Empat Cara Bijak Menyikapi Adegan Bermesraan Lawan Jenis dalam Film The Santri

7
580

BincangSyariah.Com – Pasca penayangan trailer film “The Santri” yang diperankan pemuda tampan (gus Azmi) dan wanita cantik (Wirda Mansur) menuai banyak kritik dan kecaman khususnya dari kalangan pesantren.

Pasalnya, bagi mereka adegan-adegan yang diperankan didalamnya tidak mencerminkan kehidupan pesantren yang sesungguhnya. Yaitu berpegang teguh terhadap nilai-nilai syariat Islam yang salah satunya adalah menjaga pergaulan antara lawan jenis.

Laki-laki dan perempuan tidak boleh berduaan apalagi sampai menjalin hubungan lebih dalam tanpa adanya ikatan yang sah. Perbuatan dimaksud dalam dunia pesantren termasuk pelanggaran berat. Sehingga pelakunya harus dikeluarkan dari pondok pesantren.

Kenyataan berbeda dalam film The Santri yang bertujuan ingin mengagkat pesantren ke dunia internasional. Dalam adegan yang diperankan kedua tokoh muda diatas ternyata sangat mencoreng nama baik pesantren bukan malah mengangkatnya.

Adegan antara pemeran laki-laki dan perempuan dalam film dimaksud terkesan memperbolehkan berkhalwat dan bermesraan antara lawan jenis. Terlebih bagi mereka pesantren digambarkan lembaga yang menghalalkan budaya pacaran.

Dari itu, para tokoh pesantren mengajak khalayak umum untuk memboikot dan tidak menonton film dimaksud. Agar tidak juga menjadi bagian dari orang-orang yang menolong serta mengakui tersebarnya kemaksiatan yang tentunya melanggar syariat islam.

Saya sebagai santri yang moderat dan akademis merasa perlu menyampaikan penjelasan terkait sikap yang seharusnya dikedepankan dalam memandang keberadaan film The Santri khususnya adegan antara lawan jenis yang dipandang melanggar syariat bagi kalangan dan tokoh pesantren yang tidak setuju.

Pertama, kita harus sepakat bahwa dalam syariat dan fikih islam yang dimaksud dengan khalwat atau berduaan yang diharamkan adalah terjadinya pertemuan antara laki-laki dan perempuan (lawan jenis) tanpa ada ikatan sah dan ikatan kekerabatan (mahram) disuatu tempat yang betul-betul sepi. Tidak ada pihak ketiga atau lebih. (lihat: Ahkam al-Khalwat fi al-Fiq al-Islami, Ahmad Mahmud A’syur, hlm. 34)

Baca Juga :  Gus Dur dan Lima Hak Dasar Manusia yang Harus Dilindungi

Kedua, berduaan yang dimaksud dengan khalwat yang dilarang dalam fikih islam terjadi dengan kesungguhan. Bukan pura-pura. Disamping itu juga dilakukan dengan cara bebas dan tidak mengindahkan sopan santun.

Ketiga, berduaan antara lawan jenis yang diharamkan tentunya bukan tujuan main-main dan bersenang-senang semata. Dan dilakukan tanpa ada kontroling dari pihak ketiga. (lihat:  al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 2/290 – 291 )

Keempat, kita juga harus tahu membedakan mana yang syariat dan mana yang fikih. Karena keduanya sangat berbeda. Syariat adalah sesuatu yang pasti dan sudah menjadi suatu hal yang mutlak tidak bisa ditawar lagi. Berbeda dengan fikih sebagai produk pemikiran ulama tentunya multi tafsir dan selalu dalam keragaman. (Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, Prof. H. Abdul Mannan, M. Hum, hlm. 31)

Keempat poin penjelasan di atas menjadi penting untuk kita perhatikan. Sebagai acuan melihat secara bijak keberadaan film dimaksud. Agar kita tidak terkecoh dengan hal-hal yang kecil untuk dibesar-besarkan. Sehingga hujatan dan saling menyalakahkan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Akibatnya perpecahan dan permusuhan yang tentu menjadi musuh besar Islam akan nemapak kepermukaan.

