Dua Wajah Ujian Allah kepada Manusia

1
3370

BincangSyariah.Com – Seringkali kita merasa Allah tidak adil karena menimpakan ujian yang begitu berat kepada kita. Ada yang diuji Allah dengan kegagalan dan tidak tercapainya impian-impian, ada yang diuji dengan kesempitan rizki, ada yang diuji dengan kehilangan orang yang disayang, dan lain sebagainya.

Dalam dinamika kehidupan manusia bukankah ujian adalah sebuah keniscayaan, ujian akan selalu membersamai kita sepanjang hidup kita. Sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Al-Anbiya (21) ayat 35و

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.(Q.S Al-Anbiya (21) : 35)

Kebanyakan manusia menganggap sebuah keadaan sebagai ujian apabila sedang ditempatkan dalam kesempitan, ditempa kegagalan dan dihimpit kesusahan. Manusia  lupa bahwa sesungguhnya dalam kebaikan, kesenangan dan kesuksesanpun, Allah juga selipkan ujian di dalamnya.

Jika manusia diberikan 2 pilihan antara diuji dengan kebaikan atau diuji dengan keburukan, kebanyakan akan memilih untuk diuji dengan kebaikan karena merasa akan lebih ringan dan mudah untuk dilalui.

Jamak kita temui orang yang berkata “Dia enak kaya raya”, “Dia enak punya jabatan yang tinggi dan gaji yang besar”, “Dia enak punya rumah dan kendaraan yang mewah”. Namun jarang kita temukan orang yang berkata “Dia enak jadi orang miskin dan gak punya apa-apa”, “Dia enak jadi pegawai rendahan dan gajinya kecil”, “Dia enak tinggal di gubuk dan hanya memiliki sepeda kayuh”. Padahal kelak yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah adalah sebaik apa kemampuan manusia mengelola khair atau syarr nya sendiri secara optimal.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia seolah-olah lebih siap dengan keberlimpahan, kemewahan daripada kekurangan.  Padahal dengan keberlimpahan manusia diuji, apakah dia tetap taat dan bersykur, sedangkan dengan kemiskinan dia diuji apakah tetap mampu bersabar. Sebagaimana Firman-Nya dalam QS. Al-Fajr (89) ayat 15-16

فَأَمَّا الإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ *** وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah terkadang menguji manusia dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai nikmat, lalu Allah akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur serta siapa yang bersabar dan siapa yang putus asa.

Ketika Allah menguji kita dengan kesusahan bukan berarti Allah menghinakan kita, akan tetapi Allah ingin melihat tingkat kesabaran kita. Apakah kita akan senantiasa bersabar atau justru mengeluh dengan kesusahan yang diberikan.

Sedangkan ketika Allah menguji kita dengan kemudahan-kemudahan seperti tercapainya segala impian, harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi dan lain sebagainya, ternyata Allah ingin melihat apakah kita akan tetap taat atau malah melupakan-Nya.

Setelah kita mengetahui bahwa dalam kebaikan dan keburukan yang Allah tetapkan kepada kita ada ujian di dalamnya, apa yang harus kita lakukan? Sabar dan syukur adalah kuncinya. Bersabar ketika kita ditempa cobaan dan musibah serta bersyukur ketika kita diberi nikmat dan kesuksesan.

Semoga kita semua mampu bersabar dan bersyukur dalam segala keadaan, AamiinWallahu a’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here