Dari Syarat sampai Penghalang Pembagian Harta Warisan

0
69

BincangSyariah.Com – Sebelum membagi harta peninggalan mayit, ada hak–hak yang perlu ditunaikan pada harta tersebut. Bila semuanya sudah terpenuhi, kemudian ada beberapa hal yang harus diketahui untuk membahas ilmu faroid lebih dalam lagi, yakni tentang syarat, sebab, rukun dan beberapa faktor penghalang seseorang untuk mendapatkan harta warisan.

Pertama, syarat–syarat warisan.

Syekh Abdul Fattah bin Husain dalam karyanya yang berjudul al–Maj’muatu ar-Rawiyah menjelaskan bahwasanya syarat seseorang untuk melakukan pewarisan ada tiga hal, yakni Nyata matinya mayit, nyata hidupnya ahli waris (orang yang mendapatkan warisan) dan mengetahui tata cara warisan.

Kedua, sebab–sebab warisan.

Imam al–Farodi Abi Abdillah Muhammad bin Ali ar–Rohbi menjelaskan akan sebab–sebab warisan melalui syiir berikut ini :

أَسْبَابُ مِيْرَثِ الوَرَى ثَلاَثَة  #  كُلٌ يُفِيْدُ رَبهُ الْوِرَاثَة

وَهْيَ نِكَاحٌ وَوِلاَءٌ وَنَسَب    #  مَابَعْدَهُن لِلْمَوَارِثِ سَبَاب

Sebab sebab warisan itu ada tiga dan itu sangat berfaidah kepada pemilikinya, yakni nikah, pemerdekaan budak, nasab.

Syekh Abdul Fattah bin Husain menjelaskan yang dimaksud dengan nikah adalah kerabat yang bersambung kepada ayah dan anak atau salah satu dari keduanya.

Sedang yang dimaksud dengan pemerdekaan budak ialah ketika seorang pemerdeka budak apabila budaknya meninggal dan meninggalkan harta yang layak untuk diwariskan, maka pemerdekan budak berhak mendapatkan harta warisan budak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam ilmu faroid. Dan yang dimaksud dengan nikah adalah akad pernikahan yang sah sekalipun antara pasangan suami–istri masih belum berhubungan badan.

Ketiga, Rukun–Rukun Warisan.

Masih didalam kitab yang sama, Rukun–rukun warisan ada tiga, yakni :

  1. Orang yang mewariskan harta atau mayit (muwarrits)
  2. Orang yang berhak menerima warisan disebabkan salah satu sebab yang telah dijelaskan barusan (warits)
  3. Harta yang akan diwariskan (mawruts)

Keempat, penghalang untuk mendapatkan warisan.

  1. Maka seorang budak tidak mendapatkan warisan sama sekali kecuali budak muba’adh. Meskipun ada sedikt khilaf oleh para ulama dalam permasalahan ini, pada konteks sekarang sistem perbudakan telah dihapus. Sehingga, ketentuan ini tidak berlaku untuk diterapkan di era seperti ini.
  2. Maka seorang pembunuh tidak mendapatkan harta warisan dari mayit yang telah ia bunuh. Ketentuan ini didasarkan pada hadits nabi Muhammad SAW. yang berbunyi,
Baca Juga :  Terkait Haikal Hassan Baras, Ini Hukum Mengucapkan Salam pada Non Muslim

ليس لِلْقَاتِلِ مِنَ الْمِرَاثِ شَيْئٌ

Tidak ada bagian warisan bagi pelaku pembunuhan. (HR. Al–Baihaqi)

  1. Berbeda Agama. Maka seorang muslim tidak bisa memberikan warisannya kepada orang kafir (non–muslim) dan begitu pula sebaliknya. Ketentuan ini didasarkan pad hadits nabi Muhammad SAW. yang berbunyi :

لَايَرِثُ الْمُسْلِمُ الكَافِرَ وَلاَالْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

Seorang muslim tidak dapat memberikan warisan kepada orang kafir dan orang kafir tidak dapat memberikan warisan kepada orang muslim. (HR. al-Bukhari).

Demikian sedikit ulasan tentang sebab, syarat, rukun dan penghalang dalam pembagian harta warisan. Setidaknya melalui artikel singkat ini, kita lebih mengenal ilmu warisan agar tidak terjerumus dalam sengketa pembagian harta warisan yang sangat rentan menimbulkan perpecahan.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here