Dasar-dasar Fikih Muamalah dalam Islam

0
71

BincangSyariah.Com – Islam mengatur hubungan antar sesama manusia terkait transaksi dalam fikih muamalah. Fikih muamalah sendiri memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan yang lain yakni dalam hal kasus-kasus fikih di dalamnya.  Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi setiap muslim yang melakukan transaksi (bermuamalah) dalam kehidupan sehari-hari untuk mengetahui karakteristik-karakteristik tersebut.

Berikut ini karakteristik-karakteristik khusus fikih muamalah yang terdapat dalam kitab al-Muamalah al-Maliyah al-Mu’ashirah  fi Fiqh al-Islami karya Dr. Muhammad Utsman Tsabir :

Pertama, fikih muamalah dibangun atas dasar prinsip-prinsip (asas) yang bersifat umum.

Para ulama sepakat bahwa fikih muamalah dibangun atas dasar prinsip-prinsip umum dan universal, dimana fikih muamalah ini tidak terlalu masuk (mengurusi) hal-hal yang sifatnya lebih terperinci. Berikut ini contoh prinsip-prinsip umum yang dibangun dalam fikih muamalah :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

Artinya :

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu.” (Q.S an-Nisa ayat 29) (Baca: Hikmah Mengapa Riba Haram dalam Islam)

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟

Artinya :

Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (Q.S al-Baqarah ayat 275)

Kedua, pada dasarnya segala hal yang berkaitan dengan muamalah (transaksi) hukumnya adalah diperbolehkan.

Pada dasarnya (hukum asal) dalam hal ibadah adalah haram sampai ada dalil dari nash baik al-Qur’an maupun as-Sunnah yang membolehkannya. Hal ini dikarenakan supaya manusia tidak membuat-buat sesuatu yang tidak ada (baru) dalam agama tanpa ada dalil yang mendukungnya. Argumen ketidakbolehan membuat-buat dalam hal agama yaitu :

Baca Juga :  Sebelum Masuk Islam, Apakah Harus Mandi Dahulu?

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

“Barang siapa yang (memulai) membuat sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk bagiaan darinya, maka hal itu tertolak”  (Muttafaq alaih)

Berkebalikan dengan ibadah,  pada dasarnya (hukum asal) dalam muamalah adalah diperbolehkan sampai ada dalil yang tegas melarangya. Hal ini didukung oleh al-Qur’an maupun hadis nabi sebagai berikut:

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya :

Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (Q.S al-Jasiyah ayat 12-13)

Dalam ayat diatas, Allah menyebutkan nikmat-nikmatNya yang diperutukkan bagi hamba-hamba-Nya  baik yang ada di laut  maupun di darat supaya mereka (manusia) berusaha mencari karunia Allah melalui perdagangan dan usaha. (Tafsir Ibnu Katsir, jus 4  hal 148)

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ

“Orang-orang muslim tergantung syarat-syarat (kondisi) mereka.”  (Sahih Bukhari jus 3  hal 92)

Inti dari hadis ini ingin mengatakan bahwa apapun syarat atau aturan yang diajukan oleh orang muslim dalam berniaga maka harus diikuti selama tidak bertentangan dengan rel-rel syariat. (Faidh al-Qadir Syarh Bukhari, jus 4 hal 456)

Ketiga, fikih muamalah dibangun atas dasar memperhatikan alasan dibuatnya hukum serta menjaga kemaslahatan bersama.

Baca Juga :  Phubbing dalam Perspektif Islam

Jika dalam ibadah lebih dominan hukum yang dihasilkan adalah taabudi atau ghairu ma’qul al-ma’na artinya tidak bisa jangkau oleh akal (irrasional), maka dalam muamalah lebih cenderung kepada sifatnya ghairu tabbudi atau ma’qul al-ma’na artinya bisa dijangkau oleh akal (rasional). Argumen yang mendukung bahwa fikih muamalah cenderung bersifat rasional adalah penelitian. (al-Muwafaqat li as-Syatibi, jus 2 hal 298)

Contoh : diperbolehkannya akad salam (pesanan) karena besarnya kebutuhan manusia terhadap akad tersebut.

Keempat, fikih muamalah menggabungkan antara sifat yang tegas dan lentur.

Tidak dipungkiri bahwa sebagian hukum-hukum muamalah ada yang berubah disebabkan berubahnya illat (alasan) sebuah hukum dan juga maslahat. Namun ada juga sebagian yang hukumnya tetap tidak berubah seiring berubahnya situasi dan kondisi. Hal ini menunjukkan bahwa fikih muamalah itu memiliki karakteristik tegas sekaligus lembut. Wallahu a’lam

(Dr. Muhammad Utsman Tsabir, al-Mu’amalah al-Maliyah al-Muashirah fi al-Fiqh al-Islami, hal 18-22)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here