Dai Tak Pak Paham Alquran dan Hadis, Bolehkah Berdakwah?

1
1218

BincangSyariah.Com – Karena maraknya golongan-golongan yang tidak sepaham dengan akidah yang kita ikuti, banyak orang-orang kita ikut terpanggil untuk membentengi akidah para umat, semisal dengan cara berdakwah.

Para pendakwah (dai) kemudian kesana-kemari dengan mengutarakan dalil-dalil dari Alquran dan Hadis. Namun kenyataannya masih sangat banyak dari dai-dai yang terkesan masih pas-pasan, sehingga penjabaran dari dalil-dalil yang disampaikan seringkali tidak sama dengan apa yang dicamtumkan dalam tafsirnya. Bahkan masih banyak juga para pendai yang langsung menjabarkan ayat Alquran tersebut dengan hanya melihat terjemahannya, tidak melihat dari tafsir-tafsir Alquran tersebut.

Harus diakui pula, sebetulnya di antara mereka ada yang paham dengan kejanggalan tersebut, namun karena terbentur situasi dan kondisi, akhirnya mereka menyampaikan dalil-dalil tersebut dengan tanpa melihat tafsirnya terlebih dahulu. Ada juga sebgaian dari mereka yang berdalih: “Yang penting kan cocok dengan terjemahan Alquran tersebut”.

Yang harus kita cermati di sini adalah bahwa bagi orang yang belum taraf mujtahid tidak boleh memahami apalagi menjabarkan Alquran maupun Hadis tanpa merujuk pada tafsiran para ulama. Maka tidak boleh seorang dai hanya berbekal ayat Alquran ataupun Hadis yang ada terjemahannya disampaikan dan dijabarkan dengan menyesuaikan keterbatasan pemahamannya. Bahkan para ulama mengatakan bahwa dai yang semacam itu boleh dihukum oleh pemerintah.

Ada sebuah pertanyaan yang cukup membuat terkekeh yang tercatat dalam kitab kodifikasi fatwa Imam Ibn Hajar Al-Haitami yang berjudul Al-Fatawa Al-Hadisiyyah (jili1 halaman 162) yang berbunyi demikian:

وَسُئِلَ نَفَعَنَا الله بِهِ : عَنْ شَخْصٍ يَعِظُ الْمُسْلِمِيْنَ بِتَفْسِيْرِ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيْثِ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ عِلْمَ الصَّرْفِ وَوَجْهَ الْإِعْرَابِ مِنْ عِلْمِ النَّحْوِ وَلَا وَجْهَ اللُّغَةِ وَلَا عِلْمَ الْمَعَانِي وَالْبَيَانِ ، هَلْ يَجُوْزُ لَهُ الْوَعْظُ بِهِمَا أَوْ لَا ؟ وَإِنْ وَعَظَ بِذَلِكَ بِرَأْيِهِ فَهَلْ عَلَيْهِ حَدٌّ مَضْبُوْطٌ أَوْ تَعْزِيْرٌ أَوْ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ ؟ وَهَلْ يَجُوْزُ لَهُ الْوَعْظُ بِغَيْرِ إِذْنِ الْحَاكِمِ أَوْ يُعَلَّقُ إِذْنُهُ عَلَيْهِ وَإِذَا مَنَعَهُ عَنْهُ فَوَعَظَ ، فَهَلْ عَلَيْهِ التَّعْزِيْرُ وَإِنْ قُلْتُمْ يَنْبَغِيْ التَّعْزِيْرُ فَمَا حَدُّهُ ؟

Baca Juga :  Meluruskan Pemahaman tentang Masjid Dhirar

“Beliau ditanya tentang oarng yang suka ceramah memakai tafsir alquran ataupun hadis tapi dia tidak bisa tashrif, tidak paham ilmu nahwu, ilmu bahsa arab, dan ilmu balaghah. Bolehkah dia berceramah dengan hal tersebut? Kalau dia hanya menjabarkan hanya dengan sepemahaman dia saja, apakah dia berhak dihukum? Atau bolehkah pemerintah mencekal dai yang semacam itu?”

Dalam menjawab pertanyaan ini, Syaikh Ibn Hajar Al-Haitami berfatwa berikut terjemah singkatnya:

إِنْ كَانَ وَعْظُهُ بِآيَاتِ التَّرْغِيْبِ وَالتَّرْهِيْبِ وَنَحْوِهِمَا وَبِالْأَحَادِيْثِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِذَلِكَ وَفَسَّرَ ذَلِكَ بِمَا قَالَهُ الْأَئِمَّةُ جَازَ لَهُ ذَلِكَ ، وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ مِنْ عِلْمِ النَّحْوِ وَغَيْرِهِ، لِأَنَّهُ نَاقِلٌ لِكَلاَمِ الْعُلَمَاءِ وَالنَّاقِلُ كَلاَمَهُمْ إِلَى النَّاسِ لَا يُشْتَرَطُ فِيْهِ إلَّا الْعَدَالَةُ ، وَأَنْ لَا يَتَصَرَّفَ فِيْهِ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيِهِ وَفَهْمِهِ ، وَأَمَّا إِذَا كَانَ يَتَصَرَّفُ فِيْهِ بِرَأْيِهِ أَوْ فَهْمِهِ وَلَا أَهْلِيَّةَ فِيْهِ لِذَلِكَ بِأَنْ لَمْ يُتْقِنْ الْعُلُوْمَ الْمُتَعَلِّقَةَ بِذَلِكَ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَى أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَوُلاَتِهِمْ وَكُلِّ مَنْ لَهُ قُدْرَةٌ مَنْعُهُ مِنْ ذَلِكَ وَزَجْرُهُ عَنِ الْخَوْضِ فِيْهِ، فَإِنْ لَمْ يَمْتَنِعْ رُفِعَ إِلَى بَعْضِ قُضَاةِ الْمُسْلِمِيْنَ لِيُعَزِّرَهُ التَّعْزِيْرَ الشَّدِيْدَ الْبَالِغَ الزّاجِرَ لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ مِنَ الْجُهَّالِ عَنِ الْخَوْضِ فِي مِثْل هَذِه الْأُمُوْرِ الصَّعْبَةِ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الْمَفَاسِدِ وَالْقَبَائِحِ الْكَثِيْرَةِ وَالشَّنِيْعَةِ.

“Jika ia berceramah menggunakan Al-Quran dan Hadis sesuai dengan tafsiran yang tertera pada kitab-kitab para ulama maka boleh. Dan dia tidak boleh memahami Alquran dan Hadis menurut sepaham dia saja. Jika dia tetap melakukannya padahal dia tidak memiliki kapsaitas keilmuan yang memadai, maka pemerintah atau semua pihak yang mampu wajib mencekal dai tersebut. Jika masih tidak mau berhenti juga, maka dai tersebut boleh dipidanakan. Itu semua disebabkan jika orang bodoh ikut campur dalam ranah agama yang itu adalah hal rumit, maka dampak buruk yang akan timbul akan sangat fatal.”

Maka dari itu, marilah kita senantiasa memilah dan memilih dari mana ilmu yang kita dapat. Sesuai dengan maqolah “sungguh ilmu itu bagaikan sebuah agama, maka seleksilah terlebih dahulu sebelum kamu ambil.” Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here