Empat Macam Keadilan Menurut Prof. Quraish Shihab

1
1822

BincangSyariah.Com – Keadilan menjadi hal yang fundamen dalam tatanan kehidupan khususnya dalam berbangsa dan bernegara. Ia menjadi sayarat mutlat akan keberlansungan sebuah bagi bangsa dan Negara agar berjalan seimbang. Betapa tidak, bahwa tidak ada satupun yang membantah  sebuah kesejahteraan dan perdamaian bermula dari keadilan.

Quraisy Shihab dalam bukunya “Wawasan Islam”(1996:114) memberikan perhatian tersendiri terkait keadilan yang menjadi salah satu pilar tegaknya sebuah negara yang aman, kondusif, aman, sejahtera serta damai sentosa.

Namun apakah keadilan dimaksud selalu kita artikan sebagai bentuk persamaan dan tepat sasaran? Jawabannya dapat dicerna dalam penjelasan Prof. Quraish Shihab dalam bukunya, Wawasan al-Qur’an (1996:114-133) yang intinya sebagai berikut:

Pertama, kesamaan hak

Seseorang dikatakan adil jika dia memperlakukan sama antara orang yang satu dengan orang yang lainnya. Maksud persamaan di sini adalah persamaan dalam hak. Dalam surat al-Nisa (4): 58 dinyatakan,

 وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Apabila kamu sekalian memutuskan perkara diantara manusia, maka kamu sekalian harus memutuskan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Menurut Quraish Shihab (1996:114), kata adil dalam ayat diatas berarti persamaan. Seoraang hakim dalam ayat diatas dituntut untuk memperlakukan sama antara orang-orang yang berperkara. karena persamamaan antara para pihak yang berperkara itu merupakan hak mereka.

Al-Qur’an mengisahkan dua orang berperkara yang datang kepada Nabi Dawud AS untuk mencari keadilan. Orang pertama memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedang orang ke dua memiliki seekor. Orang pertama mendesak agar ia diberi pula yang seekor itu agar genap menjadi seratus ekor. Keputusan Nabi Dawud AS, bukan membagi kambing itu dengan jumlah yang sama, tapi menyatakan bahwa pihak pertama telah berlaku aniaya terhadap pihak yang kedua. (QS. As-Shad (38): 25,

Baca Juga :  Doa Memohon Dianugerahi Taufiq

Kedua, keseimbangan dan proporsional

Keadilan yang termasuk dalam katagori kedua ini tidak menuntut adanya persamaan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena keseimbangan dan proporsional yang dimaksud disini disesuaikan dengan kebutuhan. Bisa saja satu bagian berukuran kecil atau besar, sedangkan kecil dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya.

Contoh yang paling tepat disini dapat ditemukan dalam petunjuk Alquran terkait perbedaan hak waris antara ahli waris laki-laki dan perempuan. Ahli waris laki mendapatkan 2 banding satu ahli waris perempuan. (an-Nisa (4): 11)

Sudut pandang yang harus digunakan dalam melihat perbedaan ketentuan kewarisan dan lainnya antara laki-laki dan perempuan dalam Alquran diatas tidak boleh dilihat dari keadilan dalam perspektif persamaan hak. Ia harus dilihat dari perspektif proporsional yang disesuaikan dengan kebutuhan. Agar keyakinan tentang kebijaksanaan Allah Swt tidaak dipertanyakan.

Dalam Firman Allah swt, surat al-Rahman (55): 7 menyatakan akan kebijaksanaan Allah Swt dengan penegakan neraca keadilan dalam perspektif keseimbangan Sunnatullah bagi seluruh langit:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَ

“Dan Allah telah meninggikan langit dan ia menegakkan neraca (keadilan)”.

Ketiga, tepat sasaran dalam perhatian dan pemberian hak   

Keadialan dalam katagori ini merupakan lawan kata dari kezaliman. Karena fokus utama dari keadilan ini adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya atau gampangannya tepat sasaran dan tidak salah target. Hak-hak harus disalurkan kepada pemiliknya agar tidak dikatakan sebagai sebuah bentuk kezaliman.

Lebih lanjut Prof. Quraish Shihab menamakan keadilan ini dengan keadilan sosial. Individu-individu sebagai anggota masyarakat dapat meraih kebahagian dalam bentuk yang lebih baik. Oleh karena itu, hak-hak dan preferensi-preferensi individu itu, mesti dipelihara dan diwujudkan. Keadilan, dalam hal ini, bukan berarti mempersamakan semua anggota masyarakat—sepeti konsep komunis, sama rasa sama rata—melainkan mempersamakan mereka dalam kesempatan mengukir prestasi.

Baca Juga :  Hukum Mengucapkan Bismillah ketika Wudhu di Toilet

Keempat, pemeliharaan dan perjagaaan kewajiban

Keadilan dalam hal ini dimaksudkan sebagai keadilan yang dinisbahkan kepada Ilahi. Adil di sini berarti memelihara kewajiban atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistens dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Keadilan Allah swt pada dasarnya merupakan rahmat dan kebaikannya. Firman Allah swt yang terdapat pada surat Hud (11): 6 menegaskan,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya …”

Ayat lain yang menunjukkan hal yang sama adalah surat Fushilat (41) ayat 46 :

  وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan Tuhanmu tidak berlaku aniaya kepada hamba-hambanya”

Dari beberapa pemaparan beliau diatas dapat disimpulkan bahwa keadilan yang terus kita perjuangkan dalam kehidupan ini guna tercapainya tatanan kehidupan yang rapi dan sejahtera tidak dapat disimpulkan dalam satu kata. Ia harus dilihat seseuai dengan perspektif dan ruang lingkupnya. Sehingga kita tidak dapat menyangsikan bentuk kebijaksanaan Allah Swt sebagai peletak dasar-dasar keadilan. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here