Dalil Ketidakbolehan Melumuri Kepala Bayi dengan Darah Kambing Akikah

0
33

BincangSyariah.Com – Di sebagian daerah, terdapat sebagian masyarakat yang masih menjalankan tradisi melumuri kepala bayi dengan darah kambing akikah. Dalam Islam, bagaimana hukum melumuri kepala dengan darah kambing akikah ini, apakah boleh?

Melumuri kepala bayi dengan darah kambing akikah tidak disyariatkan dalam Islam. Ketika bayi diakikahi, kepalanya dianjurkan untuk dilumuri dengan minyak wangi, bukan dengan darah kambing akikah.

Menurut para ulama, melumuri kepala bayi dengan darah akikah hukumnya makruh, sebaiknya tidak dilakukan. Selain karena darah kambing akikah tersebut bisa membawa penyakit pada bayi, juga karena darah tersebut hukumnya najis sehingga tidak disyariatkan untuk dilumurkan pada kepala bayi.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ – مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ – وَأَحْمَدُ وَالزُّهْرِيُّ وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَلَى كَرَاهَةِ تَلْطِيخِ رَأْسِ الصَّبِيِّ بِدَمِ

Ulama fiqih sepakat-Imam Malik dan Imam Syafii, Imam Ahmad, Al-Zuhri, dan Ibnu Al-Mundzir, bahwa makruh melumuri kepala bayi dengan darah akikah.

Selain itu, melumuri kepala bayi dengan darah akikah merupakan tradisi dan kebiasaan masyarakat masa Jahiliyyah sebelum sebelum Islam datang. Kemudian setelah Islam datang, kebiasaan melumurkan darah ini kemudian diganti dengan melumurkan air bunga kuma-kuma atau bunga pacar dan minyak wangi pada kepala bayi.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Buraidah berikut;

كُنَّا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا وُلِدَ ِلاَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَ لَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا، فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِاْلاِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَ نَحْلِقُ رَأْسَهُ وَ نَلْطَخُهُ بزَعْفَرَانٍ

Dahulu kami di masa Jahiliyah apabila salah seorang di antara kami mempunyai anak laki-laki, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing tersebut. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) rambut anak tersebut dan melumurinya dengan minyak wangi.

Dalam sebuah hadis riwayat Ibn Hibban, Nabi Saw menyuruh melumuri kepala bayi dengan minyak wangi, dan beliau melarang melumurkan darah akikah. Hadis dimaksud bersumber dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

Baca Juga :  Berkurban tapi Belum Akikah, Bolehkah?

كَانُوْا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا عَقُّوْا عَنِ الصَّبِيّ خَضَبُوْا قُطْنَةً بِدَمِ اْلعَقِيْقَةِ. فَاِذَا حَلَقُوْا رَأْسَ الصَّبِيّ وَضَعُوْهَا عَلَى رَأْسِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ اِجْعَلُوْا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوْقًا

Dahulu orang-orang pada masa Jahiliyah apabila mereka berakikah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah akikah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya. Maka Nabi Saw menyuruh mereka untuk mengganti darah tersebut seraya berata; Gantilah darah itu dengan minyak wangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here