Dilema Shalat #dirumahaja dari Perspektif Psikologis

2
162

BincangSyariah.Com –

  1. Setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkannya terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).
  2. Orang yang telah terpapar virus corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur di tempat kediaman, karena shalat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.

Berikut ialah kutipan keluaran Fatwa no. 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 oleh Majelis Ulama Indoensia (MUI) yang dikutip oleh Kompas.com pada (17/03/2020).

Banyak tanggapan pro dan kontra langsung memenuhi laman sosial media kita. Ada yang bersyukur karena ini salah satu bentuk ikhtiar atau usaha untuk memerangi pandemi tersebut ada juga yang kontra  karena beranggapan syariat harus tetap dilaksanakan, sholat berjamaah harus tetap ditegakkan. Viral-nya pemberitaan ini menjadi semakin hangat kala ada sekelompok masyarakat yang menolak keras dan menentang fatwa ini.

Sudut Pandang Psikologi

Terang saja bahwasanya masyarakat kita kuat akan kolektifitasnya, tebal akan nilai koloni yang selama ini mengikat bangsa ini. Kohesifitas kelompok dapat menjadi tinjauan bagaimana melihat reaksi pro dan kontra masyarakat kita pasca dikeluarkannya Fatwa MUI diatas.

Hartinah (2009) mendefinisikan Kohesi kelompok sebagai sejumlah faktor yang mempengaruhi anggota kelompok untuk tetap menjadi anggota kelompok tersebut. Ada tiga makna tentang kohesivitas kelompok:

  1. Ketertarikan pada kelompok termasuk rasa tidak ingin keluar dari kelompok.
  2. Tingkatan Moral dan motivasi anggota kelompok.
  3. Koordinasi dan kerjasama antar anggota kelompok.

Maka dapat disimpulkan bahwa Kohesifitas Kelompok adalah dimana anggota kelompok saling menyukai satu sama lain, dan bergantung satu sama lain serta adanya dorongan yang menyebabkan anggota bertahan dalam kelompok. Anggota kelompok dengan kohesi tinggi bersifat kooperatif dan pada umumnya mempertahankan dan meningkatkan integrasi kelompok.

Baca Juga :  Tantangan Orang Tua di Era Milenial

Dari makna dan pengertian Kohesifitas Kelompok, ada yang perlu kita highlight ialah Moral dan Integrasi antar anggota kelompok menjadi nyawa kolektifitas masyarakat kita hari ini.  Bangsa kita, masyarakat kita yang diikat dengan Nilai-nilai Gotong Royong, Saling Menghargai-Menghormati dan nilai-nilai kolektif lainnya yang turun temurun diwariskan menjadi norma dan moralitas kelompok dianggap patut diperjuangkan dan patut dipertahankan. Menjunjung tinggi apa yang selama ini dijaga dan dilaksanakan (dalam hal ini salat berjamaah termasuk salat jumat yang dibatasi karena keadaan mendesak Pandemi COVID-19) menjadi hal yang harus tetap dilaksanakan. Nah, melalui hal ini lah sebenarnya kita bisa melihat bagaimana alasan kita ada yang berpihak pada sisi pro dan kontra akan hal tersebut.

Belajar dari Kisah masa Rasulullah SAW

Kita juga mesti tau bahwasanya pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat juga mengalami hal yang kurang lebih sama situasinya dengan kita hari ini dan kita dapat berefleksi dengan kisah ini. Diriwayatkan oleh `Abdullah bin Al-Harith:

“Hari itu sedang hujan dan berlumpur saat Ibnu Abbas hendak sholat bersama kami. Ketika muadzin yang mengumandangkan adzan berkata Hayyaa ‘alas Salaah, Ibnu Abbas mengatakan untuk mengubahnya menjadi As Shalaatu fir Rihaal (sholatlah di rumah masing-masing). Orang-orang saling melihat dengan wajah kaget. Ibnu berkata, hal ini pernah dilakukan di masa orang yang lebih baik dibanding dirinya (merujuk pada masa Rasulullah SAW) dan ini terbukti.” (HR Bukhari).

Dari kisah ini kita dapat berefleksi bahwa Islam mengajarkan kemudahan. Kemudahan bagi kaumnya yang tertimpa kesusahan. Melalui Muhammad SAW, Allah SWT meridhoi segala jenis usaha baik kita untuk tetap dekat dengan-nya. Karena dengan himbauan #dirumah aja termasuk beribadah dirumah, kita telah berikhtiar dan berjihad melawan pandemi yang satu ini. Allah SWT mengetahui apa yang sedang terjadi dan Dia memberikan solusi akan ujian yang sedang kita hadapai. Semoga kita selalu dalam lindungan, kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan-Nya walau sedang #dirumahaja .

Baca Juga :  Kitab Bahjat al-Wudluh: Hadis tentang Niat dan Anjuran untuk Memperbagusnya

Aamiin allahuma aamiin,

Yuk tetap #dirumahaja, nikmati dengan hal baik dan positif yang dapat kita lakukan.

2 KOMENTAR

  1. Ketika masyarakat indonesia extra bersabar berdiam diri d wilayah.nya masing masing, eeehhh TKA( tenaga kerja asing) dari cina lagi mulai berdatangan,yg brpotensi membawa virus itu lgi, ikhtiar masyrakat indonesia terasa sia sia klo ky begini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here