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka semua masih menuju tempat yang sama tapi dengan jalan yang berbeda-beda.

Lalu, bagaimana menyikapi tarekat-tarekat tasawuf yang berlainan dan bermacam-macam? Bukankah itu indikasi bahwa wahdat al-adyan tidak holistik?

Dalam menjelaskan ini, Ibn al-Bana al-Sarqusti seorang sufi dan ahli fikih dari Zaragoza pernah membuat rajaz yang cantik:

مذاهب الناس على اختلاف # ومذهب القوم على ائتلاف

Baca Juga :  Ini Pendapat Empat Mazhab Soal Kapan Menikah Jadi Wajib

“Mazhab kebanyakan orang dibangun atas perbedaan, sedangkan mazhab kaum sufi dibangun atas keserasian.”

Ibn ‘Ajibah dalam al-Futuhat al-Ilahiyah mengatakan tentang maksud bait ini bahwa mazhab-mazhab tasawuf dibangun atas persamaan tujuan dan amal, meskipun jalannya berbeda-beda. Seluruh jalan tasawuf akan kembali kepada kesungguhan menghadap Allah SWT. Sejalan dengan ini Ibn Arabi mengatakan bahwa “jalan kaum ini berada di jalan yang sama tanpa ada keraguan sedikit pun.”

Pemahaman wahdat al-adyan ini menurut Sa’id Mahmud Ma’lawi sebenarnya bisa dilacak dari paham wahdat al-wujud. Menurutnya, hal ini tidak lain disebabkan adanya pemahaman bahwa setiap hal adalah manifestasi (penampakan) dari Yang Disembah, maka setiap sesembahan pada hakikatnya adalah Dia. Paham ini adalah wahdat al-wujud. Sedangkan paham wahdat al-wujud sendiri berasal dari, sebagaimana dijelaskan Dr. Abu al-Ala Afifi di atas, ilmu kalam. Menurut Sa’id Ma’lawi, pemahaman ini menemukan akar ideologinya dari teori kalam bahwa “segala hal yang tidak ada itu ada dalam ketiadaannya” (al-ma’dum syai’un tsabitun fil ‘adam). Dari sini terbangun pandangan potensi wujud bagi selain Allah SWT. Karena selain Allah SWT hanya “potensi wujud”, maka ia berarti pancaran dari wujud sejati, yakni Allah subhanahu wa ta’ala. Ketunggalan eksisten inilah yang disebut Imam al-Ghazali sebagai tingkat tauhid tertinggi. Wallahu a’lam bi al-shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here