Empat Alasan Mengapa Toleransi dalam Islam Unik

0
106

BincangSyariah.Com – Ada beberapa alasan mengapa toleransi dalam Islam adalah hal yang unik. Dalam buku Tren Pluralisme Agama: Tijauan Kritis (2005), Anis Malik Thoha mengutip pendapat Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi, seorang cendekiawan Muslim dari Mesir yang dikenal sebagai mujtahid di era modern.

Menurut al-Qaradawi, ada empat faktor utama yang menyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku orang Islam terhadap non-Muslim. Empat hal inilah yang membuat toleransi dalam Islam menjadi hal yang unik. (Baca: Quraish Shihab: Tanpa Toleransi, Hidup Akan Terganggu)

Pertama, keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apa pun agamanya, kebangsaannya, dan kesukuannya. Kemuliaan tersebut menimbulkan adanya hak untuk dihormati. Nabi Muhammad Saw. tidak pernah membeda-bedakan. Sikap toleransi dalam Islam tersebut direfleksikan dengan cara saling menghormati, memuliakan dan tolong menolong.

Kedua, keyakinan bahwa perbedaan manusia dalam agama dan keyakinan adalah realitas yang dikehendaki Allah Swt. yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman atau kufur. Kehendak Allah Swt. pasti terjadi dan menyimpan hikmah yang luar biasa. Oleh karenanya, tidak dibenarkan memaksa untuk Islam.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Yunus ayat 99:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَءَامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ

Walau syā`a rabbuka la`āmana man fil-arḍi kulluhum jamī’ā, a fa anta tukrihun-nāsa ḥattā yakụnụ mu`minīn

Artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa manusia diberi kebebasan percaya atau tidak. Seperti dicontohkan, kaum Yunus yang tadinya enggan beriman, dengan kasih sayang Allah Swt. memperingatkan dan mengancam mereka. Sampai kemudian kaum Yunus yang tadinya membangkang atas kehendak mereka sendiri, lalu atas kehendak mereka sendiri pula mereka sadar dan beriman.

Baca Juga :  Isi Pidato Lengkap Prof. Quraish Shihab di Konferensi Persaudaraan Kemanusiaan, Abu Dhabi

Ketiga, seorang Muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran orang kafir, atau menghukum kesesatan orang sesat. Hanya Allah-lah yang berhak mengadili mereka di hari perhitungan nanti.

Hal ini mestinya membuat hati seorang Muslim menjadi tenang, tidak perlu terjadi konflik batin antara kewajiban berbuat baik dan adil kepada mereka. Dalam waktu yang sama, seorang Muslim mesti berpegang teguh pada kebenaran keyakinan sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam Surat al-Kahfi Ayat 29, yaitu:

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا۟ يُغَاثُوا۟ بِمَآءٍ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا

Wa qulil-ḥaqqu mir rabbikum, fa man syā`a falyu`miw wa man syā`a falyakfur, innā a’tadnā liẓ-ẓālimīna nāran aḥāṭa bihim surādiquhā, wa iy yastagīṡụ yugāṡụ bimā`ing kal-muhli yasywil-wujụh, bi`sasy-syarāb, wa sā`at murtafaqā

Artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Keempat, keyakinan bahwa Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti yang mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah Swt. juga mencela perbuatan zalim, sekalipun terhadap orang kafir.

Hal tersebut tercantum dalam firman Allah Swt. dalam Surat al-Maidah Ayat 8.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Baca Juga :  Tiga Kriteria Pemimpin Amanah

ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna lillāhi syuhadā`a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ, i’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. melarang umat Islam menebar permusuhan dan kebencian terhadap suatu kaum yang bisa menimbulkan sikap tidak adil. Orang mukmin mesti mengutamakan keadilan daripada aniaya dan sikap berat sebelah. Keadilan harus ditempatkan di atas hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi, dan di atas rasa cinta dan permusuhan, apa pun sebabnya.

Beberapa ayat al-Qur’an di atas menurut Yusuf al-Qaradawi menerangkan ungkapan yang tegas dan gamblang tentang pandangan Islam terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan yang membuat toleransi dalam Islam menjadi hal yang unik.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here