Dalil Keharaman Menyontek

0
214

BincangSyariah.Com – Menyontek, dalam konteks melaksanakan ujian yang memang ditetapkan di awal untuk menguji tingkat pemahaman seorang murid, tentu tidak diperbolehkan. Tapi, adakah secara khusus dalam Islam dalil keharaman menyontek?

Syaikh ‘Ali Jum’ah, ulama besar asal Mesir pernah ditanya persoalan tersebut, yaitu apa pandangan agama mengenai upaya sebagian siswa untuk menyontek saat ujian? Diawali dengan gurauan, sebagian murid ada yang serampangan – dan tentu saja tidak benar – membenarkan mencontek bahkan bekerjasama dengan pengawas dengan dalil ayat Al-Quran “wa ta’aawanuu ‘ala al-birr wa at-taqwa” (dan tolong menolonglah (kalian) dalam kebaikan dan ketakwaan” Tentu ini tidak benar.

Beliau menjawab, jika ditanya adakah dalil keharaman mencontek, jawabannya dapat ditemukan dalam hadis riwayat al-Bukhari tentang kisah seorang perempuan yang menjadi istri yang memiliki istri lebih satu, dan mencoba untuk menunjukkan kepada istri-istri suaminya yang lain kalau ia lebih mendapatkan kebahagiaan meskipun sebenarnya tidak. Kisah ini diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhaa,

يا رسول الله إن لي ضرة فهل علي جناح إن تشبعت من زوجي غير الذي يعطيني، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور

“(perempuan itu mengatakan) wahai Rasulullah, sesungguhnya ada istri-istri lain dari suami saya, maka apakah saya berdosa jika saya menyatakan mendapatkan sesuatu dari suami saya meskipun sebenarnya ia tidak memberikan ? Rasulullah Saw. bersabda: “orang yang menunjukkan memiliki sesuatu yang tidak pernah diterima, sama seperti seolah memakai dua pakaian (padahal ia tidak memilikinya).”

Ada banyak penafsiran terhadap makna al-mutasyabbi’ tersebut. Imam An-Nawawi berpendapat maksudnya adalah “orang yang menunjukkan banyak memiliki sesuatu yang sebenarnya ia tidak memiliki. Tapi, ia menunjukkan ke orang-orang kalau ia memilikinya.” Ada juga yang mengkontekstualisasikannya dalam konteks kesalihan, yaitu berbusana seperti orang khusyuk, salih, zuhud, di hadapan orang-orang meski sebenarnya ia belum mencapai tingkat demikian.

Baca Juga :  Tips Menjadi Mukmin yang Bertauhid

Lalu kenapa sampai menggunakan redaksi tatsniyah (berjumlah dua) yaitu pada redaksi tsawbay az-zuur? Kata Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari, itu merupakan isyarat keras bahwa orang yang mengelabui dirinya sendiri itu sekaligus mendapatkan kerugian, rugi karena membohongi diri sendiri dan orang lain. Penggunaan redaksi “dua pakaian” ini juga bisa dimaknai secara literal, yaitu dua pakaian pengelabuan. Menurut Syaikh ‘Ali Jum’ah, merupakan bagian dari alam budaya masyarakat Arab di waktu itu dan masih berlanjut sampai sekarang adalah memakai baju dua rangkap atau lebih, untuk menunjukkan kemakmuran dan  wibawa seseorang. Dan, di masa lalu, ada juga orang yang mengelabui untuk terlihat makmur, dengan memberikan kain sambungan pada ujung lengannya sehingga terlihat memakai dua pakaian. Padahal itu hanya kain lengan yang disambung seolah seperti dua pakaian.

Dalam konteks orang yang mencontek, bisa dikatakan ia juga demikian. Ia mengelabui dirinya sendiri, seolah ia memahami apa yang sedang diujikan. Padahal kenyataannya tidak sama sekali atau sedikit saja. Lalu lewat mencontek, ia kemudian mendapatkan – seolah – keberuntungan yaitu pencapaian yang tinggi, meskipun ia sebenarnya hanya sedikit memahaminya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here