Doa Merupakan Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah

0
19

BincangSyariah.Com – Doa adalah permohonan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berdoa kepada Allah Swt. adalah suatu kondisi yang bisa memberikan optimistis, hati puas, dan rasa tenang, juga menimbulkan kekuatan batin dalam menghadapi berbagai masalah. (Baca: Mengapa Kita Berdoa, Tapi Allah Tidak Selalu Langsung Memberi?)

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang berdoa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Seseorang yang berdoa mesti penuh keyakinan, hanya untuk Allah Swt., bersikap tawadhu’ yakni tidak terlalu suara lebih keras, dan berdoa kepada Allah Swt. dengan menggunakan nama-Nya.

Ada dua hal yang mendorong manusia untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allah Swt.:

Pertama, adanya sisi kebesaran dan keagungan Allah Swt. Setiap agama meyakini bahwa Tuhan yang disembah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yakni kekuasaannya atas alam raya, termasuk kehidupan manusia. Manusia yang meyakini Tuhannya pasti membutuhkan-Nya sehingga menggantungkan diri kepada-Nya dengan berdoa.

Kedua, sisi manusia dalam dirinya sendiri. Manusia, makhluk yang mempunyai naluri gembira dan sedih, senang dan susah, takut, cemas, dan mengharap, sehingga ia membutuhkan sandaran dan pegangan dalam hidupnya.

Kenyataan membuktikan bahwa bersandar kepada sesama makhluk sering tidak membuahkan hasil. Maka dari itu, manusia membutuhkan sandaran yang Maha Kuat dan mutlak, agar bisa memberikan bantuan dan bimbingan.

Sandaran tersebut juga mesti bisa menghilangkan rasa cemas dan menimbulkan optimisme untuk memenuhi harapannya. Tidak ada yang mampu melakukan hal-hal yang telah disebutkan tersebut kecuali Allah Swt. Allah Swt. berfirman:

Quran Surat Fatir Ayat 13

 يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۚ وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

Baca Juga :  Apakah Insiden Penembakan di Masjid Selandia Baru Akibat Islamophobia?

Yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laīl, wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara kulluy yajrī li`ajalim musammā, żālikumullāhu rabbukum lahul-mulk, wallażīna tad’ụna min dụnihī mā yamlikụna ming qiṭmīr

Artinya: “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”

Quran Surat Fatir Ayat 14

 إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا۟ دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا۟ مَا ٱسْتَجَابُوا۟ لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

In tad’ụhum lā yasma’ụ du’ā`akum, walau sami’ụ mastajābụ lakum, wa yaumal-qiyāmati yakfurụna bisyirkikum, wa lā yunabbi`uka miṡlu khabīr

Artinya: “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.”

Alexis Carrel, ahli bedah Perancis (1873-1941) peraih Nobel Prize dalam bidang kedokteran, mempunyai pengalaman dalam mengobati pasiennya. Ia mengatakan bahwa banyak diantara pasiennya memeroleh kesembuhan dengan cara berdoa.

Menurut Carrel, do’a adalah gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia. Sebab pada saat berdoa, jiwa manusia terbang menuju Tuhannya. Dalam prosesnya, manusia sebagai makhluk yang mempunyai kelemahan dan kekurangan, tidak bisa menyelesaikan semua persoalan tanpa bantuan, kekuatan yang lebih besar darinya.

Sebagai hamba-Nya, manusia mesti senantiasa membuka jalan untuk berkomunikasi secara intim dan intensif dengan Sang Maha Pencipta. Komunikasi ini bisa berbentuk permohonan atau doa. Meskipun permohonan tidak segera tercapai, tapi komunikasi dengan doa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. harus tetap memberikan nuansa yang optimis dalam kehidupan.

Baca Juga :  Kisah Ahli Ibadah Berdoa Kepada Allah Agar Bisa Shalat dalam Kuburan

Nabi Muhammad Saw. menyebutkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Turmuzi, Ibn Majah dan Abu Daud, berasal dari al-Nu’man bin Basyar yang dikutip oleh Abd al-Qadir Ahmad Atha dalam Hadzâ Halâl wa Harâm:

Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, doa adalah ibadah  yang memiliki arti bahwa do’a bukan hanya semata-mata memohon bantuan atau pertolongan Allah Swt. dalam rangka keluar dari problem hidup yang dihadapi, tapi doa dalam dalam konteks ini adalah sebagai sebuah kebutuhan dalam rangkaian ibadah.

Nurcholis Majid dalam bukunya yang berjudul Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansinya Doktrin Islam dalam Sejarah (1995) menyebutkan bahwa doa dalam artian seruan kepada Allah Swt. adalah titik sentral pertumbuhan kesadaran ketuhanan.

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa nilai utama doa adalah tetap terjadinya komunikasi pribadi yang intim dan intensif dengan Allah Swt. Berdoa adalah suatu hal yang tidak terkira harganya bagi rasa bahagia dan aman sentosa. Paling tidak, dengan berdoa kita dapat memberikan ketenangan batin si pendoa sebab telah berusaha hidup dalam harapan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here