Dua Pembagian Bid’ah Menurut Imam Suyūṭī

1
3170

BincangSyariah.Com – Imam al-Ḥāfiẓ ‘Abdurraḥmān bin ’Abī Bakr Jalāluddīn as-Suyūṭī (w. 911 H/ 1506 M) memiliki perhatian yang sangat besar terhadap umat Muslim. Salah satunya mengenai pelaksanaan Syariat Islam yang benar. Di masa beliau hidup, seperti juga di masa kini, beliau banyak melihat terjadi bidah yang dilakukan oleh masyarakat muslim. Untuk menjelaskan tuntunan agama yang benar mengenai bidah ini, beliau menulis sebuah kitab berjudul aqīqatus Sunnah wal Bid‘ah (Maṭābi‘ir Rasyīd, 1409 H).

Apa itu bidah?

والبدعة عبارة عن فعلة تصادم الشريعة بالمخالفة، أو توجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان. وقد كان جمهور السلف يكرهون ذلك، وينفرون من كل مبتدع

Bidah (yang buruk) itu adalah sebutan bagi sebuah tindakan menabrak syariat dengan cara (melakukan sesuatu yang) menyelisihi/bertentangan (dengan syariat), atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya hal itu dengan cara menambahkan atau mengurangi (syariat). Para ulama terdahulu sangat membenci tindakan ini, mereka akan lari menjauh dari setiap pelaku bidah (h. 88).

Di sini beliau menekankan bahwa bidah yang buruk adalah sesuatu yang merusak syariat. Beliau menekankan hal ini, karena nampaknya ada yang meyakini bahwa bidah adalah semata-mata segala sesuatu yang baru dalam urusan agama. Padahal sesuatu yang baru tidak selamanya merusak agama.

محدثات وبدع لا تصادم الشريعة

وقد جرت محدثات لا تصادم الشريعة؛ ولم تتعاط عليها، فلم يروا بفعلها بأساً بل قال بعضهم: إنها قربة وهو صحيح كما رُوي أن الناس كانوا يصلون في رمضان وحداناً

Hal-hal baru dan bidah-bidah yang tidak berbenturan dengan syariat

Sungguh terjadi bahwa banyak hal yang baru itu tidak berbenturan dengan syariat; tidak pula menjadi sebab terjadinya hal ini, maka tidak dianggap berbahaya untuk melakukan hal-hal baru semacam ini. Bahkan sebagian ulama berkata: sesungguhnya hal semacam ini adalah bentuk ibadah pendekatan diri kepada Allah. Dan hal ini benar adanya, sebagaimana diriwayatkan bahwa para sahabat melakukan salat (tarawih) secara berjamaah (yaitu keputusan yang diambil oleh Sayyidina Umar ra. dan ini tidak dilakukan di masa Nabi saw.) (h. 91).

Di sini beliau menjelaskan adanya sesuatu yang baru dalam hal agama yang tidak bertentangan dengan syariat meskipun hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Misalnya adalah salat tarawih di bulan Ramadhan secara berjamaah. Ini adalah pembaruan yang dilakukan oleh Sayyidina ‘Umar ra.

Bidah Yang Baik dan Yang Buruk

Selanjutnya Imam Suyūṭī menjelaskan bahwa bidah terbagi menjadi dua pembagian.

أنواع البدع

والحوادث تنقسم إلى: بدعة مستحسنة، وإلى بدع مستقبحة قال الإمام الشافعي رضي الله عنه: البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم. واحتج بقول عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه. وقال الإمام الشافعي أيضاً رضي الله تعالى عنه: المحدثات في الأمور ضربان: أحدهما ما حدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً فهذه البدعة الضلالة. والثاني: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا فهي محدثة غير مذمومة،

Jenis-jenis bidah

Hal-hal baru itu terbagi menjadi dua: 1) bidah yang dinilai baik, 2) bidah yang dinilai buruk. Imam Syāfi‘ī ra. berkata: bidah terbagi menjadi dua: bidah yang terpuji, bidah yang tercela. Adapun bidah yang sesuai dan mengokohkan sunah/tradisi Nabi saw., maka bidah itu terpuji. Adapun bidah yang bertentangan dengan sunah/tradisi Nabi saw., maka bidah itu tercela. Imam Syāfi‘ī ra. berhujah dengan ucapan Sayyidina ‘Umar ra.: Nikmatnya bidah adalah ini (maksudnya salat tarawih berjamaah). Dan Imam Syāfi‘ī ra. juga berkata: segala hal yang baru dalam setiap perkara terbagi menjadi dua: pertama segala hal baru yang berbeda/bertentangan dengan kitab (Alquran), sunah/tradisi Nabi saw., aṡar (pendapat para sahabat), atau kesepakatan ulama, maka ini adalah bidah yang sesat. Kedua, hal baru yang merupakan hal baik yang di dalamnya tidak perselisihan/pertentangan dengan salah satu dari hal-hal ini (yaitu Alquran, sunah, pendapat sahabat, kesepakatan ulama), maka hal itu adalah hal baru yang tidak tercela (h. 91).

