Dalam Menghadapi Wabah Corona, Kenapa Menjaga Jiwa Lebih Didahulukan dari Menjaga Agama?

1
1421

BincangSyariah.Com – Sejak merebaknya wabah Covid-19 di Indonesia awal Maret kemarin, pemerintah RI langsung mengambil beberapa kebijakan antisipasi dalam rangka memperlambat ataupun memutus siklus penyebarannya. Di antara langkah yang diambil dalam menghadapi wabah corona adalah mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah, menghindari keramaian, serta anjuran bekerja dan beribadah di rumah terlebih dahulu. Hal serupa juga didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dengan mengeluarkan fatwa kebolehan untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid terlebih dahulu selama masa wabah dan mengganti shalat Jumat dengan shalat Zuhur pada daerah-daerah yang dianggap rawan terjadinya penularan virus.

Berbagai tanggapan dan respon pun bermunculan, ada yang positif dan tidak sedikit juga yang negatif serta menganggap bahwa imbauan pemerintah serta fatwa MUI tersebut merupakan upaya menjauhkan umat Islam dari masjid dan ajaran agama mereka. Menurut mereka, bagaimana mungkin agama yang merupakan tujuan utama kehidupan manusia dinomorduakan daripada wabah yang notabenenya hanyalah makhluk yang sama bahkan lebih kecil dari manusia. Mereka justru bersikeras untuk tetap melaksanakan shalat berjamaah dan shalat Jumat secara beramai-ramai di masjid. Muncul pertanyaan, kenapa para ulama itu seolah-olah mendahulukan kepentingan nyawa manusia daripada ajaran baku agama? (Baca: Peniadaan Shalat Jumat di Tengah Wabah Virus Corona Tinjauan Maqasid asy-Syari‘ah)

Sebagaimana yang dimaklumi bahwa nyawa merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kita manusia. Dengan adanya nyawa, kita bisa beribadah kepada Allah Swt. Dengan adanya nyawa kita bisa bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Bahkan dengan adanya nyawa kita bisa belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Artinya nyawa merupakan modal yang Allah berikan kepada manusia untuk mereka gunakan dalam mengisi lembaran kehidupan mereka. Bisa dibayangkan ketika nyawa sudah Allah Swt cabut dari tubuh kita, maka tiada lagi kesempatan bagi kita untuk mengisinya dengan amal, pekerjaan, ataupun aktivitas positif lainnya. Kesimpulannya nyawa adalah segala-galanya untuk manusia.

Baca Juga :  Himbauan Ulama agar Perlakukan Jenazah Corona dengan Hormat

Begitu juga dengan agama, khususnya agama Islam. Allah Swt menurunkannya kepada manusia dengan perantaraan Nabi dan Rasul-Nya untuk menjadi pedoman kehidupan mereka. Melalui agama, Allah dan Rasul-Nya ingin manusia menggunakan kesempatan hidup yang telah Ia berikan dengan sebaik dan semaksimal mungkin untuk kebaikan. Sehingga bisa disimpulkan di sini bahwa peran agama lebih kepada pengisi dan pengatur kehidupan manusia. Ibarat sebuah smartphone yang kita gunakan sehari-hari, agama merupakan sistem aplikasi atau software yang mengatur jalannya sebuah smartphone. Tanpa adanya software ini, sebagus apapun sebuah smartphone, maka tidak akan berguna sama sekali kecuali hanya sebagai pajangan semata.

Nah salah satu dari prinsip agama yang Allah turunkan adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Islam sangat menjaga nyawa manusia dan memerintahkan mereka agar memeliharanya dengan sebaik mungkin. Oleh sebab itulah Islam mengharamkan segala hal yang dapat menghilangkan nyawa atau melukai diri itu sendiri, seperti membunuh orang lain dengan alasan yang tidak dibenarkan, menyakiti anggota tubuh orang lain, dan bahkan membunuh diri sendiri. Seiring dengan itu, Islam juga memberikan beberapa keringanan untuk manusia agar mendahulukan kemaslahatan nyawa mereka terlebih dahulu daripada melaksanakan hukum agama itu sendiri pada saat-saat tertentu yang sangat darurat dan mendesak.

Sebagai contoh kongkritnya adalah agama membolehkan seseorang yang sedang diancam bunuh ketika ia tidak mau mengucapkan kata-kata kufur misalnya, untuk mengucapkannya namun hatinya tetap meyakini kebenaran Islam. Hal ini sebagaimana yang pernah dialami oleh Sahabat Ammar ibn Yasir ketika ia diancam bunuh oleh Kafir Quraisy kalau ia tidak keluar dari agama Islam. Akhirnya Allah menurunkan ayat ke-106 dari Surah al-Nahl yang berisi kebolehan berbohong untuk menyalamatkan nyawa. Begitu juga di saat terdesak tidak memiliki bahan makanan sama sekali, sedangkan di hadapannya hanya ada makanan-makanan haram yang dilarang agama. Maka dalam hal ini, dalam rangka menjaga nyawa, Allah mengizinkan kita untuk memakan makanan yang haram tersebut sebagaimana yang tersebut dalam surah Al-Baqarah: 173.

Baca Juga :  Hukum Mengebiri Hewan Ternak

Begitu juga dalam sebuah hadis Hasan yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang bersumber dari sahabat Jabir dan Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah marah kepada para sahabat yang “memaksa” sahabat lainnya untuk menggunakan air untuk melakukan mandi junub, padahal sahabat tersebut mengalami luka berat di kepalanya yang akhirnya menyebabkan ia meninggal dunia. Saking murkanya, Rasulullah menganggap sahabat yang memerintahkan tadi telah membunuh saudaranya. Ia berfatwa tanpa ilmu yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Rasulullah Saw menyindir di akhir hadis tersebut dengan menyebutkan, “Kenapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, sesungguhnya obat dari ketidaktahuan itu adalah dengan bertanya”.

Semua contoh yang kami sebutkan di atas adalah contoh kasus di mana menjaga jiwa lebih diutamakan dari menjalankan aturan baku agama. Fakta-fakta di atas juga merupakan bukti nyata bahwa Islam tidak sekaku yang dibayangkan oleh sebagian orang. Islam memberikan kemudahan-kemudahan dalam beragama, apalagi hal itu berkaitan dengan nyawa (hifz al-nafs) dalam situasi dan kondisi tertentu yang memang dibutuhkan. Termasuk ke dalamnya peniadaan shalat Jum’at dan shalat fardhu berjamaah di masjid pada saat wabah corona mengancam keselamatan jiwa. Seseorang muslim dibenarkan untuk mengganti shalat Jum’at dengan shalat Zuhur di rumah jika ia khawatir akan tertular atau menularkannya kepada orang lain. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here