Dalam 19 Fatwa Imam Syafi’i; Qaul Qadim Lebih Al-Ashoh (Kuat) Dibanding Qaul Jadid

0
19

BincangSyariah.Com –  Para ulama berpendapat antara qaul jadid dan qaul qadim, maka qaul jadid lebih  al-ashoh (kuat) diikuti dari pada qaul jadid. Tetapi ada pengecualian, tercatat Dalam 19 Fatwa Imam Syafi’i; Qaul Qadim Lebih Al-Ashoh (Kuat) Dibanding Qaul Jadid.

Pengertian Qoul Qadim dan Qaul Jadid

Dalam menetapkan suatu hukum, Imam Syafi’i berbeda pendapat antara qaul qadim dan qaul jadid, lantas mana yang harus diikuti?Pernahkah Anda mendengar qaul qadim dan qaul Jadid? Apa itu qaul qadim? Dan apa yang dimaksud qaul jadid? Bagi orang yang membaca dan mendalami kajian hukum Islam, terutama yang mengkaji Fiqih  Imam Syafi’I,  pasti akrab dengan istilah itu—qaul qadim dan qaul jadid.

Nah, kedua istilah di atas merujuk kepada fatwa Imam Syafi’I terhadap suatu hukum. Pengertian singkatnya sebagai berikut;  qaul qadim adalah pendapat Imam Syafi’I saat beliau masih berada di Iraq.  Pendapat itu bisa berupa fatwa atau tulisan beliau. Sedangkan yang dimaksud dengan Qaul jadid adalah pendapat Imam Syafi’i ketika menetap di Mesir.

Kemudian timbul persoalan, Imam syafi’i terkadang dalam  menentukan satu masalah hukum  terjadi perbedaan pendapat antara qaul qadim dan qaul jadid. Contoh kasusnya; Saat Imam Syafi’i berada di Bagdad beliau berpendapat, bahwa ketika salat membaca surah rakaat ketiga dan keempat hukumnya tidak disunatkan. Tetapi ketika beliau pindah dari Bagdad ke Mesir fatwa itu pun berubah. Jadi hukumnya disunatkan membaca suroh pada rakaat ketiga dan keempat bagi orang yang salat secara sendiri (munfarid atau berjamaah).

Timbul pertanyaan, mana yang kita ikuti? Jawabannya, pendapat yang paling ashoh (kuat)  adalah qaul jadid.

Ada 19 Fatwa Imam Syafi’i yang Dikecualikan

Namun ternyata ada pengecualian, para ulama berpendapat tak selamanya qaul jadid itu lebih al-ashoh (kuat). Justru  pada beberapa masalah hukum,  pendapat Imam Syafi’i ketika di Bagdad (qaul qadim) lebih kuat dan kita dianjurkan untuk mengikutinya.

Para ulama telah merilis 19 fatwa Imam Syafi’i qaul qadim lebih al-ashoh (kuat) diikuti dari pada qaul jadid. Pendek kata; qaul qadim lebih al-ashoh  dari pada qaul jadid pada 19 masalah hukum.

Keterangan demikian dihimpun oleh As-Syekh KH. Mahmuddin Pasaribu, Ustadz Pondok Pesantren Musthafawiyah, yang juga merupakan Rois Syuriah PWNU Sumatera Utara. Ada pun kitab yang menjadi rujukan Ketua MUI Mandailing Natal ini adalah al-Majmu Syarah al Muhazzah  karya Imam Nawawi, Bugyatul Murtarsidin karya Sayyid Abdur Rahman Ba’lawi, dan kitab Al-Mugni al Muhtaj, karya Khatib As-Syarbani

  1. Air mengalir—sedikit atau pun banyak—tidak bernajis, selama tidak berubah warna, bau, dan rasanya.
  2. Bersentuh dengan mahram tidak batal wuduk
  3. Haram memakan kulit yang disamak
  4. Tidak wajib menghindari najis pada air yang banyak—air yang lebih dari dua kullah.
  5. Istinja dengan batu boleh, walaupun najis yang keluar sudah melampui batas tempat keluar yang wajar.
  6. Seseorang yang melaksanakan salat tanpa pembatas—satir baik itu pembatasnya tongkat atau sajadah, maka disunatkan membuat garsi di depannya.
  7. Dianjurkanseorang makmum (peserta salat jamaah) pada saat melaksanakan salat zahar—salat nyaring; Magrib, subuh, dan Isya—  mengucapkan “amin” setelah membaca suroh Al-fatiha dengan suara kuat.
  8. Haram memakan kulit yang disamak
  9. Seseorang boleh berniat mengikuti Imam pada salat berjamaah , tidak mesti di awal salat
  10. Boleh hukumnya melaksanakan tahallul (memotong rambut) dari Ihram haji atau umroh disebabkan sakit
  11. Wajib had (dihukum) seorang tuan yang menyetubi (berhubungan badan) budaknya, bila hamba tersebut statusnya sebagai mahram si tuan tadi.
  12. Mahar seorang istri yang belum diserahkan oleh suami kalau hilang atau rusak, maka suami berkewajiban menggantinya.
  13. Zakat Rikaz(barang temuan/barang galian) tidak memiliki haul
  14. Makruh memotong kuku seorang jenazah
  15. Wali mayit (keluarga orang yang sudah meninggal) boleh hukumnya mengqadha (mengganti) puasa orang yang wafat tersebut.
  16. Pada salat si empat rakaat (misalnya; Isya, atau zuhur), tidak disunatkan membaca ayat pada rakaat ketiga dan ke empat. Begitu pula pada salat si tiga rakaat ( misalnya salat magrib), maka tidak disunatkan juga membaca ayat pada rakaat ketiganya.
  17. Hukumnya sunat membaca assolatu khoirun minan naum (اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ) pada saat azan untuk salat subuh.
  18. Waktu salat magrib berkesinambungan sampai lenyap mega atau senja merah.
  19. Boleh hukumnya memaksa teman kongsi untuk membuat dinding pembatas saat keduanya berkongsi membangun sebuah rumah.

Demikianlah keterangaan tentang Dalam 19 Fatwa Imam Syafi’i; Qaul Qadim Lebih Al-Ashoh (Kuat) Dibanding Qaul Jadid

(Baca:Kisah Imam As-Syafii Hijrah untuk Mengejar Cita-citanya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here