Ditanya Soal Ajakan Bergabung dengan HTI, Ini Jawaban Mencengangkan Buya Yahya

0
915

BincangSyariah.Com – Saat Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Diri Al-Bahjah ditanya bagaimana menyikapi ajakan untuk bergabung di harokah HTI, Buya Yahya menjawab bahwa beragama harus memiliki Manhaj melalui YouTube al-Bahjah.

“Harus ada Manhaj, metodologi, Manhaj yang kita ikuti. Manhaj ini dipegangi oleh para ulama-ulama kita dari masa ke masa hingga sampai ke Rasulullah Saw. Tidak boleh diambil comot sana comot sini.” Jelasnya. (Baca: Aktivis HTI Tuding Nasionalisme Sebagai Pemecah Belah, TGB Zainul Majdi: Nasionalisme di Indonesia Justru Jadi Pemersatu)

Manhaj adalah metodeologi yang hendaknya dipatuhi dan dipahami untuk bisa memahami Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw. agar paham agama. Agama adalah amanah. Maka lihat dari mana kau ambil agamamu. Harus ada Manhaj yang kesinambungan dari guru sampai ke Nabi Muhammad Saw.

Memahami Al-Qur’an bukan dengan akal-akalan tapi harus ada metodologi. Ada Manhaj, ada cara yang dilakukan para ulama ada. Dalam urusan berpikir kita punya Manhaj, kita ikut Manhajnya Imam Syafi’i, bukan mengikuti pendapat Imam Syafi’i. Imam Syafi’i punya Manhaj yang Namanya Ushul Fiqh, itu adalah metodeologi.

Dalam memahami ayat Al-Qur’an, orang tidak bisa paham Al-Qur’an dan hadis Nabi serta bisa mencetuskan hukum kecuali ada metodologinya ada aturan mainnya. Ada Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.

Dalam beraqidah kita ikut Manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Ada metodologi dan Manhaj. Semua cara beragama yang tidak ikut Manhaj tidak akan diikuti. Ada orang yang mengatakan dirinya misalnya ikut Manhaj Salaf selalu menyebut namanya Salafi. Tanyakan kepada orang tersebut Manhaj yang ia ikuti Manhaj siapa?

Berakidah tidak cukup mengatakan aku beriman kepada Allah Swt. Beriman kepada Allah itu bukan di situ saja, untuk memahami sifat-sifat Allah dan seterusnya. Jangan hanya mengatakan beriman kepada Allah Swt. Ada juga pembahasan bagaimana orang mengenali sifat-sifat Allah.

Baca Juga :  Al-Qahir: Khalifah yang Jadi Pengemis dan Dicongkel Kedua Matanya

Allah tidak bisa kita lihat di dunia. Kita dapat mengenal Allah dengan sifat-sifatnya ini kadang-kadang seolah-olah dienteng kan diringankan yang penting kita mengenal Allah kenal Allah Tuhan kita adalah Allah. Cuman tentang sifat-sifat Allah yang bertebaran di Al-Qur’an dan hadis Nabi. Bagaimana cara kita memahami tentang sifat Allah?

Harus ada Manhaj sebagai metodeologi. Hizbut Tahrir dan yang lainnya punya tidak Manhaj? Kalau tidak punya Manhaj, kenapa kita harus ikut yang tidak punya Manhaj? Slogannya laailahaillah, tidak ada Tuhan selain Allah. Banyak kalimat kebenaran tapi maksudnya tidak jelas.

Para ulama membahas tentang sifat-sifat Allah. Sifat Allah yang berjumlah 20 diantaranya mengundang sifat kontroversial. Tentang Qidam tentang Baqa, tentang macam-macam yang mengundang dialog falsafah sehingga ditulis oleh para ulama dengan Manhaj yang jelas untuk memahami sifat-sifat 20 tersebut.

Sementara sifat Allah sebanyak nama-nama Allah ada sifat di dalamnya Rahman Rahim dan seterusnya. Ada Manhaj untuk memahami ini semua dan Abu Hasan Al Asy’ari telah merinci Manhaj. Sehingga, saat ada kelompok-kelompok baru dan sebagainya, bagaimana? Manhajmu ikut siapa?

Khilafah dibangun atas dasar ilmu. Khilafah bukan hanya gembar-gembor misalnya kita mengadakan pemimpin. Kita harus menentukan kekhalifahan. Bagaimana syarat-syarat khalifah? Kemudian penerapan-penerapan hukum-hukum khalifah. Hukum siapa yang diterapkan nanti? Hukum Islam, cara seperti apa nanti untuk memahami Al-Qur’an dan Hadis? Harus kembali kepada Manhaj. Tidak mungkin orang bisa paham Al-Qur’an bukan dengan Manhaj.

Tanyakah pada Hizbut Tahrir, Manhajnya apa? Apakah dia punya kitab Ushul fiqih sendiri? Bukan, itu nyontek dari salah satu dari empat Mahzab sehingga disepakati seluruh dunia jumhur ulama ahlussunnah wal jama’ah. Kaum muslimin di seluruh penjuru dunia Manhajnya kalau tidak Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

Baca Juga :  Sebagai Muslim, Ada Empat Alasan Mengapa Harus Menjaga Alam

Buya Yahya juga menegaskan, “Yang mengajak gerakan apa pun saya tidak pernah tergiur kecuali dia ikut Manhaj kita. Kenapa? Karena kita sudah punya Manhaj, silsilah dari guru. Membahas perjuangan terus menerus. Kita mengajak berjuang. Kita tidak mengkafirkan, kita tidak menentang.”

Ia mengimbau agar tidak usah tergiur dengan hal-hal yang semacam itu karena kita punya Manhaj. Sehebat apapun bentuk perjuangan tapi kalau tidak jelas Manhajnya yang ada akan perang dan pada akhirnya tidak akan bisa bertemu secara sesungguhnya karena Manhaj itu mempersatukan. Alhamdulillah, biarpun kita berbeda-beda suku, bangsa, negara, kita ditemukan dengan Manhaj dan Mazhab Syafi’i.

“Tidak usah tergiur dengan hal-hal yang baru.” Pungkasnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here