Diantara Sebab Tidak Terkabulnya Doa

0
216

BincangSyariah.Com – Kita mungkin sering berdoa, bahkan dalam keseharian aktifitas kita tidak luput disertakan doa didalamnya. Ketika kita berdoa, kita pasti menginginkan doa kita di Ijabah oleh Allah sesuai dengan apa yang kita minta. Tetapi mungkin juga terjadi tidak terkabulnya doa. Lalu apa sebabnya tidak terkabulnya doa kita kepada Allah Swt.?

Dalam kitab Adz-Dzikru wa Ad-Du’a wa Al-‘Ilaju bi Ar-Ruqa karangan Said bin Ali bin Wahfi Al Qahthani, disebutkan diantara penyebab tidak terkabulnya doa seseorang,

  1. Segala yang ada padanya adalah yang haram. Baik itu makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya yang semuanya diperoleh dari yang haram. Sebagaimana yang terdapat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, yaitu sebuah Hadist yang diriwayatkan dari Abi Hurairah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ »

“Dari Abi Hurairah ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw; Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, Ia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mu’min seperti yang diperintahkanNya kepada para Rasul. Firman-Nya: Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dan Allah juga berfirman: “Wahai Orang-orang yang beriman makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepada kamu.” Kemudian Nabi saw menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Kenudian ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa “wahai Tuhanku, waha Tuhanku. Padahal makanannya dari makanan yang haram, minunya dari yang haram, pakainnya dari pakaian yang haram, dan diberi makanan dari makanan yang haram. Maka bagaimanakan Allah akan memperkenankan doanya?”

  1. Tergesa-gesa untuk dikabulkan doa dan kemudian meninggalkan berdoa.
Baca Juga :  Adab Berdoa Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Dalam hal berdoa, selayaknya bagi seorang Muslim untuk tidak tergesa-gesa dalam doanya, lantaran doanya belum dikabulkan oleh Allah, kemudian ia tidak mau lagi untuk berdoa. Hal ini sangatlah dilarang oleh Rasulullah, karena tergesesa-gesa dalam berdoa itu bisa mengakibatkan doa seseorang tidak dikabulkan oleh Allah. Sebagaimana yang terdapat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahihnya, yaitu hadist yang dirirwayatkan dari Abi Hurairah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى »

“Dari Abi Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, (doa) kalian akan diijabah selagi tidak terburu-buru dengan mengatakan “aku telah berdoa namun tidak kunjung diijbahi”

  1. Melakukan perbuatan maksiat dan perbuatan yang diharamkan lainnya.

Ini adalah penghalang ke tiga untuk dikabulkannya doa seseorang, yaitu selalu melakukan perbuatan maksiat dan perbuatan haram lainya. Sebagaimana perkataan sebagian para ulama “Doa itu tidak akan dilambatkan untuk didijabah, selagi jalan pengijabahannya itu tidak ditutup dengan melakukan kemaksiatan.” Begitu juga dengan apa yang yang di katakan oleh seorang penyair “Kaifa Narju Ijabatan Li Ad-Du’a, Qad Sadadnaa Thariqaha bi Al Dzunub” (bagaimana mungkin kita berharap untuk diijabahnya doa kita, tetapi kita menutup jalannya dengan berbuat maksiat).

  1. Meninggalkan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah.

Sebagaimana memperbuat ketaatan kepada Allah merupakan sebab di Ijabahnya doa seseorang, maka begitu juga sebaliknya, meninggalkan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah merupakan penghalang di Ijabahnya doa seseorang. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Al Tirmidzi dalam kitab sunannya yang diriwayatkan dari Khuzaifah Ibni Yamani:

Baca Juga :  Sahkah Jual-Beli Tanpa Akad?

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Dari Khuzaifah ibn Al Yamani dari Nabi saw bersabda, Demi dzat yang Jiwaku berada ditangannya, hendaklah kalian ber-amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirim siksaan-Nya dari sisinya kepada kalian , kemudian kalian memohon kepada-Nya namun doa kalian tidak akan dikabulkan-Nya”

  1. Berdoa bukan untuk keburukan dan memutuskan tali silaturrahmi.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Nabi yang terdapat dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, yaitu sebah hadist yag diriwayatkan dari Dari Abi Sa’id:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا » قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَر.

“Dari Abi Sa’id bahwasannya Nabi saw bersabda: tidaklah seorang Mu’min berdoa dengan doa yang tidak untuk keburukan dan tidak untuk memutuskan tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan; Doanya akan segera di Ijabah, akan ditunda sampai hari akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal. Sahabat berkata, kalau begitu kita minta yang lebih banyak. Rasul bersabda; Allah memiliki yang lebih banyak.”

Itulah diantara sebab-sebab tidak di Ijabahnya doa seseorang yang dinukil dari kitab Al Dzikru wa Al Du’a wa Al ‘Ilaju bi Al Ruqa karangan Said bin Ali bin Wahfi Al Qahthani. Wallahu Ta’ala A’lam.

Baca Juga :  Doa untuk yang Sedang Patah Hati Agar Cepat Move On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here