Dalil dan Hikmah Tidak Diperbolehkannya Poliandri

0
185

BincangSyariah.Com – Poliandri adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang wanita memiliki suami lebih dari satu orang dalam waktu bersamaan. Hampir setiap orang–khusunya muslimah–tentunya pernah mendengar, bahwa Islam secara tegas tidak membenarkan adanya praktik poliandri. Sehingga, pertanyaan menyangkut landasan dan alasan dicetuskannya hukum ketidakbolehan itu pun bisa kapan saja mengemuka.

Untuk dapat mengurai hukum tidak dilegalkannya praktik poliandri secara rinci, mari kita urutkan alur pembahasannya. Dimulai dari level dasar, yakni produk hukum itu sendiri, fikih. Yang mana persoalan ini dijelaskan oleh ulama, ketika membahas tentang rukun dan syarat nikah.

Disebutkan dalam kitab Fathul Mu’in Syarh Qurratil ‘Ain, rukun nikah itu ada lima, yaitu: calon laki-laki, calon perempuan, wali, dua saksi, dan shighat (ijab-qabul). Sebagaimana diketahui, bahwa apabila satu rukun saja dilanggar, maka akan menyebabkan tidak sahnya suatu amal.

Di setiap rukun ibadah, juga terdapat serangkaian syarat yang perlu untuk dipenuhi. Adapun salah satu syarat bagi perempuan yang akan dinikahi ialah harus terbebas dari ikatan pernikahan maupun telah menyelesaikan masa ‘iddah.

Pernyataan tersebut juga berdasar pada keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in,

وَ – شَرْطٌ (فِي الزَّوْجَةِ) أي الـمَنْكُوحَةِ (خُلُوٌّ مِنْ نِكَاحٍ وَعِدَّةِ) مَنْ غَيْرِهِ

“Syarat perempuan yang akan dinikahi adalah terbebas dari pernikahan dan (tidak sedang melaksanakan) ‘iddah dari laki-laki, yang selainnya (calon suami).”

Dari syarat ini saja sudah dapat diketahui, bahwa seorang perempuan tidak boleh menikah lagi apabila ia masih terikat pernikahan bersama laki-laki lain. Dalam artian, perempuan tidak diperbolehkan untuk memiliki suami lebih dari satu.

Maka dalam perspektif fikih, jelas tidak sah apabila perempuan menikah lagi, sedangkan dia masih dalam keadaan memiliki suami. Apabila dia menikah lagi, maka pernikahan yang kedua dan seterusnya tidak bisa dibenarkan.

Baca Juga :  Mungkinkah Melihat Allah dalam Mimpi?

Berdasarkan uraian di atas, juga dapat ditarik kesimpulan selanjutnya, yaitu seorang perempuan tidak diperkenankan untuk bersetubuh dengan lebih dari satu laki-laki. Meski–“seakan-akan”–sudah berada dalam ikatan perkawinan. Kalau menikahnya saja tidak boleh, bersetuhnya pun jelas tidak boleh.

Lantas, dari mana dasar dicetuskannya hukum di tersebut? Kesimpulan hukum di atas diperoleh dari firman Allah dalam surah An-Nisa’ [4]: 24,

وَٱلۡمُحۡصَنَـٰتُ مِنَ ٱلنِّسَاۤءِ إِلَّا مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۖ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ

Wal muhshonatu minan nisa’i illa ma malakat aimanukum, kitaballahi ‘alaikum.

“Dan (diharamkan juga atas kalian menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.” [Q.S. An-Nisa (4): 24]

Lafal “al-muhshanat” dalam surah An-Nisa’, secara bahasa memang artinya para perempuan yang terlindungi atau perempuan yang bersih (‘afifah). Maksudnya ialah perempuan yang terlindungi dari perbuatan zina. Akan tetapi makna yang dituju dari penggunaan redaksi “al-muhshanat” ialah perempuan yang telah–atau lebih tepatnya sedang–menjadi istri sah dari seorang laki-laki.

Pemahaman tersebut ini diperoleh dari uraian Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau, Tafsir Ibnu Katsir,

وَالـمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيمَانُكُمْ – أي وَحُرِّمَ عَلَيكُمْ مِنَ الأَجْنَبِيَّاتِ الـمُحْصَنَاتِ وَهُنَّ الـمُزَوِّجَاتُ…

“(Dan perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan yang kalian miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu). Yaitu, dan diharamkan atas kalian menikahi perempuan lain yang terlindungi–adapun mereka (al-muhshanat) adalah para perempuan yang berstatus sebagai istri–…”

Selain dari Al-Qur’an, juga terdapat hadis yang membahas tentang poliandri.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ زَوَّ‌َجَهَا وَلِيَانِ فَهِيَ لِلأَوَّلِ مِنْهُمَا.

“Siapa saja wanita yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka pernikahan yang sah bagi wanita itu adalah yang pertama dari keduanya.” (H.R. Ahmad)

Baca Juga :  Ulama-ulama Beristri Galak

Hadis di atas, secara tersurat memang seakan hanya menjelaskan bahwa apabila seorang perempuan dinikahkan oleh dua wali dengan lelaki berbeda, maka yang sah hanyalah pernikahan pertamanya. Tetapi secara tersirat juga menginformasikan bahwa seorang perempuan tidak boleh menikah atau dinikahkan lagi selama ia masih dalam status menjadi istri dari laki-laki yang menikahinya secara sah.

Kemudian, apa rahasia di balik larangan bagi perempuan untuk memiliki suami lebih dari satu?

Terdapat beberapa hikmah di balik larangan tersebut, sebagimana disebutkan dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu,

Pertama, apabila hal itu (poliandri) dilakukan, dikhawatirkan terjadi percampuran nasab. Sehingga berakibat tidak dapat diketahuinya siapa bapak dari anak yang dilahirkan. Berbeda halnya dengan poligami. Meski laki-laki memiliki beberapa istri, maka tidak akan membingungkan siapa ayah dan ibu dari anak tersebut. Karena hanya istrilah yang dapat melahirkan.

Kedua, jika nasabnya diragukan, maka dalam menentukan hak waris pun timbul keraguan. Hak waris yang seharusnya diturunkan kepada anak–karena tidak diketahui anak siapa–akan menjadi tersia-siakan, bahkan menjadi hilang. Padahal salah satu alasan disyariatkannya menikah menurut ulama ialah supaya dapat menurunkan warisan kepada anaknya. Bilamana tidak diketahui siapa anaknya, bagaimana bisa diketahui siapa yang berhak atas warisan orang tua.

Ketiga, rasa cemburu laki-laki lebih besar ketimbang rasa cemburu perempuan. Di samping itu, kecemburuan laki-laki pun dianggap lebih mudah meluap. Apabila hal itu terjadi, maka akan sangat sulit untuk menjalin kedamaian dan ketentraman dalam keluarga, khususnya di antara para suami.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here