Dengan Enam Hal Ini, Pandangan Lawan Jenis Diperbolehkan

2
601

BincangSyariah.Com – Diciptakannya laki-laki dan perempuan sekalipun menjadi bagian dari tanda kekuasaan Allah Swt. tidak kemudian menjadi bebas melakukan interaksi lawan jenis dengan saling pandang. Mereka dibatasi dalam bergaul antara keduanya dengan larangan saling pandang. karena perbuatan demikian dapat mengakibatkan fitnah yang puncaknya berakhir dengan kerusakan.

Namun walaupun demikian adanya, Islam juga mengizinkan saling pandang antar keduanya jika berdasarkan kebutuhan yang diterjemahkan dengan enam hal berikut.

Pertama, pernikahan dan perbudakan

Pernikahan yang sah dalam Islam berakibat baik bagi laki-laki dan perempuan sebagai suami istri. Mereka bebas melihat antara satu dengan lainnya tanpa dibatasi tempat waktu dan keadaan. Begitu juga perbudakan yang terjadi di awal Islam, dapat menghalalkan pandangan yang semula dilarang bagi laki-laki atau perempuan. Tapi setelah mereka diikat dengan perbudakan maka saling pandang antarkeduanya diperbolehkan.

Hanya saja pandangan yang pertama ini menurut riwayat Sayidah Aisyah dibatasi hingga kemaluan sebagaimana hadis berikut:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مارأيت منه ورأى مني

“Dari Aisyah ra.. Beliau mengatakan: Saya tidak melihat kemaluan Rasulullah dan dia juga tidak melihat kemaluan saya”

Kedua, kemahraman

Kemahraman (hubungan  antara laki-laki dan permpuan tidak dibolehkan melakukan pernikahan) menjadi salah satu sebab diperbolehkannya seseorang saling pandang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam surah al-Nur: 31.

 وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka”

Pandangan antarkeduanya tidak sebebas hubungan suami istri. Ia dibatasi hingga daerah yang berada antara pusar dan lutut sebagaimana penafsiran ulama’ dari kata zinah (hiasan) di atas. Mereka menafsirkan kata zinah serta penggunaanya yang tidak boleh di bawah pusar dan di atas lutut.

Baca Juga :  Benarkah Nabi Pernah Disihir Orang Lain?

Ketiga, interaksi jelang pernikahan (ta’aruf)

Islam mengapresiasi kehendak seseorang untuk menikahi wanita yang disukainya dengan cara memperbolehkan saling pandang antar keduanya (ta’aruf)  demi untuk terwujudnya kesukaan antara keduanya untuk melanjutkan pada hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan. Tapi Abu Suja’ Membatasinya hanya sekedar melihat muka dan tangan tidak boleh lebih. Karena muka dan tangan sudah cukup untuk bisa melahirkan rasa suka antar keduanya. Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad berikut:

وَلِمُسْلِمٍ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ اِمْرَأَةً : أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا ? قَالَ : لَا . قَالَ : اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: “Belum”. Beliau bersabda: “Pergi dan lihatlah dia.”

Keempat, interaksi yang terjadi karena faktor pengobatan

Kesehatan dalam Islam betul-betul diperhatikan. Terbukti, demi kesembuhan saling pandang antar lawan jenis yang semula dilarang ternyata diperbolehkan. Hadis Nabi Muhammad saw. berikut menjadi dasar kebolehannya.

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ: أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ اسْتَأْذَنَتْ رسولَ اللهِ صلَّى الله عَلَيْهِ وسلَّم فِي الْحِجَامَةِ، فَأَمَرَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا طَيْبَةَ أَنْ يَحْجُمَهَا

“ suatu hari Ummu Salamah minta izin pada Rasulullah untuk membekam, kemudian Rasul meminta Aba Thaibah untuk membekamnya”

Kelima, interaksi dalam kesaksian dan jual beli

Diperbolehkannya saling pandang antara laki-laki dan perempuan dalam kesaksian dan jual beli menandakan akan pentingnya kesaksian dan jual beli. Betapa tidak, kesaksian sangat erat dengan suatu kebenaran sedang jual beli menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Jika saling pandang antara laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan dalam interaksi seperti ini tentu akan mengakibatkan kesulitan dalam kehidupan sehingga prinsip kemudahan dalam Islam menjadi kosong.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here