Eksistensi Jin dalam Pandangan Kaum Rasionalis

1
926

BincangSyariah.Com – Kepercayaan terhadap Jin merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem keimanan dalam Islam. Sebab, Al-Qur’an sendiri beberapa kali menyebut kata Jin, salah satunya dalam Q.S. al-Dzaari’aat [51]: 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidaklah mencipatakan Jin dan manusia, melainkan untuk menyembahku

Mayoritas ulama memahami jin sebagai makhluk yang immateri atau tidak dapat dijangkau bentuk sesungguhnya oleh pancaindera dan mempunyai kemampuan untuk tampil dalam berbagai bentuk.

Di samping pengertian di atas, tak dapat dipungkiri juga, ada beberapa tokoh yang memahami Jin dengan pemahaman yang berbeda. Mengingat, kita juga mengenal beberapa tokoh yang cenderung untuk berusaha merasionalisasikan seluruh informasi Al-Qur’an dan membatasi sebisa mungkin wilayah supranatural dari ajaran Islam.

Tokoh-tokoh Islam yang dianggap rasional ini, mereka tidaklah mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai Jin, hanya saja mereka memahaminya bukan dalam pengertian Hakiki.

Quraish Shihab dalam karyanya yang berjudul Jin dalam Al-Qur’an: Seri yang Halus dan Tak Terlihat menyebutkan setidaknya ada 3 pendapat yang menonjol dari pandangan kaum rasionalis mengenai eksistensi Jin:

  1. Potensi Negatif Manusia

Pendapat pertama memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Menurut penganut paham ini, malaikat adalah potensi positif yang mengarahkan manusia ke arah kebaikan, sedangkan jin atau setan adalah kebalikannya. Pendapat ini menjadikan Jin sepenuhnya sama dengan setan. Di sisi lain, mereka menilainya tidak memiliki wujud tersendiri, karena jin atau setan merupakan potensi negatif yang berada dalam diri manusia.

  1. Virus dan Kuman Penyakit.

Pendapat kedua memahami Jin antara lain sebagai virus dan kuman penyakit. Tokoh yang menganut paham ini adalah Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha Mereka berkeyakinan bahwa definisi Jin yang berarti makhluk-makhluk hidup yang tersembunyi, yang merupakan tawaran definisi dari para teolog, boleh jadi dipahami makhluk-makhluk hidup yang diketahui melalui mikroskop dan dinamai dengan mikroba-mikroba disebut sebagai Jin.

  1. Manusia Liar yang Belum Berperadaban.
Baca Juga :  Jodoh: Cerminan Diri atau Pelengkap Diri?

Pendapat ketiga memahami Jin sebagai jenis makhluk manusia liar yang belum berperadaban. Pendapat ini dikemukakan oleh pemikir India, Ahmad Khan. Menurutnya, Al-Qur’an menyebut kata Jin sebanyak lima kali dalam konteks bantahan terhadap keyakinan kaum musyrik Arab. Ayat-ayat tersebut menurutnya tidak dapat dijadikan bukti tentang adanya makhluk yang bernama Jin, sebagaimana keyakinan umum ketika itu. Adapun makna kata Jin pada ayat-ayat al-Qur’an, adalah manusia liar yang hidup di hutan-hutan atau tempat-tempat terpencil di pegunungan.

Demikianlah ketiga pandangan mengenai Jin menurut pemikir-pemikir yang menyebut diri mereka sebagai kaum rasionalis. Terlepas dari keyakinan apakah Jin sebagai makhluk halus atau sesuatu yang digambarkan oleh para pemikir di atas, yang terpenting adalah kita tetap meyakini akan keberadaan Jin, karena Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan keberadaannya. Dan kita patut menyadari, bahwa Allah berpesan, “Tidaklah kalian diberi ilmu, melainkan hanya sedikit.”

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here