Saya melihat adegan berduaan dan bermesraan sebagaimana terdapat dalam cuplikan film The Santri  yang bebera pekan ini menuai kontroversi dikalangan netizen tidak melakukan ke tiga poin batasan khalwat yang diharamkan diatas. Disebabkan beberapa alasan berikut:

Pertama, adegan berduaan dalam film itu tidak termasuk dalam kategori khalwat yang diharamkan. Ini karena tentunya dalam adegan sebuah film pastinya banyak para pihak yang bekerja mulai dari kameraman, sutradara, penonton, pemeran dan lain sebagainya. Sehingga pengertian khalwat yang diharamkan dalam syariah tidak bisa praktekkan dalam film dimaksud.

Baca Juga :  Abu Bakar Baasyir Batal Dibebaskan, Ini Alasannya

Kedua, namanya adegan tentunya dilakukan serba kepura-puraan. Bukan sungguhan apalagi di sana ada banyak orang yang menyaksikannya. Shingga batasan kedua diatas tidak bisa kemudian disamakan dengan adegan film dimaksud. Artinya, untuk menuju ke hal-hal yang dapat menciderai syariat seperti perzinahan dan lain sebagainya sangat kecil kemungkinannya.

Ketiga, tujuan yang dimaksud dalam film The Santri tentunya bukan main-main dan bersenang-senang. Ia inggin mengangkat pesantren ke dunia internasional sebagai bagian dari wadah islam yang menjungjung harkat dan martabat kemanusiaan serta menjadi garda terdepan dalam mengaplikasikan nilai-nilai toleransi yang menjadi bagian dari ajaran Islam.

Keempat, khalwat dalam syariat berbeda dengan khalwat dalam fikih. Dalam syariat berduaan yang diharamkan memang betul-betul tidak ada orang lain selain dua orang laki-laki dan wanita. Sebagai mana yang dimaksud alam sabda Nabi yang berbunyi “Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR. Bukhari: 1035).

Sementara dalam film diatas tidak demikian. Maka dari itu termasuk dari fikih. Dimana ulama berbeda pendapat jika berduaan antara laki-laki dan perempuan didalamnya terdapat pihak ketiga. Ada yang mengatakan boleh dan ada yang mengatakan tidak boleh. (lihat: Ahkam al-Khalwat fi al-Fiq al-Islami, Ahmad Mahmud A’syur, hlm. 27)

Alhasil, kita sebagai saudara seiman, setanah air dan sesame manusia harus mengedepankan nalar sebelum tindakan. Harus mengedepankan ilmu sebelum menghujat dan menyalahkan.  Dan harus mengedepankan tabayun sebelum menilai. Agar keutuhan persaudaraan yang menyatukan kita tidak mudah tergoyahkan apalagi tercabik-cabik. Sehingga kita betul-betul menjadi manusia, umat islam dan bangsa yang bijak. Wallahu A’lam.

7 KOMENTAR

  1. Ini sok bijak bukan bijak…
    klo anda paham, yg dipermasalahkan ulama dlm film the santri bukan apakah azmi n wirda masuk kategori kholwat atau tidak. Tp lbh kepada atsar yg ditimbulkan di kalangan masyarakat terkait penilaian dan pandangan mereka tentang santri. Krn tujuan dr film itu ingin memperkenalkan pesantren atau santri pada masyarakat. jika cara memperkenalkannya salah, maka hasilnya pun akan salah..
    #save_akal_sehat…

  2. Ini sok bijak bukan bijak…
    klo anda paham, yg dipermasalahkan ulama dlm film the santri bukan apakah azmi n wirda masuk kategori kholwat atau tidak. Tp lbh kepada atsar yg ditimbulkan di kalangan masyarakat terkait penilaian dan pandangan mereka tentang santri. Krn tujuan dr film itu ingin memperkenalkan pesantren atau santri pada masyarakat. jika cara memperkenalkannya salah, maka hasilnya pun akan salah..
    #save_akal_sehat…

  3. Perlu digali lagi, yang paling santer kritisi ulama terkait film dimaksud bukanlah bagaikama dampak dan akibat. Akan tetapi lebih kepada adekan pemeran lawan jenis dan memasuki greja. Coba lihat komentar ustad Abd Shomad Misalnya hingga berbuntut pada fatwa pengaharaman melihat film dimaksud.
    Selanjutnya, terkait dengan dampak dan akibat yang ditimbulkan bagi saya hanya kekawatiran tak berdasar. Pasalnya, sebuah film bukanlah sesuatu yang prinsipil dan harus apa adanya dalam memperkenalkan pesantren.
    Saya menulis ini tentunya menyikapi terkait komentar-komentar para jamaah yang ikut-ikutan memprotes bahkan menghujat yang seaka-akan mereka paling benar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here