Dia yang Kita Sebut Ulama

0
434

BincangSyariah.com – Terkadang saya bertanya dalam hati, apa yang harus disenangi dari melihat dan mendengar sebuah ceramah seorang ulama, yang isinya hanya menjelek-jelekan seseorang dengan diselingi teriakan teriakan asma Tuhan.

Alih-alih mendapatkan siraman rohani untuk meningkatkan ketaatan kepada Sang Khaliq, malah kita mendapatkan setruman untuk meningkatkan kebencian yang seharusnya direda, malah disengaja untuk dihidupkan.

Dewasa ini kita sedang mengalami krisis moral. Krisis moral yang terjadi ditandai dengan maraknya kenakalan-kenakalan remaja yang makin hari makin marak terjadi. Pemerintah, melalui pendidikan, mencoba menciptakan suatu sistem pembelajaran untuk menangani hal tersebut.

Dari ini lahirlah apa yang kita kenal dengan kurikulum 2013, kurikulum yang berfokus untuk membentuk karakter anak didik. Meski terus mengalami pembenahan sana-sini, pemerintah berharap melalui penerapan kurikulum ini, anak didik dapat tumbuh menjadi anak-anak yang menjaga nilai-nilai dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Itu peran pemerintah, umara kita. Namun, yang perlu diingat adalah untuk membangun suatu bangsa yang kuat dan sehat tentu melibatkan banyak pihak di dalamnya. Kita tidak hanya bisa berpangku tangan menyerahkan segalanya kepada pemerintah, oleh karenanya masyarakat juga dituntut aktif di dalam menjaga bangsa yang dielu-elukan menjadi istimewa ini.

Dalam masyarakat, ada seseorang yang ditokohkan. Baik karena ilmunya, sikapnya, bijaknya atau karena agamanya, yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai seorang ustad, kiai, habib yang biasanya kesemuanya sering kita samakan dengan istilah ulama.

Ya, ulama yang lahir dan hidup secara langsung di masyarakat mempunyai peranan penting di dalam menjaga keutuhan bangsa. Ia seharusnya menjadi garda terdepan di dalam melayani umat terutama melalui pendidikan agama yang ia ajarkan dan amalkan.

Baca Juga :  Titik Temu Sunni-Syiah, Mungkinkah Terjadi?

Ulama yang baik adalah ulama yang benar-benar mengayomi dan mendidi masyarakan dengan mengamalkan dalil-dalil agama yang ia ketahui, bukan dengan cara mendalili amal-amal yang ia kerjakan. (kalimat ini saya dapatkan dari dosen saya di kampus).

Ulama, dengan karifan dan kebijaksanaannya seharusnya bersama ikut membantu Umara di dalam mewujudkan karakter anak bangsa yang menjaga nilai-nilai dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh Ulama dalam mewujudkannya, melalui ceramah, melalui pengajian-pengajian, atau melalui pesantren yang ia miliki. Dalam hal ini, santri yang menjadi penghuninya, menjadi sasaran ajaran dari sang ulama tersebut.

Namun, seribu sayang, ulama yang seharusnya ikut membantu menciptakan karakter anak bangsa yang baik, malah justru melumpuhkannya dengan cara menanamkan benih-benih kebencian pada anak bangsa.

Ulama yang seharusnya bersama umara saling melengkapi, malah justru menyerang umara tanpa henti, merendahkan, dan memfitnah. Mengkritisi beda dengan mencaci. Yang kedua ini justru lebih sering digaungkan daripada yang pertama.

Narasi-narasi kebencian, menjadi hidangan lezat masyarakat kita saat ini. Dibumbui dengan dalil-dalil agama yang semakin menambah cita rasa kebencan yang haqiqi.

Akhirnya, ke manakah saya harus membenahi diri bila ulamaku seperti ini ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here