Dua Sisi Penting Kepribadian Muslim Sebagai Individu

0
10

BincangSyariah.Com – Ada dua sisi penting kepribadian Muslim sebagai individu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Secara individu, kepribadian Muslim akan mencerminkan ciri khas yang berbeda.

Ciri khas yang diperoleh berasal dari potensi bawaan yang membuat perbedaan kepribadian antara Muslim satu dengan Muslim yang lainnya.

Perbedaan yang ada hanya terbatas pada seluruh potensi yang dimiliki seorang manusia. Potensi yang timbul berdasarkan faktor pembawaan masing-masing yang meliputi aspek jasmani dan rohani.

Aspek jasmani meliputi perbedaan bentuk fisik, warna kulit, dan ciri-ciri fisik lainnya. Aspek rohaniah adalah sikap mental, bakat, tingkat kecerdasan, dan sikap emosi.

Aspek rohaniah memiliki makna bahwa Allah Swt. memberikan manusia beberapa potensi yang sejalan dengan sifat-sifatnya. Kepibadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan.

Pembentukan kepribadian yang dimaksud adalah kepribadian dengan akhlak yang mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sebab Nabi mengemukakan: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya, adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya.”

Jalaluddin dalam Teologi Pendidikan (2001) menyatakan bahwa ada dua sisi penting dalam pembentukan kepribadian Muslim. Dua hal tersebut adalah iman dan akhlak.

Jika iman dianggap sebagai konsep batin, maka kondisi batin yang baik mestinya tercermin dalam sikap perilaku sehari-hari. Keimanan adalah sisi abstrak dari kepatuhan kepada hukum-hukum Allah Swt. yang ditampilkan dalam lakon akhlak mulia.

Abdullah Al-Darraz menyatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian Muslim berfungsi sebagai pengisi nilai-nilai keislaman. Dengan adanya cermin dari nilai yang dimaksud dalam sikap dan perilaku seseorang maka tampillah kepribadiannya sebagai Muslim.

Al-Darraz menilai bahwa akhlak seorang Muslim adalah bagian dari nilai-nilai yang mesti dipelajari dan dilaksanakan. Hal tersebut mesti dilakoni sampai terbentuk kecendrungan sikap yang menjadi ciri kepribadian Muslim. Usaha yang dimaksud menurut Al-Darraz dapat dilakukan melalui cara memberi materi pendidikan akhlak berupa:

Baca Juga :  Tata Krama Masuk Kamar Mandi Menurut al-Ghazali

Pertama, penyucian jiwa kejujuran dan penguasaan hawa nafsu. Kedua, sifat lemah lembut dan rendah hati serta berhati-hati dalam mengambil keputusan menjauhi buruk sangka. Ketiga, mantap dan sabar. Keempat, menjadi teladan yang baik.

Kelima, beramal saleh dan berlomba-lomba berbuat baik dalam menjaga diri (iffah). Keenam, ikhlas. Ketujuh, hidup sederhana. Kedelapan, pintar mendengar dan kemudian mengikuti hal-hal yang baik.

Sebenarnya, pembentukan kepribadian Muslim adalah usaha untuk mengubah sikap untuk menerapkan nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap-sikap keislaman tidak terjadi secara spontan. Semua berlajan dalam sautu proses yang panjang dan berkesinambungan.

Proses-proses tersebut digambarkan oleh hubungan dengan obyek, wawasan, peristiwa atau ide (attitude have referent), dan perubahan sikap harus dipelajari (attitude are learned). Ada hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya.

Lantaran ada tuntutan akhlak seperti yang dipedomankan dalam Al-Qur’an, dan tuntutan tersebut sebenarnya bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terlihat ciri-ciri dalam proses penerapan tersebut.

Beberapa ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Selalu menepuh jalan hidup yang didasarkan didikan ketuhanan dengan melaksanakan ibadah dalam arti luas.
  2. Senantiasa berpedoman kepada petunjuk Allah untuk memperolah bashirah (pemahaman batin) dan furqan (kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk).
  3. Kekuatan untuk menyerukan dan berbuat benar, dan selalu menyampaikan kebenaran kepada orang lain.
  4. Memiliki keteguhan hati untuk berpegang kepada agamanya.
  5. Memiliki kemampuan yang kuat dan tegas dalam menghadapi kebatilan.
  6. Tetap tabah dalam kebenaran dalam segala kondisi.
  7. Memiliki kelapangan dan ketentraman hati serta kepuasan batin hingga sabar menerima cobaan.
  8. Mengetahui tujuan hidup dan menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir yang lebih baik.
  9. Kembali kepada kebenaran dengan melakukan tobat dari segala kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya.
Baca Juga :  Rahmat Sebagai Prinsip Beragama: Muslim Sejati Tidak Menyakiti Orang Lain (2-Habis)

Dua sisi penting kepribadian Muslim sebagai individu adalah iman dan akhlak. Apabila iman yang kuat tidak disertai akhlak yang baik, maka kepribadian seorang Muslim sesungguhnya belum lengkap, begitu juga sebaliknya.[] (Baca: Cara Membentuk Kepribadian Muslim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here