Di sini dapat dipahami bahwa kadang ada hal-hal baru yang tidak merusak syariat bahkan menguatkannya, seperti pengumpulan Alquran dalam satu mushaf, penciptaan cabang-cabang ilmu agama, dan pengembangan teknologi transportasi, yang bisa membantu umat Muslim membaca Alquran dengan lebih mudah, memahami ajaran Islam secara utuh dan benar, serta melakukan ibadah haji lebih mudah. Bidah oleh sebab itu ada yang baik dan ada yang buruk.

متى تكون البدعة حسنة؟

فالبدعة الحسنة متفق على جواز فعلها والاستحباب لها رجاء الثواب لمن حسنت نيته فيها، وهي كل مبتدع موافق لقواعد الشريعة غير مخالف لشيء، ولا يلزم من فعله محظور شرعي، وذلك نحو بناء المنابر، والربط والمدارس، وخانات السبيل، وغير ذلك من أنواع البر التي لم تعهد في صدر الإسلام

Kapan bidah itu baik?

Bidah yang baik itu disepakati kebolehannya untuk dilakukan dan (bahkan) disukai karena harapan dapat pahala (yaitu) bagi orang yang berniat baik dalam melakukannya. Yaitu para pelaku bidah yang bidahnya itu sesuai dan mengokohkan kaidah/dasar/fondasi syariat; tanpa menyelisihi/menentang sedikitpun dan dengan melakukannya seorang tidak melakukan sesuatu yang dilarang syariat. Hal itu seperti membangun mimbar-mimbar, sekolah-sekolah, jalan-jalan, dan sebagainya yaitu beragam kebaikan yang tidak dijumpai pada masa lahirnya Islam (h. 92-93).

Dari kriteria ini, kita dapat menetapkan apakah sesuatu itu bidah yang buruk atau yang baik. Bila syiar agama menjadi semakin kuat karenanya, dan jelas tidak ada larangan syariat mengenainya, maka hal tersebut dapat dinilai sebagai bidah yang baik. Dalam hal ini misalnya haul atau peringatan atas kematian seseorang untuk mendoakannya atau mengingat kebaikannya untuk dicontoh generasi berikutnya.

Dalam syariat tidak ada larangan untuk melakukan hal ini, dan pada kenyataannya peringatan-peringatan haul selalu diisi dengan hal-hal yang baik seperti nasihat-nasihat dari para ulama, zikir dengan mengucapkan kalimat tayibah, seperti tahlil (membaca lailaha illallah), tahmid (membaca alhamdulillah), dan tasbih (membaca subhanalah), dan salawat kepada Nabi saw. yang mana hal-hal tersebut justru diperintahkan oleh syariat, maka hal ini dianggap sebagai bidah yang baik meskipun tidak ditemui di masa Rasulullah saw.

Termasuk bidah yang baik juga adalah melakukan peringatan maulid Nabi saw., Isra’ Mi‘raj, dan hari besar Islam lainnya, serta penyelenggaraan tahlil berjamaah. Hal ini demikian karena kegiatan-kegiatan di atas diisi dengan hal-hal yang diperintahkan agama seperti nasihat dari ulama, zikir dengan mengucapkan tahlil, tahmid, dan tasbih, serta salawat kepada Nabi saw.

Adapun mengenai bidah-bidah yang buruk yang merusak syariat, Imam Suyūṭī membaginya menjadi dua bagian. Pertama, bidah buruk dalam akidah. Kedua bidah yang buruk dalam tindakan. Sebagian bidah buruk yang terjadi di masa Imam Suyūṭī misalnya menyepi dan berduaan antara laki-laki dan perempuan; mengagungkan dan meminta kesembuhan dari tempat-tempat seperti pohon besar, bagian bangunan, dan mata air.

Demikian penjelasan Imam Suyūṭī dalam kitabnya aqīqatus Sunnah wal Bid‘ah, Maṭābi‘ir Rasyīd, 1409 H. Semoga kita bisa dijauhkan dari bidah yang buruk, dan tidak menganggap buruk bidah yang memang baik.

Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here