Dua Jenis Khitbah dalam Islam

0
6878

BincangSyariah.Com – Dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu disebutkan bahwa khitbah adalah menampakkan keinginan untuk menikahi seorang perempuan dan kemudian meminta perempuan tersebut kepada walinya untuk dijadikan sebagai istrinya. Secara umum, ada dua jenis khitbah dalam Islam.

Pertama, khitbah bit al-Tashrih. Yang dimaksud di sini adalah melamar seorang perempuan dengan menggunakan perkataan yang secara pasti menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menikahinya. Dalam kitab al-Bajuri, Syaikh Ibrahim al-Bajuri mendefinisikan khitbah bi al-Tashrih sebagai berikut;

والتصريح ما يقطع بالرغبة في النكاح

“(Khitbah) tashrih adalah khitbah dengan menggunakan perkataan yang secara pasti menunjukkan keinginan untuk menikah.”

Kedua, khitbah bi al-Ta’ridh. Yang dimaksud di sini adalah melamar dengan seorang perempuan dengan menggunakan kalimat sindiran, atau kalimat yang secara pasti tidak menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menikahinya. Dalam kitab al-Bajuri, Syaikh Ibrahim al-Bajuri mendefinisikan khitbah bi al-Ta’ridh sebagai berikut;

والتعريض ما لا يقطع بالرغبة في النكاح بل يحتملها كقول الخاطب للمرأة رب راغب فيك

“(Khitbah) ta’ridh adalah khitbah dengan menggunakan perkataan yang secara pasti tidak menunjukkan keinginan untuk menikah, akan tetapi hanya adanya kemungkinan untuk menikahinya. Seperti seorang laki-laki mengatakan kepada perempuan, ‘Banyak orang yang suka kepadamu.’”

Dalam kitab Kifayatul Akhyar, Syaikh Abu Bakar al-Hishni menjelaskan cara penggunaan dari masing-masing dua jenis khitbah ini. Beliau berkata;

الْمَرْأَة إِن كَانَت خلية عَن النِّكَاح وَالْعدة جَازَت خطبتها تَصْرِيحًا وتعريضاً قطعا وَإِن كَانَت مُزَوّجَة حرما قطعا وَإِن كَانَت مُعْتَدَّة حرم التَّصْرِيح بخطبتها وَأما التَّعْرِيض فَإِن كَانَت رَجْعِيَّة حرم التَّعْرِيض لِأَنَّهَا زَوْجَة وَإِن كَانَت فِي عدَّة الْوَفَاة وَمَا فِي مَعْنَاهَا كالبائن والمفسوخ نِكَاحهَا فَلَا يحرم التَّعْرِيض

Baca Juga :  Hukum Menggagalkan Lamaran Tanpa Alasan Yang Jelas

“Seorang perempuan, jika ia bebas dari ikatan pernikahan dan masa iddah, maka boleh melamarnya, baik secara jelas (tashrih) maupun sindiran (ta’ridh). Jika ia masih berstatus sebagai istri seseorang, maka haram melamarnya baik secara tashrih maupun ta’ridh. Sedangkan jika ia dalam masa iddah, maka haram melamarnya dengan tashrih. Adapun melamar secara ta’ridh, jika ia dalam masa iddah karena talak raj’i, maka haram melamarnya secara ta’ridh karena ia masih berstatus sebagai seorang istri. Sedangkan jika ia dalam masa iddah karena ditinggal mati atau yang semakna dengannya seperti talak bain dan fasakh, maka tidak haram melamarnya dengan ta’ridh.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here