Empat Cara Agar Terhindar dari Azab Kubur Akibat Kelalaian Buang Air Kecil

1
4545

BincangSyariah.Com – Beberapa orang menganggap remeh maslah menghilangkan najis air seni. Akibatnya badan dan pakaian menjadi najis dan shalatnya menjadi tidak sah. Hal ini juga menjadi akibat seseorang mendapatkan azab kubur. Agar terhindar dari azab kubur akibat kelalaian atau ketidaktahuan adab buang air kecil, terdapat beberapa tips yang bisa ditiru yang mana juga pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Pertama, menjauh dan menutup aurat dari manusia. Biasanya di wc umum laki-laki, pada tempat buang air kecil yang tidak menyediakan sekat pembatas, menyebabkan tidak leluasa menyingkap pakaian agar terhindar dari percikan air seni. Maka dianjurkan untuk mencari tempat tertutup saat buang air kecil. Sebagaimana yang Rasul lakukan ketika dalam perjalanan, seperti disebutkan dalam sebuah riwayat

Dari Jabir bin Abdillah berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى

“Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah Saw dan beliau tidak menunaikan hajatnya sampai beliau pergi ke tempat yang tidak kelihatan.” (HR. Ibnu Majah)

Kedua, bagi laki-laki agar memercikkan air ke kemaluan atau celana dikira terkena air seni untuk menghilangkan was-was. Hal ini untuk berhati-hati terhadap percikannya ketika buang air kecil yang bisa menyebabkan najis masih melekat pada diri dan pakaiannya. Dalam sebuah hadis Ibnu Abbas mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.” (HR. Ad-Darimi)

Ketiga, tidak kencing di air yang menggenang. Sebab percikan air seni dikhawatirkan akan terciprat ke pakaian. Karenanya Rasul melarang hal itu, sebagai dalam hadis diriwayatkan Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

Baca Juga :  Benarkah Ahli Kitab Selalu Berfikir Negatif Tentang Islam?

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.” (HR. Muslim)

Keempat, hendaknya membersihkan diri dengan air

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ أَجِىءُ أَنَا وَغُلاَمٌ مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ . يَعْنِى يَسْتَنْجِى بِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk buang hajat, aku dan anak sebaya denganku datang membawa seember air, lalu beliau beristinja’ dengannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Apabila terpaksa tidak menggunakan air seperti pergi ke hotel atau tempat umum yang tidak menyediakan air maka diperbolehkan membersihkan dengan beberapa benda yang kesat. Dulu Rasul menggunakan tiga batu, sedangkan sekarang bisa menggunakan tisu

إِذَا اسْتَجْمَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَجْمِرْ ثَلاَثاً

Jika salah seorang di antara kalian ingin beristijmar (istinja’ dengan batu), maka gunakanlah tiga batu.” (HR. Ahmad)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here