Empat Nilai Shalat Secara Sendirian

0
30

BincangSyariah.Com – Nilai shalat secara sendirian adalah tentang nilai spiritual. Salah satunya adalah bisa meningkatkan kedekatan hubungan hamba dengan Allah Swt. Mengapa demikian? Sebab, shalat adalah instrumen untuk mengagungkan Allah Swt. mendekatkan diri, media pengaduan, dan sebagai wujud dari ungkapan syukur. (Baca: Ini Cara Agar Kita Tetap Bersyukur Melihat Orang Lain Lebih Kaya)

Dalam keadaan tertentu, kita melaksanakan shalat secara sendirian sebab tidak ada kesempatan untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Hal tersebut adalah normal. Meskipun lebih utama melaksanakan shalat berjama’ah, apabila posisinya disandingkan dengan tidak melaksanakan shalat, maka lebih baik shalat munfaridh.

Shalat secara sendirian tidak mengandung kerugian apabila dilaksanakan dengan ikhlas, lillahi ta’ala. Justru, ada banyak sekali hal positif yang didapatkan dalam melaksanakan shalat munfaridh terutama dalam kesungguhan atau khusyuk dalam shalat. Kita bisa melatih fokus dalam melaksanakan ibadah saat shalat sendirian.

Shalat adalah seutama-utama syiar Islam, dan sekuat-kuat tali perhubungan antara hamba dengan Allah Swt. Shalat merupakan ibadah yang secara nyata membuktikan keislaman seseorang yang memberikan manfaat kepada jiwa manusia.

Hasbi Ash-Shiddiqy dalam Pedoman Shalat (2002) memaparkan bahwa agama membesarkan kadar atau nilainya dan membesarkan urusannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi Muhammad Saw. menerangkan bahwa sedekat-dekat hamba dengan Allah Swt. ialah dikala hamba tersebut bersujud.

Ada beberapa nilai shalat secara munfaridh, Muhammad bin Qusri al-Jifari dalam Agar Shalat Tak Sia-Sia (2007) menjelaskan sebagai berikut:

Pertama, meningkatkan hubungan spiritual seorang hamba dengan PenciptaNya, Allah Swt.

Shalat adalah sarana bermunajat seorang hamba kepada Allah Swt. Saat seorang hamba mengerjakan shalat, ia berdialog langsung dengan Dzat pencipta dan tak seorang pun boleh mengganggu hubungan tersebut. Sebab, keadaan terdekat hamba dengan sang khaliq ialah saat ia sedang bersujud atau menjalankan shalat.

Baca Juga :  Menegaskan Bahwa Rahmat adalah Prinsip Beragama (1)

Kedua, melaksanakan shalat dengan baik akan menambah lebih kekhusyu’an dan sempurna dalam shalat.

Shalat mampu menjauhkan seseorang dari ghaflah atau kelalaian agar mampu menghasilkan kekhusyu’an dan kehadiran hati yang menjadi jiwa shalat. Seorang hamba hanya menunaikan apa yang telah dituntut dalam shalat yakni membersihkan nama Allah Swt. dan bermunajat kepada Allah Swt.

Ketiga, meningkatkan Iman kepada Allah.

Melaksanakan shalat secara rutin mampu meningkatkan keimanan seorang Muslim kepada Allah Swt. sebab menimbulkan rasa takut kepada-Nya, rasa khudu dan tunduk kepada-Nya dan menumbuhkan dalam jiwa, rasa kebesaran dan rasa ketinggian Allah Swt. Jangan lupa, sahalat juga mampu mengesankan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Keempat, shalat mampu menentramkan hati.

Shalat mampu menentramkan hati lantaran dalam shalat seseorang banyak melakukan do’a

Untuk mengagungkan Allah Swt., mengingat kebesaran dan keagungan-Nya sehingga hatinya menjadi tenang dan tentram. Allah Swt. berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28:

 ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Allażīna āmanụ wa taṭma`innu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma`innul-qulụb

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Ajaran agama Islam terutama dalam sumber ajarannya yakni Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, memberikan perhatian yang istimewa pada perkara shalat. Shalat  tidak hanya dipandang sebagai ibadah mahdhah atau khusus, yakni pertama yang diwajibkan atas umat Islam.

Lebih dari itu, shalat adalah pilar utama agama, kunci pembuka bagi pintu surga, amal yang paling baik, dan amal perbuatan orang mukmin pertama yang dihisab oleh Allah Swt. pada Hari Kiamat kelak.

Shalat, baik secara jama’ah maupun munfaridh adalah ibadah yang utama. Untuk itu, tetap ada nilai shalat secara munfaridh, juga ada nilai shalat secara berjama’ah. Nilai-nilai tersebut akan berbeda satu sama lain tergantung situasi, kondisi dan kualitas taqwa seorang hamba kepada Allah Swt.[]

Baca Juga :  Ini Keutamaan Shalat Isya dan Subuh Berjemaah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here