Dasar Hukum Wakaf dalam Al-Quran dan Hadis

2
131

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih, pembahasan wakaf masuk dalam bab masalah-masalah muamalah. Tujuan wakaf tiada lain kecuali hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, wakaf temasuk bagian dari bentuk kebaikan dan ibadah yang dianjurkan dalam Islam, sebagaimana bentuk-bentuk kebaikan lainnya, seperti sedekah dan hibah.

Terdapat beberapa ayat Al-Quran yang dijadikan dasar pensyariatan wakaf. Dalam kitab Kifayatut Tanbih fi Syarh Al-Tanbih, Ibn Al-Rif’ah menyebutkan bahwa setidaknya ada dua ayat Al-Quran yang menjadi dasar hukum wakaf. Pertama adalah surah al-Hajj [22]: 77 sebagai berikut;

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hendaknya kalian mengerjakan kebaikan agar kalian beruntung.

Kedua adalah surah Ali ‘Imran [3]: 115;

وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَن يُكْفَرُوهُ

Dan kebaikan apa saja yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya.

Menurut Ibn Ar-Rif’ah, wakaf termasuk bagian dari khair atau kebaikan sehingga masuk dalam anjuran kedua ayat di atas.

Sementara dari hadis, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, setidaknya ada dua hadis yang dijadikan dasar hukum wakaf oleh para ulama. Pertama adalah hadis riwayat Imam Muslim dari Ibn Umar, dia berkata;

أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُبْتَاعُ وَلَا يُورَثُ وَلَا يُوهَبُ

Umar mendapatkan bagian tanah perkebunan di Khaibar, lalu dia datang kepada Nabi Saw dan meminta saran mengenai bagian tersebut. Dia berkata; Wahai Rasulullah, saya mendapat bagian tanah perkebunan di Khaibar, dan saya belum pernah mendapatkan harta yang sangat saya banggakan seperti kebun itu, maka apa yang anda perintahkan mengenai kebun tersebut? Nabi Saw menjawab; Jika kamu mau, peliharalah pohonnya dan sedekahkanlah hasilnya. Ibnu Umar berkata; Kemudian Umar mensedekahkannya, tidak dijual pohonnya dan hasilnya, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan.

Kedua adalah hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

Baca Juga :  Berpikir Maju ke Depan sebagai Bentuk Ketakwaan

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika manusia meninggal, maka amalnya terputus darinya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here