Diundang Resepsi Pernikahan, Apa Hukumnya Meneruskan Puasa Sunnah?

0
974

BincangSyariah.Com – Sebagai seorang muslim kita diwajibkan menghadiri undangan walimatul ‘ursy atau resepsi pernikahan. Selama tidak ada kemaksiatan yang terselubung dari pesta tersebut, atau tidak ada unsur diskriminasi terhadap golongan tertentu, seperti hanya mengundang orang-orang kaya saja sementara tetangga dekat karena dia miskin lalu tidak diundang. Dalam bahasa Indonesia walimatul ‘ursy diartikan dengan pesta pernikahan. Pesta identik dengan sebuah agenda yang di dalamnya ada jamuan makan dalam suasana yang gembira dan suka cita. Namun bagaimana jadinya jika para undangan ada yang melaksanakan puasa sunah rutin.

Dalam hal ini orang yang diundang akan merasa dilema. Sebab menghadiri undangan pernikahan merupakan sebuah kewajiban. Di sisi lain membatalkan puasa sunah yang  terlanjur dilaksanakan merupakan perbuatan yang tidak baik. Jika terpaksa mengambil jalan tengah dengan cara menghadiri undangan tanpa menikmati hidangan yang telah dipersiapkan oleh shahibul hajah tentunya akan membuat tersinggung.

Bagaimana perspektif ulama dalam menyikapi kasus seperti ini. Ada dua opsi yang ditawarkan oleh ulama.

Pertama, disunahkan melanjutkan puasanya jika memungkinkan.

Kedua, disunahkan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan tuan rumah. Dalam riwayat Baihaqi bahwa pada suatu hari dia bersama Nabi menghadiri undangan dari salah satu sahabat, kebetulan pada saat itu dia tengah melaksanakan puasa sunah muakkad. Maka Nabi menyuruhnya membatalkan puasanya dan bisa diqodho’ di lain hari. (Lihat di kitab Ianatut Tholibin  halaman 366).

Hadis lain dikatakan:

من افضل الحسنات اكرام الجلساء بالافطار فالافطار عبادۃ بهذه النيۃ وحسن الخلق فثوابه فوق ثواب الصوم

Termasuk dari paling utamanya kebaikan adalah menghormati majlis dengan berbuka puasa (membatalkan puasa), beerbuka puasa merupakan ibadah dengan niat ini dan tatakrama yang baik, maka pahalanya jauh di atas puasa.

Kesimpulan hadis di atas adalah  disunahkan membatalkan puasa ( puasa sunah) dalam acara undangan dengan menikmati hidangan tuan rumah. Karena itu merupakan sebuah penghormatan dan tatakerama yang mulia terhadap tuan rumah. Hai ini sebagai bukti bahwa Islam sebagai agama yang rahmatan Lil alamin, bukan hanya mengajarkan ibadah mahdhah tetapi juga ibadah ghairu mahdhah seperti masalah sosial yang bernilai ibadah.

Baca Juga :  Lafal Ijab dan Qabul Akad Nikah Berbahasa Arab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here