Ditanya Soal Keharaman Menabung, Gus Baha: Larangan Menabung adalah Fatwa Omong Kosong

0
1276

BincangSyariah.Com – “Menabung karena melaukannya demi anak, itu tidak mengurangi kezuhudan.” Demikian tandas Gus Baha dalam potongan pengajian yang disajikan oleh akun youtube Santri Gayeng. Menurut beliau, orang yang menfatwakan larangan menabung dengan dalih agar zuhud, hakikatnya adalah pandangan yang tidak terbukti.

Padahal, menabung agar kelak anak tidak meminta itu pernah diceritakan dan dibela langsung oleh Nabi Khidir. Kita tahu dalam surah al-Kahfi, ada kisah Nabi Musa As. bertemu dengan Nabi Khidir As. Nabi Khidir, saat ngetes Nabi Musa melakukan pembangunan sebuah tembok yang sudah hampir rubuh. Nabi Musa kemudian protes mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir As.

Pasalnya, desa tersebut berisi orang-orang yang zalim, kenapa harus dibantu dengan membangun tembok segala. Kira-kira begitu. Ternyata, seperti disebutkan dalam Al-Quran, Nabi Khidir menjelaskan bahwa dibawah tembok tersebut ada harta berupa emas batangan warisan untuk dua anak yatim peninggalan ayahnya. Kalau tembok itu sampai rubuh, maka ada madarat yang lebih besar, yaitu harta hak dua anak yatim itu terbongkar dan diketahui orang zalim.

Tapi seperti ditegaskan oleh Gus Baha, kisah ini penegasannya adalah menabung tidak berarti mengurangi kesalehan. Karena kisah ayah dua anak yatim tersebut, menyimpan emas batangan untuk anaknya kelak, tapi ia tetap salih. “Tapi logikanya jangan dibalik ya, kalau tidak menabung berarti tidak shalih, bukan begitu maksudnya. Tapi orang yang menyimpan harta demi kehormatan atau keberlangsungan hidup keturunan, itu tidak bertentangan dengan kesalihan.”

Beliau melanjutkan, bahwa pandangan seperti ini yang membuatnya setuju dengan pandangan Ibn Khaldun, bahwa sejak dahulu sebenarnya Nabi-Nabi itu pasti datang dari keluarga terhormat. “Tapi, kata al-Ghazali, sebenarnya terhormat itu bukan berarti maksudnya selalu pemimpin atau raja, tapi terhormat disitu maknanya adalah memiliki harta atau kehormatan (al-mal aw al-jaah) yang bisa membentengi agama dan keyakinannya.”

Baca Juga :  Innalillah, Ibunda Gus Baha Wafat Hari Ini

Tapi sekali lagi, yang ingin ditegaskan dari kisah Nabi Khidir diatas adalah menabung untuk menjaga kehormatan agar tidak meminta-minta atau jatuh miskin tidak bertentangan dengan keshalihan. Ini justru mengkritik pandangan yang menganjurkan untuk hidup sederhana, namun sampai pada taraf berlebihan sehingga harus bertawakal total sehingga kalau mempunyai atau menyimpan uang, terkesan sedang melakukan dosa. “Jadi fatwa seperti itu berlebihan, tidak sadar kalau itu cuma bisa berlaku pada yang berfatwa itu sendiri.” Tapi yang mencintai dunia juga berlebihan, itu juga tidak baik. “Ya, bagi saya yang penting itu sedengan saja.” Tidak berlebihan, tidak juga sampai tidak punya sama sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here