Definisi Kebahagiaan dalam Al-Quran

1
687

BincangSyariah.Com – Dalam al-Mufradat fi Gharaib al-Qur’an (j. 1), Al-Raghib al-Ashfihani mengartikan kata Sa’id dalam Surat Hud Ayat 105 dengan “pertolongan kepada manusia terhadap perkara ketuhanan untuk memperoleh kebaikan.”

Dijelaskan pula bahwa kata sa’id yang berarti kebahagiaan adalah lawan dari kata syaqawah/syaqiyyun yang berarti sengsara sebagaimana firman Allah Quran Surah Hud [11]: 105 sebagai berikut,

 يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ

Yauma ya`ti lā takallamu nafsun illā bi`iżnih, fa min-hum syaqiyyuw wa sa’īd

“Dikala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.”

Tetapi, meskipun kata sa’id adalah terjemahan yang paling dekat dengan bahagia, kata falah, najat, dan najah adalah kata-kata dalam bahasa Arab yang serumpun dengan makna bahagia. Sebab saat orang mendapat keberuntungan, keselamatan dan kesuksesan, maka perasaannya sudah pasti akan bahagia.

Kata sa’adah bermakna nuansa anugerah dari Allah Swt. untuk manusia setelah terlebih dahulu mengarungi manusia dengan kesulitan. Sementara falah berarti menemukan apa yang dicari atau idrak al-bughyah.

Sedangkan najat adalah kebahagiaan yang dirasakan sebab telah atau merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan. Sebagai misal, saat menerima putusan bebas dari pidana, saat mendapat grasi besar dari presiden, atau saat seluruh keluarganya selamat dari gelombang tsunami dan lain sebagainya.

Terakhir, kata najah. Kata tersebut memiliki arti perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul padahal ia sudah merasa pesimis. Sebagai misal, keluarga miskin yang berhasil membuat sepuluh anaknya menjadi sarjana.

Nurcholish Madjid atau yang biasa disapa Cak Nur pernah menyatakan bahwa apabila kita membahas mengenai kebahagiaan, maka kita tidak bisa lepas dari kata kesengsaraan yang merupakan lawan kata dari kebahagiaan itu sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Surah Hud [11] – 105-108.

Baca Juga :  Apakah Pancasila Bertentangan dengan Ajaran Islam?

Menurut Cak Nur, ayat tersebut menjelaskan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan ruhani atau duniawi dan ukhrawi namun tetap membedakan keduanya.

Dalam Islam, seseorang dianjurkan untuk mengejar kebahagiaan di kala datang hari di saat tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (terjemahan ayat:105)

Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) adalah di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih) (ayat 106). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (ayat 107).

Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (108 di akhirat, namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (lihat QS. Al-Qashash: 77).

Dari tafsiran tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa untuk memperoleh kebahagiaan akhirat, manusia belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. Begitu juga sebaliknya, orang yang mengalami kebahagiaan di dunia belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Maka dari itu, Islam mendorong manusia agar mampu mengejar kedua bentuk kebahagiaan tersebut dan berusaha menghindar dari penderitaan azab baik lahir maupun batin.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here