Dua Cara Membersihkan Hati yang Berkarat Kebencian

0
6139

BincangSyariah.Com – Hati adalah cerminan dari segala perbuatan kita. Ketika melihat baju puti yang ternodai coklat, maka secara refleks kita akan segera membersihkannya. Karena pada fitrahnya, manusia tidak betah dengan keadaan yang kotor. Begitu pula dengan kondisi hati kita, jika sudah noda-noda hitam sudah menumpuk dan menjadi karat, maka hendaknya bersegera untuk membersihkannya.

Kenapa harus segera membersihkannya? Sebab teko hanya akan mengeluarkan isinya. Jika teko berisi kopi, maka akan keluar kopi. Mustahil jika teko berisikan kopi akan mengeluarkan jus avocado. Begitu pula dengan hati, jika kondisinya berkarat maka akan yang keluar hanyalah keburukan. Apabila menginginkan kebaikan, maka kondisi hati harus tidak berkarat.  Disinilah Rasulullah mengajarkan dua cara untuk membersihkan karat hati. Nabi bersabda:

 عن ابن عمر قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” إن هذه القلوب تصدأ كما يصدأ الحديد إذا أصابه الماء ” قيل : يا رسول الله وما جلاؤها ؟ قال : ” كثرة ذكر الموت وتلاوة القرآن ” روى البيهقي

Dari Ibn Umar ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassammam bersabda: hati ini berkarat seperti berkaratnya besi jika terkena air. Lalu beliau ditanya: Apa pembersihnya? Sabda beliau: banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran.” (HR.  Al Baihaqi)

Cara pertama adalah mengingat kematian.Jika kematian selalu diingat, maka perbuatan dosa akan selalu gagal dieksekusi. Karena bayangan siksa dan azab Allah selalu hadir dalam benaknya. Jika perbuatan dosa tidak dilakukannya, maka hatipun bebas dari karat hati ayng mengotori. Rasulullah mengingatkan bahwa mengingat mati itu dapat menghilangkan dosa-dosa dan menjadikannya zuhud terhadap dunia.

Dalam At Tazkirah fi Ahwal Maut wa Umur Akhirat, Ad Daqqaq mengungkapkan bahwa mengingat kematian itu membuat membuat manusia bersegera dalam bertaubat, qana’ah dan bersemangat dalam melaksanakan ibadah. Dengan demikian, orang yang selalu terbayang oleh kematian akan memiliki hati yang bersih. Karena tidak tersebit untuk bermaksiat kepada-Nya, yang ada hanyalah bersemangat dalam beribadah kepada-Nya.

Baca Juga :  Dari Mana Kata Sanubari Mulai Masuk ke dalam Bahasa Indonesia?

Cara yang kedua adala h membaca Al Qur’an. Al Qur’an adalah mukjizat yang bernilai sebagai obat bagi pembacanya, penyakit hati dan juga penyakit fisik. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi menjelskan dalam Tafsir Adhwa’ul Bayan bahwa Al Qur’an itu bisa menjadi obat bagi penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Dan Al Qur’an juga bisa dijadikan obat jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit.  Secara tidak langsung, membaca Al Qur’an adalah menjadi obat dan pembersih hati yang sudah berkarat. Penjelasan tersebut kembali pada intisari QS Al Isra ayat 82:

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian

Dua cara tersebut bisa kita jadikan obat terhandal untuk membersihkan karat hati. Selain menjadi obat abgi hati yang berkarat, mengingat kematian dan membaca Al Qur’an tentunya membuat kehidupan kita jauh lebih terarah. Sebab keduanya memacu kita untuk terus beribadah kepada-Nya, dan tentu enggan untuk bermaksiat kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here