Di Balik Anjuran Rasul Untuk Memelihara Kuda

0
5161

BincangSyariah.Com- Ada segolongan kelompok dalam islam yang berpendapat bahwa memelihara kuda pada saat ini pun masih merupakan sunnah yang seharusnya dilakukan. Sebab menurut mereka ada hadits yang mewajibkan muslim laki-laki yang mampu untuk memiliki kuda. Mereka berpegang pada hadis dari Salman Al-Farisi yang dia mendengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam bahwa , “ Tidaklah ada seorang laki-laki Muslim, melainkan wajib baginya untuk mempunyai seekor kuda jika ia mampu.”

Mereka juga berpegang pada firman Allah SWT. dalam surat Al-Anfaal ayat 60 dan surat Al-Nahl ayat 8, serta beberapa hadis lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, An-Nasa’, Ahmad dan yang lainnya.

Di antaranya hadis dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Telah bersabda Nabi Saw., “Barangsiapa yang menahan seekor kuda di jalan Allah dengan keimanan dan membenarkan janji-Nya, maka kenyangnya kuda itu, kotorannya, dan air kencingnya akan ada di dalam timbangan kebaikannya kelak di hari kiamat ”.”

Menurut Hengki Ferdiansyah, Direktur Penelitian dan Pengembangan El-Bukhari Institute, setelah menelaah kembali syarah (baca; penjelasan) hadisnya dalam syarah kitab Bukhari karya Ibnu Battal. Maksud kuda dinggap berkah bila digunakan untuk jihad dan perperang, karena dulu tranportasi yang digunakan baik untuk bepergian atau perang adalah kuda jadi banyak dijelaskan keutamaan memiliki kuda.

Namun sekarang manusia tidak lagi menggunakan kuda sebagai alat tranportasi, sebab dengan kemajuan teknologi telah dibuat mobil, pesawat dan lain-lainnya. Sedangkan berkuda saat ini lebih sebagai salah satu kegiatan olahraga saja. “Jadi titik tekannya bukan pada kudanya, tapi tujuannya.” Kata Hengki.

Sehingga hadis di atas tidak serta merta bisa dipahami sebagai kesunnahan atau kewajiban memelihara kuda karena dalam hadis lain nabi juga mengatakan, kuda itu salah satu sumber sial sebagaimana dirawayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasa’I, At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Maja.

Baca Juga :  Mengapa Rasul Menyebut Ibu Sampai Tiga Kali dalam Sabdanya?

Karena itu,  memahami nash dengan terfokus pada data riwayat serta menekankan kupasan dari sudut gramatikal bahasa terkadang belum cukup membuat seseorang mencapai pada substansi ajaran Islam.

Mengenai cara pemahaman hadis seperti di atas, almarhum KH. Ali Musthafa Yaqub pada beberapa kesempatan pengajian di Pesantren Darus Sunnah yang dipimpinnya, pernah menjelaskan… “bahwa dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, umat islam wajib mengikuti apa yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. Namun hal-hal yang berasal dari Nabi Saw. dan itu berkaitan dengan social-budaya, kita tidak wajib mengikutinya.” Nah, hal-hal berkaitan sosial budaya inilah yang perlu ditelaah lebih dalam.

Kyai yang juga pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga mencatat penjelasan sejenis mengenai hal ini di bagian awal kitab karangannya yang berjudul al-thuruq al-shahihah fi fahmi sunnah al-nabawiyyah. Bahwasanya ada nash yang memang harus dipahami secara tekstual  dan kita wajib mengamalkan seperti itu namun juga ada sebagian nash yang perlu ditelaah maknanya secara kontekstual dan substansi itulah yang dimaksudkan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here