Empat Alasan Mengapa Kita Harus Berbaik Sangka

0
626

BincangSyariah.Com – Manusia tak luput dari dosa. Kadang, kita kerap berprasangka  buruk (su’uzzan) pada orang lain. Tapi, tak bisa dipungkiri bahwa kita juga pernah berbaik sangka (husnuzan) pada orang lain. Husnuzan adalah sebuah landasan pokok bagi umat Islam dalam berpikir positif atas segala peristiwa yang dialami selama hidup di dunia.

Secara bahasa, husnuzan berasal dari dua kata, yaitu husnu dan zan yang berarti berbaik sangka. Secara istilah, husnuzan bisa diartikan dengan berbaik sangka pada semua ketentuan dan ketetapan Allah Swt. yang diberikan kepada hamba-Nya.

Husnuzan adalah salah satu bagian dari akhlak terpuji. Lawan dari husnuzan adalah su’uzzan yang artinya jahat sangka. Su’uzzan haram hukumnya dan merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan karena dapat mengakibatkan permusuhan dan retaknya persaudaraan.

Imam Ja’far Shadiq pernah berkata, “Berprasangka baik kepada Allah Swt. berarti bahwa kau tidak boleh berharap kecuali kepada-Nya dan kau tidak boleh takut terhadap apapun kecuali takut pada dosa-dosa yang telah kau lakukan.”

Tahukah kamu? Sikap husnuzan menimbulkan keyakinan bahwa seluruh kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia hanya berasal dari Allah Swt., sedangkan keburukan yang menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya.

Tidak seorang manusia pun bisa lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah Swt. Segala yang terjadi di alam semesta adalah kehendak Allah Swt. Allah Swt. tidak meridhai kekufuran untuk hamba-Nya. Allah Swt. telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar. Segala perbuatannya terjadi atas pilihan dan kemampuannya yang harus dipertanggungjawabkan.

Lalu, mengapa kita harus berhusnuzan?

Akhmad Sagir menegaskan dalam buku Huznuzzhan dalam Perspektif Psikologi bahwa setiap manusia perlu untuk berhusnuzan kepada Allah Swt., Rasulullah Saw., orang-orang saleh dan sekalian orang mukmin, sebab Allah Swt. masih menyembunyikan empat hal dari makhluk hidupnya, yakni sebagai berikut:

Baca Juga :  Apakah Allah Mengabulkan Doa Non-Muslim yang Teraniaya?

Pertama, Allah Swt. menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan yang kecil sekalipun. Kedua, Allah Swt. menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan yang kecil sekalipun. Ketiga, Allah Swt. menyembunyikan rahasia-rahasia-Nya pada ciptaan-nya. Keempat, Allah Swt. menyembunyikan terkabulnya suatu doa, agar manusia senantiasa bertaqarrub dan berdoa kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12, kewajiban berḥusnuẓẓan ditunjukkan dalam bentuk perintah untuk menghindari sikap su’uzzan, yakni sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa menjauhi sifat buruk sangka dan mencari-cari aib serta menggunjing sesama manusia, khususnya orang-orang yang beriman.

Sebab, berburuk sangka termasuk perbuatan dosa, yang mana dalam ayat di atas perbuatan menggunjing diibaratkan dengan memakan bangkai saudara sendiri. Jadi sebagai manusia, kecurigaan kepada Allah Swt. justru akan berakibat pada tidak diterimanya taubat seseorang.

Allah Swt. melarang umat Islam berlaku su’uzzan kepada sesama manusia, terlebih lagi pada orang-orang beriman. Jika seorang manusia menerapkan akhlak mulia, yang mana salah satunya adalah husnuzan, maka akan ada banyak manfaatan yang akan diperoleh, baik di kehidupan yang sekarang ataupun dalam kehidupan yang akan datang.[]

Baca Juga :  Hukum Tempat Shalat Imam Lebih Tinggi dari Tempat  Makmum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here