Empat Tahapan Berdakwah Menurut Quraish Shihab

1
2511

BincangSyariah.Com – Belakangan banyak sinetron yang menggambarkan siksaan atau azab secara berlebihan. Penggambaran balasan Tuhan–bahkan setelah baru saja ia meninggal– digambarkan dengan sangat gamblang. Kira-kira begitu sekilas cuplikan dialog Najwa Shihab dalam talk show Shihab & Shihab yang notabene narasumbernya ayahandanya sendiri, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab.

Tanzir atau memberi ancaman merupakan salah satu metode dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad ketika diutus kepada umat manusia dengan membawa misi Islam. Dalam Surat Al-Ahzab ayat 45, Allah berfirman

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Artinya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Menurut Quraish Shihab, memang sebenarnya dalam berdakwah yang paling gampang itu mengancam dengan azab dan sebagainya. Padahal Alquran tidak demikian. Terdapat tahapan-tahapan berdakwah dalam Islam.

Adapun tahapan-tahapan berdakwah menurut pengarang Tafsir al-Misbah tersebut ada empat tahapan.

Pertama, Alquran mengajak seseorang yang paling utama untuk melihat perkembangan ilmu. Menuntun seseorang untuk menyadari bahwa dahsyatnya ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia hanyalah setetes tabir ilmu yang dibuka oleh Allah Swt. itulah tahapan dakwah yang paling dianjurkan dilakukan sebelum cara dakwah yang lain.

Kedua, dengan melihat sejarah. Dalam Alquran banyak sekali menceritakan tentang sejarah umat terdahulu, hal tersebut agar umat manusia bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Mendakwahkan hal yang benar-benar terjadi dalam sejarah merupakan salah satu dakwah yang mudah diterima oleh hati manusia. Misalnya sejarah Habil dan Qabil putra dari Nabi Adam, atau sejarah tenggelamnya anak Nabi Nuh karena enggan diajak bergabung bersama dalam bahtera atau tentang sejarah betapa Nabi Yusuf telah mendapatkan kedudukan yang bagus dalam takhta kerajaan dan berhasil bertahan dari godaan Zulaikha.

Baca Juga :  Terkait Virus Corona Akibat Kelelawar, Ini Pendapat Syekh Nawawi Banten Soal Konsumsi Makanan Haram

Ketiga, memupuk kesadaran dalam hati dengan melihat dirinya. Seperti kalau orang sombong, sadarkan dalam hati bahwa saya tidak bisa hidup sendiri.

Keempat, cara dakwah dalam Alquran dengan menjanjikan kebaikan dan mengancam dengan siksa. Itu adalah cara yang terakhir.

“Jadi ubah dulu hati orang, mari kita melakukan kebaikan karena ilmu berkata begini. Mari kita kepada kebaikan karena sejarah menunjukkan orang-orang yang melakukan kebaikan itu begini. Mari kita melakukan kebaikan karena kita  sebagai manusia membutuhkannya. Baru yang terakhir, beri peringatan bahwa akan ada siksa untuk orang-orang yang enggan melakukannya,” jelas Guru Besar Tafsir Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Cara dakwah dengan menakut-nakuti memang paling mudah, sehingga mengancam dengan melebih-lebihkan itulah yang sering terjadi dalam dakwah. Padahal, lanjut Menteri Agama pada Kabinet VII tersebut, tidak harus seperti itu untuk mengajak orang (dakwah). Ada tahapannya.

“Yang paling penting (dalam dakwah) tanamkan kesadaran sehingga dia tidak membenci tapi dia senang melakukan itu,” tutup Direktur Utama Pusat Studi Qur’an tersebut.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here