Dari Kiai Afifuddin Muhajir Kita Mengenal Mudahnya Beragama

0
51

BincangSyariah.Com – Dr. (H.C.) KH. Afifuddin Muhajir, tersohor sebagai kiai yang sangat alim di bidang fikih dan ushul fikih. Murid kinasih Hadratus Syekh KHR. As’ad Syamsul Arifin ini, memulai pendidikannya dengan belajar di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai Strata I, di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII). Beliau juga menempuh gelar magister di Universitas Islam Malang (Unisma) dan resmi dikukuhkan oleh Universitas Islam Negeri Walisongo sebagai Doctor Honoris Causa di Bidang Fikih dan Ushul Fikih. Suatu pengakuan akademik yang setidaknya membuktikan bahwa jebolan pesantren juga tidak kalah hebat dengan para akademisi di luar pesantren.

Salah satu keutamaan kiai Afifuddin Muhajir sendiri terlihat ketika menyederhanakan persoalan-persoalan yang rumit sehingga menjadi sangat mudah. Beliau mengubah isu yang awalnya lekat dengan kesan rumit dan problematis, menjadi isu yang menyenangkan dan mudah untuk dipahami. Radikalisme, Isu ketatanegaraan, fikih politik dan Islam Nusantara, adalah beberapa isu yang mudah sekali dipahami ketika mendapatkan sentuhan uraian Kiai Afif. Siapa pun yang pernah mengaji dan menyimak penjelasan beliau, pasti merasakan itu semua.

Spirit dari memudahkan perkara rumit ini terlihat jelas pada salah satu kitab karangan beliau, Fathul Mujibil Qarib. Pada kitab ini, beliau mengubah pembahasan sulit menjadi pembahasan yang lebih mudah dicerna terutama bagi kalangan pemula. Dalam kitab ini beliau juga mengenstrak ukuran Arab yang sulit dipahami menjadi ukuran familiyar untuk rakyat Indonesia. Seperti dalam hal banyaknya air beliau mengubah 2 qulah menjadi 720 liter. Sebagaimana dalam redaksi berikut,

وهي تساوي مائتين وسبعين (270) لترا وقدرهما بالمساحة في مكان مربع ذراع وربع (=8،91 سم) طولا وعرضا وعمقا بالذراع المتوسط

Artinya, “Ukuran dua qulah memiliki volume setara dengan 270 liter. Ukuran keduanya (dua kulah) bila ditempatkan pada sebuah wadah persegi empat adalah wadah dengan panjang, lebar, dan kedalaman 1,25 hasta standar (atau setara dengan 91,8 cm).”

Sikap memudahkan ini tidak berarti menganggap enteng terhadap urusan agama. Beliau dikenal sebagai orang yang berhati-hati dalam urusan agama. Beliau lebih memilih sikap menjauhi perkara yang masih belum jelas status hukum halal dan haramnya karena khawatir jatuh terhadap keharaman. Salah satu potret kewiraian Kiai Afif yang disebutkan adalah keengganan memiliki rekening bank demi menghindarkan diri dari kesyubhatan bunga bank. Namun, beliau tidak menyalahkan orang lain yang memiliki bank dan bahkan bekerja di bank.

Beliau memang dikenal tidak mudah menyalahkan orang lain lebih-lebih jika berkaitan dengan persoalan furu’iyah. Sikap beliau ini didasarkan kepada dasar masail furu’iyah sangat identik dengan perbedaan pendapat (mukhtalaf ‘alaih). Dari mulai pendapat ulama salaf hingga ulama kontemporer, dapat ditemukan perbedaan pendapat. Orang yang sudah banyak hafal dan menguasai masail furu’iyah ini tentu tidak gampang menyalahkan orang yang berbeda pendapat dengannya.

Dalam suatu bahtsul masail yang penulis ikuti, pernah juga dibahas mengenai status pengguaan jilbab pada konteks zaman dahulu. Pada prakteknya, jilbab digunakan ala kadarnya sehingga menyebabkan terbukanya sebagian anggota tubuh seperti leher dan dahi. Dalam masalah ini, Kiai Afif selaku musohih kegiatan tersebut cendrung memilih pendapat yang berhati-hati meskipun ada sebagian kecil ulama yang membolehkan.

Dapat diketahui bahwa, manakala terdapat perbedaan pendapat hukum fikih, maka secara pribadi Kiai Afifuddin Muhajir akan lebih memilih pendapat yang meringankan. Namun, apabila dalam masalah tersebut muncul kesubhatan yang dapat menjatuhkan pada status haram, maka kiai cendrung memilih pendapat yang lebih berhati-hati.

Mengenai semangat mempermudah dalam urusan agama sebenarnya telah Allah tegaskan sendiri melalui firmannya dalam surat surah al-Baqarah ayat 185,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر

“Allah Swt. bermaksud memudahkan (dalam segala aturan-Nya) kepada kalian, bukan menyulitkan”.

Berkenaan dengan ayat ini, al-Imam al-Syaukani dalam kitab Fath al-Qadir juz 1, halaman 239 berkomentar bahwa yang dimaksudkan dengan kemudahan dalam ayat di atas adalah kemudahan di segala urusan agama. Hal ini mencakup terhadap segala aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt pada prinsipnya tidak ada yang memberatkan, melainkan memudahkan.

Nabi Muhammad Saw. juga pernah mengingatkan perihal ini kepada sahabat Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ketika mereka diutus ke Negeri Yaman untuk berdakwah. Beliau bersabda,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا

“Berdakwalah kalian berdua dengan cara memudahkan, bukan malah menyulitkan. Berilah kabar gembira (masyarakat Yaman), bukan malah membuat orang lari (menakut-nakuti)”. (Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari: 22, 103)

Segala kontribusi yang beliau capai baik dari taraf nasional sampai internasional tentunya tidak dimulai dari lahan kosong. Belajar dengan sungguh-sunguh merupakan salah satu syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan tersebut. Tak hanya disaat menjadi siswa, ketika sudah menjadi guru pun beliau pernah belajar semalaman untuk menyiapkan materi yang akan disampaikan.

Semoga kita bisa meniru sifat keuletan beliau, sehingga memperoleh ilmu yang membawa kemudahan dan ketenangan terhadap seluruh umat manusia. Demikian.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here