Curhat Ujian Hidup pada Orang Lain, Apa Tanda Tidak Sabar?

0
1844

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan yang kita jalani memang tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian. Ujian tersebut bukanlah sebagai pelemahan terhadap jiwa kita, namun merupakan sebuah sarana untuk meraih predikat yang lebih tinggi. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah [2]: 155,

ولنبلونكم بشيئ من الخوف والجوع ونقص من الاموال والانفس والثمرت وبشر الصبرين

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar”.

Ayat ini menjadi pedoman saat kita ditimpa musibah atau ujian. Ayat ini mengajak kita
untuk bersabar ketika ditimpa musibah atau cobaan. Bukan mengeluh atau marah-marah,
namun mengembalikannya lagi kepada Allah Swt. Sungguh kenikmatan yang tiada tara
bagi mereka yang bisa bersabar dalam menghadapi ujian.

Sabar bukan hanya terpaku pada mereka yang ditimpa musibah. Sabar itu bersifat umum.
Sabar dalam menjalankan ibadah atau sabar dalam memerangi hawa nafsu. Dalam Tafsir
At-Thabari disebutkan,

والصبر صبران: صبر عن معصية الله، فهذا مجاهد، وصبر على طاعة الله، فهذا عابد. فإذا صبر عن معصية الله
وصبر على طاعة الله أورثه الله الرضا بقضائه، وعلامة الرضا سكون القلب بما ورد على النفس من المكروهات
والمحبوبات.

Sabar itu terbagi dua, yaitu (1) sabar untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah (para
mujahid). (2) Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah (Ahli Ibadah). Ketika dua
bentuk kesabaran ini kita miliki, maka Allah Swt. akan memberikan sifat lapang dada
(rida) kepada kita. Ciri-cirinya bahwa kita sudah rida adalah tenangnya hati saat
terbesit dalam jiwa tentang perkara yang dibenci dan disenangi.

Ketika kita bisa bersabar, maka selanjutnya akan menjadi hamba yang menerima atau
rida terhadap takdir dari Allah Swt. Entah hal itu pahit atau manis dalam pandangan kita.
Kita mengadukannya kepada Allah dengan memohon keluasan hati dalam menerima ujian dari-Nya. Bukan malah mengeluh atau ngomel-ngomel pada orang tua, teman, atau
curhat ke media sosial tentang musibah yang diterimanya.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Menangisnya Orang-Orang Shalih

Lantas bagaimana jika kita curhat atau cerita kepada orang terdekat dengan tujuan minta
sumbangan pendapat? Apakah bisa menghilangkan kategori sabar dalam menerima
ujian? Mengenai hal tersebut, Ustadz Abu Ali menjawabnya dalam Tafsir At-Thabari
ketika mengomentari tentang batas sabar. Menurutnya sabar itu adalah,

الصبر حده ألا تعترض على التقدير، فأما إظهار البلوى على غير وجه الشكوى فلا ينافي الصبر، قال الله تعالى في
قصة أيوب: إِنَّا وَجَدْناهُ صابِراً نِعْمَ الْعَبْدُ «3» مع ما أخبر عنه أنه قال: مَسَّنِيَ الضُّرُّ

Batasan sabar adalah tidak menyalahkan takdir yang menimpa dirinya. Bukan berarti
ketika menampakkan ujian pada orang lain dapat menghilangkan kesabaran kecuali
dibarengi dengan rasa mengeluh. (Ustadz Abu Ai mengatakan)Allah Swt. berfirman
tetang cerita Nabi Ayyub”Kami menemukannya (Ayyub)seorang yang penyabar. Dialah
sebaik-baik hamba”, beserta Allah mengabarkan tentang Nabi Ayyub bahwa beliau
berkata “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit”.

Artinya curhat tentang problematika hidup pada orang terdekat, misalkan orang tua, guru,
teman, atau media dengan tanpa menampakkan keluhan, maka itu sah-saja dan tidak
mengurangi rasa sabar yang dimiliki. Allah Ta’ala A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here