Dengan Ilmu Hadis, Baca Info di Media Sosial Bisa Lebih Bijak

0
1125

BincangSyariah.Com – Salah satu penyebab terbesar konflik dan kekacauan politik di Indonesia saat ini adalah semakin maraknya penyebaran hoax (berita bohong) di media sosial. Hal ini diperparah dengan rendahnya daya baca dan sikap kritis masyarakat untuk menverifikasi ulang setiap informasi yang mereka dapatkan di media sosial.

Akibatnya, banyak terjadi kesalahpahaman serta kesimpangsiuran berita yang berakibat fatal terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Masing-masing golongan saling hina dan saling caci karena meyakini bahwa mereka tengah berada di jalur yang benar, sementara golongan yang berseberangan dengan mereka adalah kaum yang sesat sehingga layak untuk dicaci dan dimaki.

Konflik horizontal akibat perbedaan ijtihad politik ini tidak hanya terjadi antar mereka yang berbeda agama, namun juga antar mereka yang mempunyai keyakinan yang sama. Tentu saja hal ini sangat berbahaya kalau tidak dicarikan solusi atau jalan keluarnya.

Sudah banyak fakta dan data yang menyebutkan bahwa hancurnya beberapa negara di Timur Tengah beberapa tahun belakangan ini disebabkan, salah satunya, oleh kegagalan masyarakatnya dalam mengelola data dan informasi yang berseliweran di media sosial mereka. Tentu saja kita, sebagai warga negara yang baik, tidak mau kalau hal serupa juga terjadi di NKRI yang kita cintai ini. Pertanyaannya, solusi apa yang bisa kita tempuh untuk menanggulanginya?

Di antara cabang keilmuan Islam yang sangat aplikatif dalam hal verifikasi data dan informasi adalah ilmu Hadis (disebut juga ilmu Musthalah Hadis). Melalui ilmu ini, para ulama hadis angkatan pertama dahulu berhasil membedakan mana hadis yang sahih (valid) berasal dari Nabi saw. dan mana yang hanya sekedar kabar bohong/palsu belaka atau yang lazim disebut sebagai hadis daif ataupun maudu’. Hal itu bisa diketahui karena mereka selalu membiasakan tradisi tabayyun (klarifikasi data) terhadap kabar-kabar yang dianggap hadis oleh sementara orang. Proses tabayyun itu sendiri dilakukan setidaknya dengan dua pendekatan utama, yaitu kritik sanad (analisis informan) dan kritik matan (analisis konten).

Baca Juga :  Andaikan Aku Dapat Mengusulkan ke UAS Tentang Ceramah “Salib”-nya

Analisis informan dilakukan dengan cara menelusuri silsilah berita yang didapat, mulai dari informan pertama, kedua, ketiga, sampai akhirnya menyambung kepada Rasulullah saw. Jika silsilah tersebut terhubung dan sampai kepada Rasulullah, maka mereka menamainya dengan hadis muttashil (berita yang punya sumber informan yang jelas). Namun, kalau berita tersebut terputus di tengah jalan karena ketidakjelasan informan yang menyampaikannya, maka mereka menyebutkan dengan istilah hadis munqathi’ (berita yang tidak valid alias hoax).

Karena logikanya, tidak mungkin berita tersebut muncul tanpa ada seorangpun yang menyampaikan ataupun yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Namun perlu digarisbawahi juga bahwa ketersambungan silsilah informan tidak lantas menunjukkan kevalidan hadis tersebut secara otomatis. Oleh sebab itu, mereka menambah piranti analisisnya dengan menelusuri trackrecord (kepribadian) dari masing-masing informan yang menyampaikan informasi.

Jika masing-masing informan yang menyampaikan berita tersebut dikenal sebagai orang yang jujur dan adil lewat kesaksian orang-orang di sekitarnya, maka berita tersebut mereka sebut dengan hadis sahih (valid). Namun jika salah satu dari informan-informan tersebut ada yang dikenal sebagai pembohong atau suka melakukan hal-hal yang tidak baik, maka mereka menyebutnya sebagai hadis daif (lemah).

