Empat Tingkatan Kondisi Hati Manusia

0
1862

BincangSyariah.Com – Hati dalam bahasa Arab disebut sebagai qalb. Secara etimologis, qalb memiliki arti “berbalik”. Maka disebut sebagai hati karena ia sering berbolak-balik. Kadang merasa sedih, kadang berbahagia. Kadang merasa marah kadang pula merasa berbunga. Oleh karena itu, menjaga stabilitas hati adalah bagian penting dari ajaran agama Islam. sebagaimana hadis nabi yang berbunyi:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah sesungguhnya di dalam badan terdapat segumpal daging, jika ia bagus maka bagus seluruh badannya dan jika ia rusak maka rusak seluruh badannya, ketahuilah, (segumpal daging itu) ialah hati.” (HR Muslim)

Bahkan imam Ahmad dalam riwayatnya menyebutkan:

لاَ يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ

Tidak tegak (benar) iman seorang hamba sampai tegak (benar) hatinya.”

Oleh karenanya, Islam sungguh memberikan peringatan kepada umatnya untuk memperhatikan kondisi hati mereka. Apalagi sebagai bagian penting tubuh manusia yang paling tidak stabil (taqallub), hati menjadi tempat bertarung antara kesadaran diri manusia melawan musuhnya, yakni hawa nafsu dan setan.

Maka penting kiranya untuk mengetahui karakteristik kondisi hati manusia. Agar manusia dapat mawas diri atas kondisi hatinya masing-masing. Sudah sejauh mana tingkatan hati mereka. Sehingga evaluasi diri secara terus menerus dapat dilakukan dalam rangka mengkontrol gejolak hati manusia.

K.H. Sholeh Darat dalam kitabnya yang berjudul Hadzihi Kitab Munjiyat menyebutkan empat tingkatan kondisi hati manusia. Pertama, hati yang menempati posisinya sebagai karakter binatang buas. Hati semacam ini lahir saat seseorang menampilkan amarahnya. Menurut kiai Sholeh Darat, manusia yang sedang marah hatinya menempati kondisi karakter binatang buas. Ia tidak dapat mengontrol kesadarannya sendiri dan cenderung liar.

Baca Juga :  Lebih Utama Mana, Berzikir dalam Hati Saja atau Bersamaan Hati dan Lisan?

Kedua, hati yang menempati posisinya sebagai karakter binatang ternak seperti kerbau dan sapi. Hati orang-orang semacam ini lahir dari kondisi mereka yang terlalu cenderung patuh dan menuruti syahwat. Kehidupan yang hanya dilingkupi oleh kesenangan mencerminkan binatang ternak yang hanya berfikir soal makan dan beranak pinak. Kecenderungan gaya hedonisme di era sekarang, pemuasan diri atas kebahagiaan hidup, dapat mengarah pada kondisi hati dalam karakteristiknya yang kedua.

Ketiga, hati yang menempati sifat atau karakternya setan. Karakter ini muncul saat manusia justru terjebak pada bisikan setan yang menjerumuskan. Bisikkan setan ini berwujud dalam bentuk meninggalkan ajaran agama, melalaikan perintah agama dan lain sebagainya. Keberhasilan setan menggoda nabi Adam dan Hawa’ adalah contoh betapa hati manusia rawan dimanipulasi oleh setan.

Keempat, hati yang menduduki sifat ketuhanan. Menurut kiai Sholeh Darat, kondisi hati yang demikian tercermin dalam perilaku dan sifat manusia. Seseorang yang kondisi hatinya menduduki sifat ketuhanan ia akan cenderung menyukai hal-hal yang mulia dan benci terhadap hal-hal yang hina di mata agama. Selain itu, ciri lain dari kondisi hati yang keempat ini ialah menyukai ilmu pengetahuan dan benci terhadap kebodohan.

Keempat macam kondisi hati ini beserta karakteristiknya dapat dijadikan alat ukur sejauh mana kualitas hati kita. Karena sebagaimana hadis di atas, hati yang akan menjadi driver dalam kehidupan manusia. Sehingga kualitas kehidupan manusia sangatlah tergantung dari sejauh mana kualitas hatinya.

Semoga hati kita semua selalu berada pada kondisi yang menempati sifat-sifat ketuhanan. Sehingga mampu menjadi driver yang baik dalam menuntun di kehidupan dunia. Amiin

Wallahu a’lam bis showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here