Demokrasi dan Islam: Sejalankah Keduanya?

0
13

BincangSyariah.Com – Ada banyak tokoh Islam yang berpendapat bahwa demokrasi dan Islam adalah dua nilai dan ajaran yang sejalan. Namun, ada juga yang menyatakan bahwa keduanya tidak bisa berjalan beriringan.

Jika dicermati lebih detail, pendapat para ulama dan cendekiawan atau intelektual Muslim tentang demokrasi dan Islam tereduksi menjadi dua pandangan utama. Pertama, mereka yang menolak sepenuhnya, dan kedua, mereka yang menerima dengan syarat tertentu yang mesti dipenuhi.

Menurut Mohammad Iqbal, seorang intelektual Muslim, demokrasi modern telah kehilangan sisi spiritual sehingga menjadi jauh dari etika. Hal tersebut sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama. (Baca: Nilai-nilai Demokrasi dalam Islam)

Iqbal menyatakan bahwa demokrasi yang bermakna kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat sebenarnya sejak awal sudah mengabaikan keberadaan agama. Parlemen yang mestinya menjalankan peran sebagai salah satu pilar demokrasi memiliki peluang menetapkan hukum yang justru bertentangan dengan nilai agama jika para anggotanya menghendaki.

Oleh sebab itu, Iqbal menyatakan bahwa Islam tidak bisa menerima model demokrasi Barat yang sejatinya telah kehilangan basis moral dan spiritual. Karena pemikiran inilah Iqbal pun mengusulkan pemikirannya tentang demokrasi yang lebih genuine.

Atas dasar itulah Iqbal menawarkan satu konsep demokrasi spiritual berlandaskan oleh etik dan moral ketuhanan yang sesuai dengan ajaran dalam agama Islam. Jadi, apa yang sebenarnya ditolak oleh Iqbal bukan demokrasi an sich seperti apa yang telah dipraktikkan di negara-negara Barat.

Iqbal menawarkan sebuah model demokrasi yang ia tuangkan dalam Pembangunan Kembali Pemikiran dalam Islam (1983) sebagai berikut: Pertama, tauhid sebagai landasan asasi. Kedua, kepatuhan pada hukum. Ketiga, toleransi sesama warga. Keempat, tidak dibatasi wilayah, ras, dan warna kulit. Kelima, menafsiran hukum Tuhan melalui ijtihad.

Baca Juga :  Nilai-nilai Demokrasi dalam Islam

Lima model demokrasi yang Iqbal usulkan erat kaitannya dengan pengakuan bahwa Nabi Muhammad Saw. yang dianggap sebagao pemimpin paling demokratis di dunia. Sebagai seorang pemimpin, Nabi Muhammad Saw. berhasil membuat banyak sarjana dan tokoh Barat yang sangat kagum dan terpengaruh, sekalipun mereka tidak suka dengan beliau.

Para tokoh yang mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah seorang pemimpin yang demokratis sehingga menguatkan bahwa demokrasi dan Islam merupakan nilai dan ajaran yang sejalan adalah sebagai berikut:

  1. Comte de Boulainvilliers, seorang penulis dan sejarwan yang menyatakan bahwa: “Muhammad adalah pemikir bebas (freethinker) dan pencipta agama rasional”.
  2. François-Marie Arouet atau yang biasa dikenal dengan nama Voltaire, seorang penulis, sejarawan, dan filsuf yang menyatakan bahwa: “Muhammad adalah pemimpin yang memimpin rakyatnya melakukan penaklukan agung”.
  3. Thomas Carlyle, seorang penulis dan sejarawan yang menyatakan bahwa: “Muhammad adalah pahlawan kemanusiaan yang menyinarkan cahaya Illahi”.
  4. Hubert Grimme, seorang sejarawan Islam dan semitis yang menyatakan bahwa: “Muhammad adalah sosialis yang sukses melakukan reformasi fisikal dan sosial”.
  5. Johann Wolfgang von Goethe, seorang sastrawan besar Jerman yang menyatakan bahwa: “Muhammad bagaikan sungai besar mengantarkan airnya mencapai lautan”.
  6. George Bernard Shaw, seorang pengarang Inggris terkenal yang menyatakan bahwa: “Muhammad telah mengangkat wanita menjadi makhluk yang mulia.”
  7. Edward Gibbon, seorang sejarawan dari Inggris yang menyatakan bahwa: “Hal yang baik dari Muhammad ialah membuang jauh kecongkakan seorang raja”.

Iqbal adalah intelektual Muslim yang menjadi pelopor dari reformisme Islam masa kini. Penekanan pemikiran Islam pada kesatuan dan totalitas pandangan Islam untuk membangun kembali pemikiran dan praktik Islam menjadi dasar-dasar acuan bagi para tokoh reformis Islam paling mutakhir.

Baca Juga :  Perkalian dan Pertambahan, Apakah Termasuk Salib? Ini Jawaban Menarik Ulama Arab Saudi

Dalam usahanya menyelaraskan demokrasi dan Islam sebagai nilai dan ajaran, Iqbal menganalogikannya dengan menyatakan bahwa umat Islam mesti menciptakan obat bagi masyarakat yang tertinggal.

Hal tersebut bagi Iqbal adalah sebuah sintesa baru dari ilmu-ilmu Barat dan Islam yang menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Hal tersebut tetap menjadi kebutuhan yang terasa, tapi sukar dipahami, dan terus menjadi tantangan utama bagi para tokoh reformis di masa kini.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here