Dalil Berbuat Baik kepada Tetangga dalam Al-Qur’an dan Hadis

0
9615

BincangSyariah.Com – Tetangga adalah orang yang dekat dengan kita dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Bahkan, ketika kita berada di daerah yang jauh dari keluarga, maka tetanggalah yang dapat kita andalkan. Baik untuk sekedar curhat, saling sapa, atau meminta pertolongan. Oleh sebab itu, maka sudah sepatutnya kita berbuat baik kepada mereka. Adapun dalil berbuat baik kepada tetangga di dalam Al-Qur’an dan hadis adalah sebagai berikut.

Al-Qur’an

Dalil berbuat baik kepada tetangga di dalam Al-Qur’an hanya tercantum dalam satu ayat, yakni Q.S. An-Nisa’: 36

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا.

Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S. An-Nisa: 36)

Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam kitab At-Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan tetangga dekat adalah orang yang dekat dengan kita baik secara tempat, nasab, atau agama. Sedangkan tetangga jauh adalah orang yang jauh tempat tinggalnya dengan kita atau orang yang tidak memiliki nasab dengan kita/bukan keluarga.

Hadisteta

Adapun dalil di dalam hadis Nabi saw. tentang berbuat baik dan tidak boleh menyakiti tetangga kita baik secara verbal maupun fisik sangat banyak sekali, diantaranya adalah,

  1. Berbuat baik kepada tetangga adalah wasiat Jibril kepada Nabi saw.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ. رواه البخاري.

Baca Juga :  Hakikat Persahabatan Menurut Islam

Dari Aisyah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Jibril terus mewasiatiku perihal tetangga. Hingga saya menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris. (H.R. Al-Bukhari)

  1. Dosa yang besar jika berzina dengan istri tetangga

 عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ. رواه البخاري.

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Nabi saw., “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?. Beliau menjawab, “Menjadikan Allah sekutu, padahal Dia yang menciptakanmu.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena engkau takut ia akan makan bersamamu.” Aku bertanya (lagi), “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” (H.R. Al-Bukhari)

  1. Salah satu tanda ketidak sempurnaan iman adalah membuat ketidaknyamanan kepada tetangga

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ. رواه البخاري.

Dari Syuraih, bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Demi Allah, tidak sempuran imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah saw. ditanya “Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” (H.R. Al-Bukhari)

  1. Balasan neraka bagi yang menyakiti tetangga dan surga bagi yang berbuat baik kepada tetangga.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَفِي لِسَانُهَا شَيْءٌ يُؤْذِي جِيرَانَهَا سَلِيطَةٌ قَالَ: لاَ خَيْرَ فِيهَا هِيَ فِي النَّارِ وَقِيلَ لَهُ: إِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِالأَثْوَارِ وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ وَلاَ تُؤْذِي أَحَدًا قَالَ: هِيَ فِي الْجَنَّةِ. رواه الحاكم.

Baca Juga :  Orang Indonesia Belajar Bahasa Arab, Buat Apa?

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah saw., Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang harinya. akan tetapi, ia sering mencela tetangganya.” Rasulullah saw. bersabda, “Ia tidak baik, ia masuk neraka.” Disebutkan kepada Rasulullah saw. bahwa fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bershadaqah hanya secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah saw. bersabda, “Ia masuk surga.” (H.R. Al-Hakim)

  1. Perintah berbagi makanan dengan tetangga yang kesusahan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لاَ يَشْبَعُ الرَّجُلُ دُونَ جَارِهِ. رواه أحمد

Dari Umar r.a.  dari Rasulullah saw. bersabda, “Jangan sampai seseorang kenyang sedang tetangganya kelaparan,” (H.R. Ahmad)

  1. Perintah melebihkan masakan untuk dibagikan kepada tetangga

عَنْ أبِيْ ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  يَا أبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ. رواه مسلم

Dari Abu Dzar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu memasak masakah yang berkuah maka banyakkanlah airnya. Lalu berilah tetangga-tetanggamu.” (H.R. Muslim)

  1. Perintah saling memberi hadiah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah r,a, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Wahai perempuan-perempuan muslimah, janganlah merendahkan hadiah kepada tetangga meskipun hanya tulang yang sedikit sekali dagingnya.” (H.R. Al-Bukhari)

  1. Salah satu tanda sempurnanya iman adalah memuliakan tetangga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Baca Juga :  Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Beraneka Musibah

Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah dalil perintah berbuat baik kepada tetangga di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Sandainya semua umat muslim mau mengamalkannya, maka insya Allah niscaya akan terbangun masyarakat yang harmonis dan penuh dengan kasih sayang. Betapa tidak, mereka akan saling menghargai dan mencintai satu dengan yang lainnya. Bahkan, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menerangkan di dalam kitab tafsirnya bahwa Islam mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga tidak hanya sesama muslim saja, tetapi juga kepada non muslim. Wa Allahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here