Drugdag, Tradisi Pukul Bedug Sambut Ramadan Ala Keraton Cirebon

0
248

BincangSyariah.Com – Sambut Ramadan 1440 Hijriah, Keraton Kasepuhan Cirebon menabuh bedug. Tradisi menabuh bedug ini dinamakan tradisi drugdag. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dari zaman Walisanga dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Pada malam sebelum memasuki Ramadan, bedug yang terletak di Langgar Agung Keraton Kasepuhan ditabuh dengan keras selama kurang lebih satu jam secara bergantian, menandakan para warga merasa gembira menyambut bulan suci, terlebih diberi usia dan kesehatan dalam menjalani ibadah puasa. Setelah drugdag, selanjutnya adalah bancakan atau makan bersama.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat mengatakan, pemukulan bedug sebagai tanda bahwa nanti malam sudah memasuki bulan Ramadan melaksanakan salat Tarawih dan umat Islam menjalankan ibadah puasa.

“Makna bedug ini adalah kita menyambut bulan Ramadan dengan gembira. Yang insya Allah akan dibalas dengan pahala dan surga,” katanya pada Minggu (5/5).

Dia menjelaskan, alat bedug telah ada sebelum Islam. Kemudian para Walisanga di pulau Jawa mengakomodasi semua seni, budaya, adat, tradisi yang ada. Kemudian, mereka memanfaatkan bedug untuk kegiatan-kegiatan agama Islam. Karenanya, budaya tabuh bedug sendiri tidak terdapat di negara manapun termasuk Arab Saudi, hanya ada di Indonesia khususnya di Jawa.

“Para Wali Songo pada waktu itu memanfaatkan bedug untuk kegiatan-kegiatan agama Islam, terutama adalah untuk menandakan salat lima waktu, dan saat takbiran Idul Fitri serta Idul Adha. Tradisi ini tidak ada di Mekah dan Madinah,” ujarnya sebagaimana dilansir dari laman Kumparan.Com.

Tradisi drugdag ini diawali dengan salat Asar berjamaah di Langgar Agung yang diikuti oleh Sultan Sepuh, abdi dalem serta sejumlah warga sekitar. Sebagian mereka menggunakan pakaian khas keraton, yaitu baju berwarna putih, bersarung serta bertopi batik.

Baca Juga :  Imlek, Toleransi, dan Ketegasan Sikap Pejabat Publik

Seusai menggelar salat Asar berjamaah, sultan bersama abdi dalem menuju tempat bedug Samogiri di sisi Langgar Agung.

Kemudian sang sultan menerima kentong dari abdi dalem, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, dan berdoa untuk segala kebaikan seraya menabuh bedug bertalu-talu sebagai tanda masuknya bulan Ramadan. Setelah sultan, para abdi dalem mulai bergantian melakukan pemukulan bedug secara simultan, pada sore dan juga menjelang sahur.

Meski bedug sendiri sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia. Namun, bedug yang ada di Langgar Agung sudah beberapa kali mengalami pembaruan karena bedug yang asli sudah rusak dimakan usia. “Yang lama sudah rusak, yang ada sekarang adalah hasil dari pembaharuan dan perbaikan,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here