Di Ijtima’ Ulama Al-Qur’an, Dihasilkan Enam Poin Rekomendasi

0
132

BincangSyariah.Com – Ijtima’ Ulama Al-Qur’an yang berlangsung di Hotel el-Royale, Bandung mulai tanggal 8-10 Juli 2019 sudah selesai. Acara yang menghadirkan puluhan pakar dari berbagai bidang Keislaman sampai pakar bahasa Indonesia itu agenda utamanya adalah melakukan Uji Sahih Terjemahan Al-Qur’an. Pada tahun 2019 ini, yang dilakukan Uji Shahih adalah juz 21-30 setelah juz 1-20 telah selesai di tahun 2018 sejak dimulai pada tahun 2016. Dari Ijtima’ Ulama kemarin, dihasilkan beberapa poin rekomendasi,

Pertama, penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an merupakan keniscayaan sebagai respons atas perkembangan dinamika persoalan umat dan bahasa Indonesia. Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam proses penyempurnaan ini, di antaranya:
Memperhatikan perkembangan dinamika dan kosakata Bahasa Indonesia.

1.) Menjaga konsistensi dalam penerjemahan kata maupun kalimat Al-Qur’an, khususnya yang berpengaruh pada pemahaman ayat.

2.) Mempertimbangkan karakteristik bahasa Al-Qur’an yang hammal zu wujuh (memiliki ragam makna/penafsiran) dengan memilih makna yang paling tepat sesuai dengan konteks kalimat atau konteks ayat.

3.) Mengimplementasikan kaidah-kaidah tafsir dan bahasa Arab dalam penerjemahan.
Sedapat mungkin menghadirkan terjemahan Al-Qur’an yang ramah, khususnya terhadap penyandang disabilitas, gender, dan lain-lain.

4.) Menambah subjudul dalam terjemahan Al-Qur’an edisi penyempurnaan untuk memudahkan masyarakat memahami tema-tema ayat Al-Qur’an.

Kedua, terjemahan Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan. Betapapun bagus dan sempurnanya, terjemahan Al-Qur’an tidak dapat sepenuhnya menghidangkan maksud Al-Qur’an secara utuh. Oleh karena itu, peserta Ijtimak mengimbau kepada masyarakat luas agar dalam memahami Al-Qur’an tidak hanya berpegang pada terjemahan Al-Qur’an, tetapi juga berpegang pada penjelasan ulama-ulama tafsir.

Ketiga, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an perlu mempertimbangkan masukan dan saran para peserta ijtimak dalam penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an sebelum diterbitkan.
Keempat, Kementerian Agama diharapkan terus berupaya meningkatkan pemahaman umat Islam terhadap kitab sucinya dengan menghadirkan terjemahan Al-Qur’an yang sahih dan mudah dipahami oleh masyarakat. Kehadiran terjemahan dan tafsir Al-Qur’an yang baik dan benar akan berkontribusi positif dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia.

Baca Juga :  Pembukaan Ijtima' Ulama Al-Qur'an, Menteri Agama: Membahas Terjemah Al-Qur'an Bukan Pekerjaan Mudah

Kelima, Kementerian Agama diharapkan terus berupaya melakukan terobosan-terobosan dalam menghidangkan pemahaman Al-Qur’an kepada masyarakat, seperti kajian terhadap tema-tema kealquranan yang aktual, penyusunan kamus istilah Al-Qur’an, dan penyampaian ajaran/ kandungan Al-Qur’an kepada generasi milenial dengan membuat film-film pendek yang menggambarkan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan yang mudah diterima oleh generasi milenial. Diharapkan produk-produk yang dihasilkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an ini bermanfaat dan dapat menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Keenam, Kementerian Agama diharapkan menyediakan bahan-bahan bacaan tafsir dan ilmu-ilmu keislaman lainnya bagi para penyandang disabilitas. Para peserta menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Agama, dalam hal ini Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama R.I. atas inisiasi penyelenggaraan Ijtimak yang membahas persoalan keagamaan, khususnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan pemahamannya. Semoga segala kesungguhan yang telah dilakukan tercatat sebagai amal saleh di sisi Allah. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here