Di Saat Banyak Musibah, Ini Tiga Tingkatan Sabar yang Perlu Diperhatikan

0
1690

BincangSyariah.com- Di awal tahun 2020 ini, saudara-saudara sebangsa kita yang bermukim di wilayah Jabodetabek tengah dilanda musibah banjir. Bukan azab, melainkan musibah. Karena menurut kiai Said Aqil Siraj, azab hanya akan menimpa orang-orang yang kafir atau orang yang jahat. Sedangkan musibah akan menimpa semua orang tanpa memandang ia orang jahat atau orang baik.

Dalam hal ini, Islam menyeru untuk bersabar dalam menghadapi segala hal yang menimpa mereka. Termasuk musibah banjir. Namun kesabaran seringkali disalahpahami sebagai bentuk kepasrahan belaka. Orang salah memahami apa yang ditulis dalam kitab Nashaih al-‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Jawi tentang tiga kedudukan (maqomat) orang sabar. (Apakah Kesabaran itu Ada Batasnya?)

Pertama, meninggalkan sikap berkeluh kesah. Orang-orang semacam ini menduduki derajatnya para tabi’in. Kedua, rela atas yang telah ditakdirkan Tuhan kepadanya. Orang-orang yang berada dalam kedudukan ini ialah mereka yang berlaku zuhud. Ketiga, mencintai cobaan dari Allah. Mereka ini menempati derajatnya orang-orang yang jujur (shiddiqin).

Ketiganya ini tentu bukan dalam kerangka sikap pasif yang dilakukan sebelum musibah dan ujian itu datang. Sehingga konsep sabar dalam Islam dianggap sebagai biang kegagalan umat Islam menatap zamannya. Taruhlah contoh musibah banjir yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Mereka yang bersabar bukanlah mereka yang menerima dan menganggap banjir sebagai sesuatu yang tiba-tiba dan mutlak adanya. Bahkan menganggap itu sebagai takdir Allah.

Akan tetapi sabar dalam menghadapi musibah banjir ialah sabar dalam membuat rencana hingga tahap evaluasi atas apa yang masih menyebabkan terjadinya banjir. Ali Asghar Engineer dalam Islam and Liberation Theology kesabaran diwujudkan dalam proses rekayasa atau perubahan sosial. Disanalah kesabaran menjadi energi positif yang terus membuat manusia bertahan dalam melakukan kerja-kerja sosial. Sampai hilangnya bencana dan kerusakan yang dialami manusia.

Baca Juga :  Tafsir Al-Qur’an tentang Pentingnya Rasa Syukur

Kesabaran harus diletakkan dalam kerangka proses kerja-kerja kemanusiaan. Dalam proses menuju tujuan perubahan sosial, manusia selalu dilanda apa yang disebut kebosanan, kegelisahan dan keputusasaan yang disebabkan oleh kegagalan yang menimpa dalam proses tersebut. Sehingga kesabaran diletakkan sejajar dengan salat saat menjalankan proses rekayasa sosial.

Dalam konteks tiga kedudukan sabar, orang yang bersabar dalam derajat para tabi’in akan menjalankan kerja-kerja sosial, seperti penanggulangan banjir, dengan gigih tanpa berkeluh kesah. Mereka yakin akan mampu merubah musibah banjir dengan usaha-usaha yang direncanakan. Baik melalui jalur politik (kebijakan), budaya (perilaku masyarakat), ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Pada tingkatan atau derajat orang yang zuhud, orang-orang yang bersabar akan ridha atas musibah yang sudah terjadi beserta resikonya dan secara optimistis dan konsisten terus berjuang menyelesaikan problem banjir ini. Bukan sekedar saling menyalahkan sesama manusia, bahkan menganggap ini sebagai azab Tuhan.

Sedangkan pada tingkatan atau derajat orang-orang yang jujur (shiddiqin), kerja-kerja kemanusiaan dalam penanggulan banjir dilandaskan pada rasa cinta dalam menghadapi ujian banjir ini. Karena dengan mencintai sebuah ujian atau persoalan sosial, kerja-kerja kemanusiaan akan lebih terasa ringan.

Semoga saudara kita yang sedang tengah menghadapi musibah banjir tetap diberikan kesabaran, amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here