Sementara itu, analisis konten dilakukan dengan cara muqaranah al-riwayah (membandingkan konten yang baru saja diterima dengan konten lain yang identik/serupa namun mempunyai jalur informan yang berbeda). Jika konten lain dari informan yang berbeda-beda tersebut menguatkan makna dari konten yang baru diterima, maka mereka (ahli hadis tersebut) menerimanya sebagai sebuah informasi yang valid (sahih).

Namun jika konten tersebut berseberangan dengan semua konten yang ada, maka konten yang baru saja diterima tersebut mereka sebut dengan istilah hadis syadz (berita aneh yang tidak berdasar) sehingga harus ditolak. Dengan melakukan kedua analisis tersebut maka sebuah informasi bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya sebagai sebuah sabda Nabi.

Baca Juga :  Spirit Literasi Dalam Alquran

Selanjutnya jika ada yang bertanya, bisakah kedua nalar analisis itu diterapkan untuk membaca media sosial hari ini? Dengan tegas penulis menjawab, sangat bisa. Bagaimana cara mengaplikasikannya?

Jika Anda mendapatkan sebuah broadcast (bc-an) di whatsapp misalnya ataupun membaca tautan berita di facebook, twitter, line, ataupun situs-situs media sosial lainnya, maka langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah tidak menyebarkannya terlebih dahulu sebelum menverifikasi kebenarannya. Kenapa? Karena belum tentu berita tersebut bernilai valid, apalagi di tahun politik seperti sekarang. Langkah selanjutnya adalah melakukan dua analisis di atas (informan dan konten) secara berurutan.

Pertama, analisis informan. Pastikan dulu Anda kenal dengan orang yang mengirimkan berita tersebut (jika orangnya jelas) atau dengan media yang menyebarkannya (jika berupa link media). Kedua, teliti track record yang bersangkutan lewat postingan-postingannya sebelumnya atau cek link tautan tersebut dengan menanyakan perihalnya kepada orang yang Anda anggap lebih paham tentang media daripada Anda atau bisa juga lewat pencarian Google.

Pelacakan sederhana ini setidaknya akan menghasilkan dua kesimpulan sementara. Jika yang bersangkutan dikenal sebagai orang yang jujur dan tidak pernah menyebarkan hoax sebelumnya, maka bisa jadi berita yang ia sebarkan bernilai benar. Namun jika sebaliknya, maka Anda harus waspada, barangkali itu adalah hoax semata.

Begitu juga kalau broadcast tersebut tergolong berita berantai yang tidak diketahui siapa pengirim awalnya, maka telusuri silsilah informannya secara teliti dari satu pengirim ke pengirim yang lain lalu pastikan kalau masing-masing mereka adalah orang-orang yang jujur sehingga beritanya bisa diterima.

Namun sebaliknya jika Anda menemukan bahwa penyebar-penyebarnya adalah orang-orang yang dikenal sering berbohong dan suka menyampaikan cerita-cerita palsu, maka yakinkan diri Anda bahwa itu adalah hoax yang tidak usah Anda share kepada teman-teman Anda yang lain, karena hal itu akan berdampak buruk terhadap masyarakat. Menghentikan berita itu hingga di handphone Anda adalah langkah yang terbaik.

Baca Juga :  Fiqh al-Aqalliyyat: Kontekstual Fikih di Abad Modern

Namun jika Anda masih belum yakin kalau berita itu adalah hoax, maka Anda bisa melakukan analisis yang kedua, yaitu analisa konten. Caranya adalah dengan membandingkan berita tersebut dengan konten yang sama namun dari media yang berbeda-beda lewat pencarian Google.

Jika ternyata konten tersebut berbeda sendiri dengan mayoritas konten yang ada atau justru tidak ditemukan sama sekali, maka besar kemungkinan konten tersebut memang hoax yang sengaja dibuat-buat untuk tujuan tertentu. Namun kalau narasi konten tersebut didukung oleh banyak media lain yang berbeda-beda, maka ada kemungkinan berita tersebut bernilai benar. Ketika sampai di titik ini, Anda boleh melanjutkannya ataupun menyimpannya sendiri untuk koleksi pengetahuan Anda. Semoga bermanfaat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here