BincangSyariah.Com – Tradisi selamatan empat bulanan dan tujuh bulanan atas kehamilan merupakan suatu tradisi yang lumrah dilakukan orang Jawa. Biasanya, keluarga perempuan yang hamil tersebut menyediakan kupat (ketupat) dan lepet dalam acara selamatan tersebut.

Selain itu, mereka juga mendoakan calon jabang bayi dengan membaca surah-surah tertentu, seperti surah Yusuf, Maryam, Luqman, Arrahman, Alwaqi’ah, Almulk, Muhammad, Almuzammil dan Yasin. Simbol-simbol seperti kupat dan lepet memiliki arti tersendiri dalam ritual tersebut.

Kupat adalah akronim dari ngukuhaken perkara papat (mengukuhkan perkara empat), yaitu jodoh, rezeki, umur, dan nasib. Malaikat menentukan empat perkara tersebut di saat usia janin memasuki seratus dua puluh hari dalam kandungan ibunya. Sementara itu, kata lepet itu sendiri merupakan akronim dilep (disimpan) dan pet (rapat), jadi lepet memiliki arti ‘disimpan dengan rapat-rapat’.

Dua suguhan utama dalam selamatan empat bulanan wanita hamil ini merupakan doa agar jodoh, rezeki, umur, dan nasib calon bayi yang akan lahir nanti dijaga oleh malaikat karena doa orang-orang sekitarnya dan kelak ketika bayi itu dewasa akan mendapatkan yang terbaik.

Setelah selamatan empat bulanan, biasanya ada selamatan tujuh bulanan. Kali ini, ritual yang dilaksanakan oleh keluarga wanita yang sedang hamil itu berbeda dengan ritual empat bulanan. Biasanya, sahibulhajat menyediakan telur, minyak kelapa, dan kembang telon (tiga), yaitu cempaka, soka, dan melati, selain berkat untuk dibagi-bagikan ke masyarakat.

Ada cara tersendiri memperlakukan telur, minyak kelapa, dan kembang telon tadi dalam ritual tujuh bulanan. Pertama-tama, telur dimasukan dalam minyak kelapa yang sudah ditaruh dalam wadah, kemudian minyak kelapa tersebut dioleskan keseluruh telur. Selain itu, kembang telon juga ikut dicampurkan dalam wadah tersebut.

Telur itu menyimbolkan rahim ibu jabang bayi. Sementara itu, minyak kelapa adalah simbol dari ketuban yang nantinya akan menjadi pelumas untuk mempermudah proses persalinan.

Adapun kembang telon adalah simbol dari iman, Islam dan ihsan. Jadi ritual empat bulanan dan tujuh bulanan seperti di atas itu diharapkan menjadi doa untuk wanita hamil itu agar diberikan kemudahan dalam proses persalinan dan juga anak yang terlahir darinya akan memegang teguh iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupannya kelak.

Terkait budaya doa seperti di atas, almarhum Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub memiliki istilah tersendiri yaitu al-du’a bil rumuz, doa menggunakan simbol. Pendapat beliau ini didasarkan pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid al-Mazini yang melihat Rasulullah melakukan salat istisqa dan merubah posisi serbannya (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam beberapa syarah kitab Hadis, seperti syarah Muslim dan Fathul Bari, hikmah Nabi merubah posisi serban yang di atas kemudian menjadi di bawah adalah sebuah ilustrasi yang diharapkan akan merubah kondisi paceklik menjadi subur kembali karena Allah memberikan hujan setelah melaksanakan salat istisqa. Para ulama menyebutnya dengan tafaulan.

Dalam beberapa kesempatan pengaji di Pesantren Darus Sunnah yang dipimpinnya, Kiai alumni Tebuireng Jombang itu, sering menyampaikan kekeliruan orang-orang yang suka ‘berteriak-teriak’ membidahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya dan menyerukan kembali ke Alquran dan Hadis. Bisa jadi, mereka yang sering membidahkan itu hanya memahami Alquran dan Hadis Nabi melalui terjemahannya saja.

Padahal, terjemah-terjemah yang beredar di sekitar kita itu hanya untuk fasilitas mempermudah pemahaman saja, bukan untuk pegangan menyalahkan orang lain. Terkait fenomena ustaz yang sering membidahkan amaliah sesama Muslim, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, menduga bahwa bidah menurut ustaz-ustaz model di atas itu suatu ibadah yang mereka tidak ketahui dalilnya.

Jadi, semua amaliah ibadah yang tidak mereka ketahui dalilnya dalam Alquran maupun Hadis itulah bidah. Al-bid’atu ma lam yarifhu huwa, begitulah bahasa Arab yang Kiai Ali ungkapkan untuk ustaz-ustaz tersebut dalam salah satu pengajiannya di Darus Sunnah.

Oleh karena itu, semua tradisi doa yang menggunakan simbol-simbol seperti di atas diajarkan oleh Nabi dalam hadisnya. Selain itu, gagasan al-du’a bil rumuz Kiai Ali Mustafa Yaqub ini menitipkan pesan kepada kita bahwa berdakwah pada masyarakat hendaklah tidak mengabaikan nilai-nilai lokalitas masyarakat setempat. Apalagi dakwah kepada masyarakat awam dengan menggunakan simbolisasi doa seperti ini lebih mengena di hati masyarakat Jawa.

Apalagi, perintah dakwah seperti itu juga diakamodir Alquran yang tersirat dalam kata al-amr yang berkolokasi dengan al-‘urf atau al-ma’ruf. Di antara surah-surah itu adalah QS. Ala’raf; 157 dan 199, QS. Ali Imran; 104 dan 110, QS. Attaubah; 113 dan 114, QS. Alhaj; 41, QS. Luqman; 17. Al-‘urf sering digunakan dalam arti yang sama dengan al-‘adah.

Al-‘adah adalah suatu kebiasaan yang diterima oleh akal sehat masyarakat setempat dan tidak bertentangan dengan syariat. Karenanya, butuh kedewasaan memahami teks-teks agama agar lebih pas diterapkan di tengah-tengah masayarakat.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here