Empat Cara Mengetahui Kekurangan Diri Sendiri

7
1109

BincangSyariah.Com – Kelebihan dan kekurangan diri kita seringkali diibaratkan sebagai dua sisi mata pisau yang sama. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Apalagi hal ini penting ketika kita sedang mengejar mimpi. Kalau kekurangan ditutupi, bisa jadi kita akan gagal dalam mengejar mimpi tersebut. (Baca: Empat Cara Menyayangi Diri Sendiri)

Setelah kita tahu apa kekurangan kita, seharusnya kita mencari solusi bagaimana menghadapinya. Dengan begini, kita semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Imam Al-Ghazali dalam karya besarnya Ihya ‘Ulumiddin (juz 3, hlm 62) memberi metode praktis bagaimana cara kita untuk mengetahui kekurangan kita. Beliau menegaskan:

إعلم أن الله عز وجل إذا أراد الله بعبد خير بصره بعيوب نفسه، فمن كانت بصيرته نافذة لم تخف عليه عيوبه، فإذا عرف العيوب أمكنه العلاج، ولكن أكثر الخلق جاهلون بعيوب أنفسهم، يرى أحدهم القذى فى عين أخيه ولا يرى الجذع فى عين نفسه

Ketahuilah Allah Swt. itu jika menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Ia akan menunjukkan kekurangan diri hamba-Nya. Siapa yang mata hatinya terbuka, pasti akan terlihat kekurangan dirinya. Jika dia mengetahui kekurangan dirinya, maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangan diri mereka. Sebagian dari mereka bisa mengetahui kekurangan orang lain tapi tidak bisa mengetahui kekurangan dirinya. (Baca: Nabi Melarang Umatnya Mengumbar Aib dan Kemaksiatannya Sendiri)

. فمن أراد أن يقف على عيب نفسه فله أربعة طرق

Siapa yang ingin mengetahui kekurangan dirinya, maka ada empat cara mengatasinya:

الأول: أن يجلس بين يدي شيخ بصير بعيوب النفس، مطلع على خفايا الآفات

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mengetahui kekurangan dirinya dan dapat melihat hal-hal jelek yang sulit terlihat.

Baca Juga :  Kemaksiatan Terkadang Lebih Baik daripada Ketaatan Jika ...

الثاني :  أن يطلب صديقا صدوقا بصيرا متدينا، فينصبه رقيبا على نفسه ليلاحظ أحواله وأفعاله، فما كرهه من أخلاقه وأفعاله، وعيوب الباطنة والظاهرة ينبهه عليه

Kedua, mencari teman yang jujur, mengerti kekurangan dirinya, dan menjalankan perintah agama, supaya dapat memantau kondisi dan aktivitas temannya. Apa yang dia lihat tidak baik dari akhlak, perbuatan dan kekurangan lahir dan batin, dia akan mengingatkan hal itu.

الطريق الثالث :  أن يستفيد معرفة عيوب نفسه من ألسنة أعدائه

Ketiga, dia hendaknya mengambil faedah untuk mengetahui kekurangan dirinya dari lisan-lisan pengkritiknya.

الطريق الرابع : أن يخالط الناس، فكل ما رآه مذموما فيما بين الخلق فليطالب نفسه به وينسبها إليه؛ فإن المؤمن مرآة المؤمن، فيرى من عيوب غيره عيوب نفسه

Keempat, berinteraksi dengan orang lain. Setiap yang ia lihat buruk di masyarakat (secara norma), hendaknya ia menahan diri (tidak melakukannya) dan menjauhinya, karena seorang mukmin itu cermin untuk mukmin lainnya. Hendaknya ia melihat kekurangan orang lain sama dengan melihat kekurangan yang ada pada dirinya.

قيل لعيسى عليه السلام : من أدبك؟ قال : ما أدبني أحد، رأيت جهل الجاهل شينا فاجتنبته

Nabi Isa as. ditanya, “Siapa yang mengajarkan adab kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak ada yang mengajari aku adab, aku melihat kebodohan orang bodoh itu jelek maka aku menjauhinya.”

Wallahu A’lam Bissawab

7 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here