Empat Fase Kehidupan Manusia

0
13720

BincangSyariah.com – Manusia selalu berubah, berawal dari ketiadaan menjadi ada wujudnya, kemudian tak ada lagi. Perubahan fase kehidupan yang cepat ini harus disikapi dengan bijaksana, pastinya dengan bekal yang cukup banyak.

Imam Suyuthi dalam kitab Busyra al-Kasib bi Liqa’ al-Habib mengutip perkataan Abu al- Qasim. Beliau menjelaskan tentang empat fase kehidupan yang akan dilalui oleh manusia, setiap fase lebih luas jangkauan daripada sebelumnya:

Pertama, fase di dalam kandungan ibu (rahim). Tempat ini sangat sempit dan gelap.

Kedua, fase di alam dunia. Di sini manusia dilahirkan serta ia akan bertumbuh dan berkembang. Tempat ini sebagai penentuan amal baik ataupun buruk seseorang. Maka manusia perlu menyiapkan diri di sini untuk menghadapi fase setelahnya.

Ketiga, alam barzakh. Tempat ini lebih luas daripada alam dunia.

Keempat, alam keabadian, baik surga maupun neraka.

Dari keterangan di atas, kematian hanya perpindahan dari satu alam menuju alam lain, diawali proses terpisahnya ruh manusia dari jasadnya. Dan semua makhluk pasti akan merasakannya. Abu Naim al-Asfihani dalam kitab Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Asfiya’ mengutip nasehat Abdu Rabb kepada Makkhul yang berisi:

“Wahai Aba Abdillah, apakah kamu suka surga?”

Ia menjawab: “Siapa yang tak suka surga?,” tandasnya.

Kemudian ia mengatakan: “Kamu harus mati terlebih dahulu, karena tak mungkin kamu masuk surga bila tak mati terlebih dulu,” tuturnya.

Nasihat di atas mengingatkan kita bahwa perjalanan manusia masih panjang. Maka manusia perlu melakukan persiapan yang matang. Serta, tak terkecoh untuk mendapatkan surga dengan cara yang tak dibenarkan oleh aturan agama.

Baca Juga :  Hukum Menelpon Ketika Buang Hajat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here