Empat Hakikat Malu pada Allah

0
908

BincangSyariah.Com – Dalam Hadiss yang keduapuluh, Imam Muhammad Bin Abu Bakar mencantumkan hadis tentang hakikat malu dalam kitabnya al-Mawaizh al-‘Ushfuriyyah. Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah Bin Mas’ud ra. Beliau berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

 استحيوا من الله حق الحياء قال فقلنا يا نبي الله انا نستحي قال ليس ذلك استحياء ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما حوى والبطن وما وعى وليذكر الموت والبلا ومن اراد الاخرة ترك زينة الحياة الدنيا واثر الاخرة على الاولى فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله تعالى حق الحياء

Malulah kalian pada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya. Para sahabat berkata, Wahai nabiyallah, kami sudah memiliki rasa malu. Nabi bersabda lagi, bukan malu itu yang dimaksud. Akan tetapi barangsiapa yang benar-benar malu pada Allah Swt., maka niscaya dia akan menjaga kepala dan sesutau yang dikandungnya, dan menjaga perut beserta yang ditampungnya. Dia pasti akan selalu teringat pada kematian dan kebinasaan. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia akan meninggalkan gemerlap kehidupan dunia. Ia akan lebih memilih kehidupan akhirat. Barangsiapa yang melakukan itu semua, berarti ia malu pada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya malu.

Berdasarkan hadis di atas,  syarat yang harus kita penuhi jika ingin disebut malu pada Allah Swt., sebagaimana berikut ini,

Pertama, menjaga kepala dan sesuatu yang dikandungnya. Apa saja yang ada di kepala? Sebut saja mulai dari mata, mulut, telinga, otak, dan hidung. Jika kita mengaku malu pada Allah Swt., tapi masih suka melihat yang bukan haknya, atau melihat sesuatu yang diharamkan, apakah ia kita malu dengan seperti itu?

Saat ada lawan jenis yang dianggap memiliki daya tarik, lalu mata kita melirik dan terhenti di situ, dengan anggapan pandangan pertama itu dima’fu sebagai rejeki sedang yang kedua adalah nafsu yang dilarang. Ya sama saja dengan yang mengulang pandangan. Dima’fu saat tidak sengaja, tapi tentu tidak ketika disengaja.

Baca Juga :  Mengapa Ulama Dulu Haramkan Ucapan Selamat Natal, Sekarang Tidak? Ini Kata Habib Ali al-Jufri

Gunakan kedua bola mata ini untuk hal-hal yang positif. Gunakan ia untuk mengaji Al-Quran, Hadis, dan kitab para ulama. Gunkan ia untuk membaca buku atau membaca alam. Jagalah mata dari apa-apa yang diharamkan bila mengaku malu pada Allah  Swt.

Mulut, jangan jadikan ia sebagai sumber bencana, tapi jadikan ia sebagai sumber keberkahan. Hindari caci maki, cemooh, sumpah serapah, dan menggunjing orang lain. Buatlah mulut kita basah dengan dzikrullah dan sholawat.

Karena banyak orang celaka karena kata atau kalimat yang keluar dari mulutnya. Kata pepatah, mulutmu harimaumu. Sayyidinal Quthub Al-Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al-Idrus berkata,

كل جرح علاجه ممكن     ما خلا يا فتى جراح اللسان

Semua luka mungkin bisa disembuhkan, kecuali luka yang ditimbulkan sayatan lisan manusia.

Oleh karena, jika benar-benar malu pada Allah Swt., maka tinggalkan semua maksiat lisan. Selain itu, sakit akibat tergelincirnya lisan sulit untuk disembuhkan. Bahkan bisa saja sampai dibawa mati.

Telinga, gunakan ia untuk mendengar kalam ilahi atau ceramah para ulama. Hindarkan dari mendengar perkara maksiat. Misal ada orang yang menggunjing orang lain, jauhi orang tersebut, atau alihkan pada topik yang lain.

Otak, gunakan ia untuk kebaikan. Fungsikan otak untuk ikut memikirkan nasib orang lain. Jadikan ia sebagai sumber ide-ide kemaslahatan ummah.

Kedua, menjaga perut dan yang di sekitarnya. Jangan sampai perut kita diisi dengan perkara yang tidak jelas halal-haramnya. Apalagi dari barang yang sudah jelas diharamkan. Sungguh, makanan atau minuman yang haram akan sangat berpengaruh pada kualitas ibadah kita.

Ketiga, memperbanyak ingat mati. Ketika orang selalu merasa dihantui kematian, dalam artian ia tidak merasa aman dari kematian, maka besar kemungkinan ia akan lebih giat untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

Baca Juga :  Bolehkah Langsung Menguburkan Jenazah Covid-19 Tanpa Memandikannya?

Keempat, mengedapankan urusan akhirat daripada urusan dunia. Sholat itu perkara akhirat, pekerjaan perkara dunia. Saat harus memilih di antara keduanya, maka dahulukan sholat. Namun, bukan berarti kita harus abaikan urusan dunia, karena dunia bisa jadi bekal akhirat kita.

Banyak mereka yang lupa sholat karena sibuk bekerja, atau malas sholat karena merasa kecapean setelah bekerja. Banyak dari mereka yang lembur bekerja, bangunnya kesiangan hingga meninggalkan sholat subuh. Bahkan tiap hari subuh digadaikan dengan pekerjaannya.

Jika keempat hal tersebut kita jalankan dengan baik, maka bolehlah kita mengaku malu pada Allah Swt. Namun, sebaliknya jika hal tersebut masih kita abaikan, maka malulah pada Allah Swt. untuk mengaku malu pada-Nya. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here